Generasi Milenial Sedang Rutin Dibully Gen Z di Medsos

Sindiran mereka ngena banget sih. Terutama obsesi berlebihan millenial sama Harry Potter dan nostalgia 90'an. Apakah tren serupa akan mampir ke Indonesia?
18.6.20
geng cewek dari serial Girls
Foto: HBO, Mark Schafer

Baby boomer sering menyalah-nyalahkan kaum milenial. Generasiku enggak akan punya rumah karena kami pemalas, lemah dan sensitif. Andai saja milenial enggak suka menghambur-hamburkan uang untuk es kopi, mungkin bisa beli rumah sendiri!

Sindiran semacam ini enggak mempan buat kami. Baby boomer sangat membosankan dan hampir merusak planet (karena enggak percaya pemanasan global), jadi omongan mereka enggak ada artinya. Rasanya lebih sakit ketika Gen Z yang menyindir.

Pertama-tama, kalian semua harus tahu generasi enggak beneran ada dan dibentuk murni untuk kepentingan pemasaran. Strategi ini berhasil memperdaya orang. Mereka percaya segmen populasi bisa dibeda-bedakan tergantung kelahiran mereka. Dalam dunia marketing, generasi milenial digambarkan sebagai orang-orang yang lahir antara 1981-1996, sedangkan Gen Z lahir antara 1997-2012.

Akhir pekan lalu, pengguna Twitter @local__celeb menemukan sebuah utas yang isinya anak-anak Gen Z mencemooh generasi milenial di TikTok. Mereka berani banget.

Mereka mengolok-olok kecintaan milenial akan amer dan kuis Buzzfeed, serta ketidakmampuan kami menjalani tugas orang dewasa. “Mereka [milenial] lebih peduli masuk House Harry Potter mana padahal mereka masih ngekos,” komentar netizen. “Kalian mengkhawatirkan rumah yang salah.” Dalam tangkapan layar, seseorang mengejek generasi milenial yang menamai anak seperti karakter video game.

Sakit sih disindir anak-anak, tapi mereka ada benarnya juga. (Aku Slytherin dan bisa nyewa apartemen kok!) Harus diakui budaya milenial kental akan nostalgia, dan kami punya alasan kuat kenapa bisa begitu.

Kami terlahir saat perekonomian memburuk. Aku masuk kuliah saat krisis finansial, dan situasinya enggak juga membaik setelah aku lulus. Jadi enggak heran kalau kami terus mengenang masa kecil dan enggak siap menjadi orang dewasa.

Generasi milenial tergolong santai. Aku mau bilang generasi lebih muda enggak memahami seberapa sulit hidup kami, tapi nanti sama saja seperti Baby Boomer yang merasa hidupnya serba susah dulu.

Aku pun sadar hidup Gen Z sama-sama sulitnya. Mereka enggak bisa sekolah dan terjebak di dalam rumah karena pandemi. Seenggaknya aku masih lebih beruntung dari mereka.

Semua perubahan yang terjadi saat ini memang bukan sepenuhnya kesalahan kami, tapi Gen Z akan menghadapi dunia yang sangat buruk. Namun, kaum milenial wajib mengakui kesalahan yang telah diperbuat. Kalau enggak, kami akan berakhir seperti orang tua yang membosankan dan kuper. Pasti kalian enggak mau jadi kayak begitu, kan?

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US