Covering Climate Now

Muntahan Paus Sperma Dijuluki 'Emas Mengambang', Bisa Laku Rp449 Juta Per Kg

Nelayan di Thailand tak sengaja menemukan benda besar mirip batu, diyakini merupakan muntahan paus alias ambergris yang diminati orang kaya berbagai negara.
KE
oleh Koh Ewe
SG
15.12.20
paus berenang di laut
Foto ilustrasi: VALERY HACHE, AFP 

Suatu hari, Narit Suwansang sedang menyusuri pantai di provinsi Nakhon Si Thammarat, Thailand, ketika menemukan benda mirip batu besar. Sang nelayan membawanya pulang dengan bantuan kerabat. Namun, bongkahan itu tampaknya bukan batu biasa, melainkan muntahan paus yang sangat mahal harganya.

Surat kabar Thailand Thai Rath melansir pakar menduga bongkahan itu adalah ambergris, sebuah kotoran yang keluar dari perut paus sperma. Siapa sangka penemuan tak disengaja ini bisa bikin Narit kaya mendadak.

Iklan

Menurut pengakuannya, seorang pengusaha dari Phuket berani bayar 960.000 Baht (Rp449 juta) per kilogram jika benda tersebut beneran ambergris Grade A. Apabila beratnya 100 kilogram, itu berarti dia bisa meraup 96 juta Baht atau setara Rp44 miliar untuk satu bongkah.

Kalian pasti penasaran kenapa muntahan paus bisa sangat bernilai, kan?

“Ambergris adalah zat yang dikeluarkan dari sistem pencernaan paus sperma,” Chua Aik Hwee Marcus, kurator Museum Sejarah Alam Lee Kong Chian di Singapura, memberi tahu VICE. Kotoran ini diyakini berupa tumpukan mangsa yang tidak dapat dicerna dan baru akan “dikeluarkan ke laut ketika pausnya mati”. Materi ini biasanya paruh atau cangkang makhluk laut seperti cumi-cumi dan sotong yang dimakan oleh paus sperma.

Para pakar menyampaikan berbagai pendapat tentang proses dikeluarkannya ambergris dari perut paus sperma. Beberapa mengatakan paus memuntahkannya dari mulut, sedangkan lainnya percaya ambergris keluar melalui usus paus. Namun, mereka semua sepakat muntahan paus sperma jauh lebih berharga daripada emas.

Pada peradaban kuno, ambergris sering dimanfaatkan sebagai dupa dan obat. Sedangkan di zaman modern, muntahan paus kerap dijadikan parfum karena memiliki aroma “woody” atau “musky” yang khas.

“Ambergris sangat langka, dan kemungkinan paus sperma mengeluarkannya hanya satu persen,” tutur Chua.

Ini bukan pertama kalinya orang menemukan “emas mengambang” — sebutan lain dari ambergris—di pantai. Tahun lalu, nelayan di Thailand selatan menemukan ambergris seberat 6,5 kilogram yang bernilai sekitar $470.000 (Rp6,6 miliar).

Paus sperma berstatus hewan yang dilindungi, sehingga negara-negara seperti India, Australia dan Amerika Serikat melarang perdagangan ambergris. Meski ada aturan begitu, kotoran paus terus menjadi incaran kolektor di seluruh dunia.