Sains

Inilah Alasan Ilmiah Kita Sering Ngidam Junk Food Saat Kecapekan

Salahkan otak jika kalian melihat aku asyik makan gorengan setelah kurang tidur.
29.2.20
Orang menyodorkan pizza
Ilustrasi via Getty Images

Aku terakhir kali makan cinnamon roll sewaktu nunggu pesawat pukul 6 pagi. Nyawaku belum ngumpul ketika menunjukkan tiket ke petugas bandara, dan mataku baru melebar setelah mencium aroma sedap toko roti. Kalau diingat-ingat lagi, aku sedang jetlag waktu itu, dan impulsif beli cinnamon roll banyak banget.

Perbuatan ini rupanya umum terjadi. Dalam studi yang diterbitkan Fakultas Kedokteran Feinberg Universitas Northwestern, peneliti menemukan otak lebih peka terhadap bau makanan ketika kita kurang tidur. Mereka membuktikan hipotesisnya dengan mengamati aktivitas otak peserta setelah dua malam menjalani pola tidur berbeda.

Iklan

Science News menyebutkan para peserta sebagian kurang tidur, secara berkala terganggu pada malam hari, dan cuma tidur empat jam. Keesokan harinya, mereka diminta menilai “intensitas” aroma makanan manis dan gurih tinggi kalori, seperti kentang goreng dan cinnamon roll. Mereka juga disuruh menilai bau produk selain makanan, seperti aroma pohon cemara. Peneliti mengukur aktivitas di bagian otak tertentu dengan Functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI) di saat peserta mengendus aroma. Tesnya kembali dilakukan beberapa minggu kemudian, tapi kali ini mereka diizinkan tidur selama delapan jam.

“Dalam menanggapi aroma makanan, aktivitas otak di dua area yang terlibat dalam penciuman—korteks piriform dan orbitofrontal—lebih besar ketika mereka lelah daripada saat cukup istirahat,” penulis Surabhi Bhutani memberi tahu Science News. “Tidak ada lonjakan respons ketika bebauan yang dicium bukan makanan.”

Dari sini, peneliti jadi lebih memahami kenapa kurang tidur dapat memengaruhi berat badan. “Belum diketahui seperti apa mekanisme saraf yang mendasari peningkatan ketergantungan tidur pada nafsu makan dan asupan makanan,” bunyi penelitiannya.

Mereka hanyalah satu dari sekian kelompok peneliti yang ingin mengurai hubungan antara kelelahan dan kegemukan. Pada 2013, sekelompok psikolog dari Universitas California, Berkeley, mempelajari hubungan antara kurang tidur dan ngidam makanan berkalori tinggi. Temuan mereka menunjukkan orang yang kurang tidur cenderung kepingin makan makanan tidak sehat. PubMed pernah menerbitkan beberapa studi serupa dengan judul provokatif seperti “Acute sleep deprivation enhances the brain's response to hedonic food stimuli” dan “Acute sleep deprivation increases portion size and affects food choice in young men”.

Jadi, aku cuma punya dua pilihan sekarang. Jangan naik pesawat di pagi buta atau mengikuti nafsu sesaat. Salahkan otakku jika kalian melihat aku asyik makan gorengan setelah kurang tidur.

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES