FYI.

This story is over 5 years old.

kesehatan

Behel Disebut Kurang Baik Buat Kesehatan Gigi dan Gusi

Waduh, padahal udah terlanjur nabung kawat di gigi biar senyum indah gemilang....
Foto ilustrasi behel oleh Olga Miltsova/Getty Images

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Pas kuliah, ketika ditanya soal tipe perempuan idamannya, teman saya Charlie menjawab, "yang penting giginya rapi." Pacar Charlie pernah mengenakan kawat gigi selama dua tahun—kadang dobel, atas dan bawah. Ketika behelnya dicopot, dia ketakutan melihat bercak kuning di antara gigi. Ahli ortodontiknya menyarankan penggunaan strip pemutih gigi. Ketika akhirnya mulai kuliah, Charlie jatuh cinta dengan sang pacar yang memiliki senyum indah.

Iklan

Masalahnya, gusi sang pacar mulai rusak. Inilah harga yang harus dibayar demi gigi yang indah: sekitar 400.000 warga Amerika mengalami erosi gusi dan kerusakan gusi akibat mengenakan kawat gigi setiap tahunnya.

Penyakit gusi meningkatkan risiko kita terkena penyakit sistemik macam penyakit jantung, pneumonia, kanker pankreas, dan diabetes. Dalam kasus yang lebih akut, penyakit gusi dapat menyebabkan gigi rontok.

Namun kalau kamu menanyakan dokter gigi dan ahli ortodontik perihal hubungan antara mengenakan kawat dan rusaknya gusi, "kamu akan mendapatkan jawaban yang berbeda-beda, tergantung siapa yang ditanya," kata Kelly Blodgett, seorang dokter gigi dari Portland, Oregon.

Beberapa menganggap resiko gusi rusak sebagai masalah serius. Joseph Nemeth, seorang periodonti dari Southfield, Michigan, mengatakan banyak ortodontis meminta pasien mereka menandatangani surat perjanjian medis yang menyatakan pasien sadar akan adanya resiko terkait kesehatan gusi. Banyak juga yang "tidak menyadari efek jangka panjang dari perawatan ortodontik," jelas Blodgett. "Mereka belum pernah melihat pasien berumur 40 hingga 90 tahun seperti saya soalnya."

Saya pertama kali sadar akan korelasi ini ketika sedang berbaring di kursi periodontis di suburban Denver, sekitar satu dekade setelah kawat gigi saya dilepas. Bulan lalu, saya menjalani operasi cantum gusi, dimana periodontis saya memotong jaringan dari atap mulut dan memindahkannya ke gusi rawan di bawah gigi depan bawah. Operasi tersebut menghabiskan $2500 (Rp33 juta) dan saya hanya boleh minum milkshake untuk sarapan.

Iklan

Buruknya kebersihan adalah alasan utama nyaris separuh orang dewasa di bawah 30 tahun memiliki penyakit gusi. Pendeknya, plak dan karang gigi meningkatkan bakteria mulut, membuat gusi meradang dan mudah terinfeksi. Mengenakan kawat gigi membuat proses membersihkan mulut semakit sulit dilakukan.Ini akan berdampak dalam jangka panjang, jauh melebihi durasi pendek perawatan ortodontik.

Gusi juga bisa rusak akibat pergerakan gigi. Pergerakan yang spesifik, seperti perataan gigi menggunakan behel, atau penggeseran gigi taring dapat merusak gusi. Kawat gigi bekerja serupa dengan tradisi mengikat kaki di Cina, jelas Blodgett, dimana gigi dipaksa mengikuti arah kawat yang sudah dibentuk. "Sepanjang proses pemakaian kawat, anda memberi tekanan keras terhadap tulang—dan tentunya, terhadap gusi—yang sesungguhnya tidak dimaksudkan secara genetik." Tekanan konstan terhadap gigi dapat menyebabkan peradangan, tulang keropos, dan gusi rusak.

Tentu saja, sesuai penjelasan dokter gigi langganan saya, Franc Vanderven, kawat gigi dapat membereskan masalah gigi menumpuk, yang akhirnya membantu proses pembersihan gigi. Tapi banyak praktisi tidak setuju dalam hal ini. Nemeth, misalnya, tidak yakin bahwa merapikan gigi dapat secara signifikan meningkatkan kesehatan mulut. Kecuali penumpukan gigi tingkatnya parah dan dapat mempengaruhi kemampuan seseorang membersihkan mulut. "Alasan utama dibalik ortodontia bersifat kosmetik," jelasnya. Lucunya, tidak banyak penelitian empiris yang bisa membantu menjawab perdebatan ini.

Iklan

Metal dari kawat juga dapat berkontribusi merusak gusi. Beberapa penelitian telah menggarisbawahi adanya risiko kawat metal secara negatif mempengaruhi akumulasi bakteria dan kesehatan gusi. Peneliti dari Ohio State University juga menemukan bahwa pasien dengan tindikan di bibir memiliki 41 persen kecenderungan lebih tinggi untuk terkena penyakit gusi dan kerusakannya bisa dua kali lebih fatal. Bahan metal yang digunakan mungkin menjelaskan kenapa kesehatan gusi selalu memburuk setelah pasien mengenakan kawat gigi metal tradisional dibanding Invisalign.

Penyakit gusi dan resesi juga bergantung pada genetik dan anatomi pasien. "Beberapa orang beruntung memiliki jaringan gusi tebal," jelas Nemeth ke saya. Banyak orang memiliki jaringan gusi yang lebih tipis dan beresiko terkena resesi gusi. Kawat gigi dapat memicu atau mempercepat keadaan genetik ini.

Nemeth membandingkan kondisi genetik jaringan gusi dengan sistem kekebalan tubuh. Apabila seseorang yang mengidap pilek akut masuk ke ruangan, orang lain dalam ruangan akan memiliki tingkat resiko yang berbeda-beda ketularan. Beberapa tidak akan kena, beberapa kena pilek ringan, dan beberapa akan tertular habis-habisan. Sama seperti ini, banyak orang "tahan terhadap organisme yang menyebabkan penyakit gusi." Sayangnya, banyak juga yang tidak.

Jadi apabila anda berpikir memasang kawat gigi bagi diri sendiri atau anak anda, carilah ortodontis yang bijaksana memeriksa kesehatan gusi kalian sebelum mulai melakukan apapun. "Ortodontis yang baik tidak hanya peduli tentang estetika tapi juga fungsi," jelas Vanderven. Mereka juga harusnya bekerja sama dengan dokter gigi dan periodontis untuk menjaga kesehatan gusi. Kadang bahkan pasien akan menjalani operasi gusi secara preemptif.

Blodgett juga menyarakan pasien menunda memakai behel, sampai gigi, gusi dan mulut pasien berkembang sepenuhnya—kadang ini tidak terjadi hingga umur pertengahan 20-an. menurutnya "tidak ada keuntungan medis dari pemasangan kawat gigi sejak usia dini." Daripada pemakaian kawat gigi menjadi semacam tradisi remaja tanggung, Blodgett punya saran yang lebih bijaksana buat kalian. "Kita harus lebih sabar menunggu."