Kisah Hidup Maikel Slomp Gembong Narkoba asal Belanda tenar di internet setara Pablo Escobar
Tangkapan layar dari wawancara Zoom Maikel Slomp.
Narkoba

Aku Kaya Raya Saat Jadi Gembong Narkoba Online, Lalu Semuanya Hancur Lebur

Inilah kisah hidup Maikel Slomp yang sering dijuluki Pablo Escobar-nya bisnis narkoba di Internet. Dia sempat aman dari jeratan hukum Belanda, tapi akhirnya jadi buronan FBI.
Tim Fraanje
Amsterdam, NL
9.4.21

Programer asal Belanda, Cornelis Jan “Maikel” Slomp, sempat menjadi jutawan di usianya yang baru 22 tahun.

Pada 2012, dia mulai mengedarkan MDMA dan obatan-obatan lain di situs dark web yang sudah tidak aktif, Silk Road. Dia hanya menerima pembayaran dalam bentuk Bitcoin. Berkat kesuksesannya mengelola SuperTrips, dia mendapat julukan “Pablo Escobar-nya Silk Road”. Bisnisnya selama 15 bulan berjalan lancar hingga tiba-tiba dia ditangkap agen FBI dan dijebloskan ke penjara Amerika Serikat dengan hukuman 10 tahun. Silk Road ditutup di tahun yang sama.

Iklan

Slomp menerima pembebasan awal belum lama ini. Dia sempat masuk ICU karena positif Covid-19, tapi sudah sembuh total sekarang. Lelaki itu kini tinggal di rumah orang tuanya di kota Woerden, terletak sekitar 40 km di selatan Amsterdam.

Dia setuju untuk menceritakan kisahnya kepada VICE.

Hidupnya bagaikan sebuah film, dan dia sudah berulang kali masuk layar kaca. “Saya terkenal jahat. Saya tidak masalah dengan reputasi itu selama bisa menghasilkan uang,” tandasnya. Pada 2017, dia berperan sebagai protagonis dalam film Silk Road yang ditayangkan oleh lembaga penyiaran publik Belanda NPO. Pengacara Slomp menuntut stasiun televisi itu karena menggambarkannya secara negatif.

Ironisnya, acara NPO-lah yang mengilhami Slomp terjun ke bisnis narkoba. “Saya tahu tentang Silk Road dari episode Spuiten en Slikken (secara harfiah berarti Menyemprot dan Menelan),” dia mengingat kembali talk show kontroversial tentang narkoba dan seks yang tayang di televisi Belanda sepanjang 2005-2018. Episode itu mengupas tuntas cara kerja Silk Road dan metode transaksinya yang menggunakan Bitcoin.

“Saya kepengin beli MDMA, tapi tidak ada yang jual. Saya akhirnya jadi jualan di sana,” katanya. “Saya tidak suka alkohol dan rokok, tapi saya pikir semua orang harus mencoba ekstasi. Semua mengalir begitu saja sejak itu.”

Iklan

Belanda termasuk negara penghasil MDMA terbesar di dunia. Itu berarti Slomp bisa membelinya dengan harga relatif murah, lalu menjualnya dengan harga lebih tinggi secara online. Banyak pembelinya datang dari luar negeri. “Saya beli casing DVD dalam jumlah besar dan memasukkan narkoba yang disegel vakum ke dalamnya,” terang Slomp. Dia lalu membungkus casing DVD dengan amplop untuk dikirim ke negara lain.

Jualan narkoba hanyalah usaha sampingannya saat itu. Dia baru menjalaninya penuh waktu setelah menghasilkan €15.000 (Rp260 juta) di bulan pertama. Slomp cuma bilang punya perusahaan perangkat lunak yang sukses setiap ditanya apa pekerjaannya dan kenapa uangnya banyak sekali. Padahal, dia sudah keluar dari pekerjaannya sebagai programer. Menurut Slomp, dia menggunakan uangnya untuk membeli “beberapa mobil saja”, seperti Bentley, dua Audi dan satu Mercedes Benz. Alhasil dia menjadi pusat perhatian tetangga.

Dia mengumpulkan 380.000 Bitcoin, setara €3 juta (Rp52 miliar), pada 2013. Berkas perkara menunjukkan, dia telah menjual MDMA seberat 104 kilogram, pil ekstasi sebanyak 566.000 butir, kokain seberat empat kilogram, dan “sejumlah besar” amfetamin, LSD, ganja, ketamin dan Xanax.

Iklan

Slomp kerepotan mengurus bisnis yang tidak pernah sepi permintaan. “Saya memutuskan pensiun karena stres,” ujarnya. “Saya bekerja 16 jam sehari, meski sudah punya karyawan.” Dia terlambat melakukannya — FBI sudah mencium gelagat mencurigakan dan tengah menyelidiki kasusnya. Mereka menemukan sidik jari Slomp di casing DVD. Dia awalnya tak tahu-menahu soal ini, dan tidak menaruh curiga sama sekali ketika ada yang tertarik mengambil alih akunnya. Dia terbang ke AS untuk menandatangani kesepakatan, tapi malah dijemput polisi setibanya di bandara.

Slomp pernah diinterogasi kepolisian Belanda atas kepemilikan narkoba, tapi tidak dituntut apa pun. “Saya merasa tak terkalahkan,” tuturnya. Meski pernah diamankan aparat saat berpesta, dia hanya sebentar mendekam di penjara. 

“Mereka bisa saja menggeledah rumahku, tapi nyatanya tidak melakukan apa-apa,” dia melanjutkan. “Saya sampai berpikir polisi Belanda amatiran.” 

Dia telah menghasilkan banyak uang dengan mengedarkan narkoba, tapi hidupnya tetap aman sentosa. Tak pernah terbayangkan oleh Slomp akan dihukum atas perbuatannya. Kalaupun ketangkap, paling dia hanya akan menjalani hukuman satu atau dua tahun penjara di Belanda. “[Sistem hukum] Amerika gila banget,” katanya sambil mengumpat. Dia dijatuhi hukuman 40 tahun penjara, tapi mendapat pengurangan setelah menyerahkan simpanan Bitcoin-nya. Orang sering memberi tahu Slomp nilai Bitcoin sudah miliaran, tapi dia lebih mementingkan kebebasannya. “Apa gunanya memiliki ratusan juta euro tapi kalian dipenjara?”

Ross Ulbricht, warga negara AS yang mendirikan Silk Road, mendapat hukuman yang jauh lebih berat. Dia divonis dua hukuman seumur hidup dan 40 tahun penjara. “Hukumannya lebih lama daripada El Chapo,” ucapnya. 

Iklan

Slomp sejujurnya kaget diperlakukan bak pahlawan. Polisi dan jaksa agung bahkan berulang kali mengutarakan kekaguman mereka kepadanya. “Tak ada satu pun yang menganggap perbuatanku buruk,” dia mengklaim.

Terlepas dari statusnya, masa tahanan Slomp sama sekali tidak mudah. Dia sering dipindah dari satu penjara ke penjara lain, sering kali tanpa pemberitahuan apa-apa. Untuk mengurangi kepadatan penjara, narapidana AS kerap dikirim ke penjara umum dan swasta di negara bagian lain tanpa peringatan sebelumnya. Mereka terpaksa beradaptasi dengan lingkungan baru dan sistem yang berbeda. Slomp mengaku pernah masuk sel isolasi selama empat bulan hanya karena menyelundupkan lensa kontak. Dia membutuhkan benda itu supaya bisa melihat dengan jelas.

Setelah sekian lama terkurung di balik jeruji, Slomp tak merasa ada yang salah dari perbuatannya. “Akan selalu ada orang yang memakai narkoba. Tapi di Silk Road, mereka tahu produknya berkualitas. Saya sudah mencoba semuanya,” kata Slomp. Layaknya marketplace online lain, pengguna Silk Road dapat meninggalkan ulasan pada akun penjual.

Slomp tidak punya rencana kembali ke bisnis lamanya setelah bebas. “Semua orang sudah tahu siapa saya,” tegasnya. “Misalkan saya kerja di kantor dan menjadi programer lagi, perusahaan akan menemukan tindakan kriminal saya ketika mencari nama di Google.”

Dia kini memilih untuk meniti karier sebagai konsultan penjara guna membantu napi AS melewati sistem yang kacau.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Netherlands.