Penyiksaan Binatang

'Sarimin Tak Lagi ke Pasar Karena Disiksa': Fakta Pahit Topeng Monyet di Indonesia

Video viral topeng monyet menyeret balita di Surabaya memicu kehebohan netizen mancanegara. Orang asing tak tahu bila atraksi topeng monyet termasuk penyiksaan binatang.
11.5.20
Viral monyet seret balita di surabaya bukti atraksi topeng monyet siksa binatang
Monyet mengendarai motor di atraksi topeng monyet. Foto via Getty Images.

Pekan lalu, sebuah video dari Indonesia viral di berbagai negara, menjadi bahan analisis hingga topik guyonan netizen. Popularitas video ini baru bisa surut setelah bintang pop Adele yang mendadak kembali lagi ke Instagram setelah empat bulan menghilang dan tahu-tahu jadi kurus.

Video yang dimaksud adalah rekaman sepanjang 15 detik seekor monyet mengendarai sepeda kecil menyerupai motor, berhenti mendadak, lantas segera menyeret seorang balita yang duduk di pinggir jalanan gang sempit. Kepala balita itu beberapa kali terbentur aspal. Pengunggah video pertama kali adalah akun @ndorobeii di Instagram. Peristiwa yang belakangan terungkap lokasinya di Tanjungsari, Kota Surabaya pada 2 Mei lalu, selanjutnya tersebar ke berbagai platform medsos, dari Instagram, Twitter, hingga Facebook.

Iklan

Pemicu viralnya video ini di mancanegara, terutama setelah aktor Amerika Serikat Mehcad Brooks mengunggah video tersebut ke akun IG-nya, sembari menambahkan caption lelucon. Doi bercanda kalau monyet itu mungkin dari masa depan dan hendak menghabisi si bocah yang kelak jadi tiran.

Saking viralnya video monyet menyeret balita ini, satu postingan repost di Twitter sampai ditonton lebih dari 32 juta kali. Ada analisis soal kenapa ada monyet bisa mengendarai sepeda (bule tampaknya ga ngerti tradisi topeng monyet), spekulasi doi evolusi monyet cerdas seperti di skenario fiksi ilmiah, sampai meme reinkarnasi mojo jojo, didiskusikan panjang lebar di forum Reddit khusus konten viral macam r/whatcouldgowrong dan r/awfuleverything.
Saking liarnya spekulasi dan guyonan netizen mancanegara, ada yang menyebar hoax kalau monyet tersebut dilatih sindikat perdagangan organ manusia dan memang targetnya khusus menculik anak-anak.

Si balita kata tetangga kondisinya baik-baik saja, namun mengalami trauma psikologis. Beberapa netizen di Tanah Air berbagi pesan moral, bahwa peristiwa ini pertanda agar warga berhati-hati saat menyaksikan topeng monyet dari dekat. Pesan ini kurang tepat. Sebab ada satu hal yang terlupakan dari berbagai diskusi tersebut, yakni hiburan tradisional melibatkan monyet terlatih sebetulnya bermasalah sejak awal.

Setelah menyadari isu monyet menyeret balita ini viral di berbagai diskusi dan lelucon netizen berbahasa Inggris, warganet Indonesia ikut berkomentar, kalau pemahaman banyak orang keliru. Bukan cuma bocah itu yang berada dalam bahaya, monyetnya pun sama menderitanya karena dia korban praktik penyiksaan demi hiburan. Ingat, monyet di atraksi kayak gini tidak berkeliaran sendiri lho, doi diikat rantai besi.

Iklan

Topeng monyet adalah akrobat binatang tradisional, yang sejarah kemunculannya ditengarai mulai marak di Pulau Jawa menjelang akhir Abad 19. Saking tuanya hiburan ini, anak-anak di Indonesia pasti familiar mendengar guyonan "Sarimin pergi ke pasar."

Ada harga yang tanpa sadar harus kita dibayar tiap kali menertawakan monyet yang mengenakan topeng boneka berlenggak-lenggok di jalanan membawa payung atau naik sepeda. Monyet yang menyeret balita di Surabaya itu kabarnya langsung dipukul dengan palu oleh tiga majikan yang mengajaknya keliling. Namun, jangan lupa, andai pertunjukan sukses sekalipun, monyet-monyet tersebut tetap disiksa.

Lebih dari satu dekade lalu, organisasi penyayang binatang Jakarta Animal Aid Network (JAAN) menggelar investigasi mendalam soal praktik topeng monyet di Ibu Kota. Kesimpulan mereka, manusia yang mengggelar topeng monyet biasanya menculik kera jenis makaka di usia kurang dari dua bulan dari alam liar atau membelinya dari jaringan penjual satwa, kemudian disiksa agar patuh (bahkan dalam beberapa kasus sampai dibikin cacat).

Mereka dikandangkan dengan makanan seadanya, serta dipaksa berlatih trik lebih dari satu bulan. Agar tidak membahayakan bila menyerang pelatih, mayoritas kera tadi dikikir giginya, yang membuat mereka kesulitan makan di usia tua.

Atas desakan aktivis penyayang binatang, pemerintah DKI Jakarta pada 2013 melarang sepenuhnya praktik topeng monyet. Pemprov pun menganggap atraksi ini berbahaya, karena berisiko menyebarkan virus menular. Beberapa pengusaha atraksi topeng monyet lantas diberi kompensasi oleh pemprov DKI, agar menyerahkan binatang mereka ke aparat. Sebagian lainnya, yang enggan berganti profesi, pindah ke kota lain. Seperti kita lihat, pelaku atraksi macam ini masih berkeliaran di Surabaya, kendati provinsi Jatim resminya telah melarang topeng monyet sejak Mei 2018.

Iklan

JAAN sejak 2013 sampai sekarang berhasil merehabilitasi 220 monyet yang dulu dipaksa atraksi, sebagian dilepasliarkan kembali ke habitat asli mereka. Namun masih ada kera yang berada dalam naungan JAAN untuk operasi hingga perawatan lanjutan, lantaran mereka "sudah terlampau trauma secara mental maupun fisik" akibat perlakuan pemilik sebelumnya.

Salah satu co-founder JAAN, Femke den Haas, menyatakan larangan topeng monyet sudah berlaku di DKI, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Praktiknya, masih ada saja orang yang berkeliling mengamen mengandalkan monyet terlatih.

"Pemerintah Indonesia seharusnya bisa bertindak lebih tegas dengan langsung menyita binatang-binatang itu dari pemiliknya, sayangnya ini belum terjadi," kata Femke kepada VICE. "Bila penyitaan terjadi, kami siap dilibatkan untuk menampung binatang itu ke rehabilitasi. Sejauh ini, masih ada 67 kera bekas topeng monyet yang dirawat sukarelawan JAAN."

Video viral itu, menurut Femke, patut disesalkan karena menandakan pemerintah belum serius menjalankan aturannya sendiri untuk melindungi binatang. Dia menilai, baik balita itu maupun si monyet tidak bisa disalahkan. Yang harus disorot adalah si pelatih topeng monyet dan keseriusan aparat pemerintah. "Monyet secara alami memang akan menyerang siapapun di dekatnya, ketika dia marah atau frustrasi," ujarnya. "Insiden seperti [dalam video viral itu] sebenarnya bisa dihindarkan, andai larangan pemerintah Jatim benar-benar diimplementasikan."

Jadi, ingat-ingatlah satu hal ini tiap kali kalian terhibur melihat Sarimin pergi ke pasar: Sebelum berangkat ke pasar demi membuat kalian tertawa, Sarimin lebih dulu harus menjalani siksaan tak berkesudahan. Jangan biarkan "sarimin-sarimin" lainnya tetap pergi ke pasar.