Panduan Obyektif Supaya Kalian Jatuh Cinta Pada Chelsea
Sepakbola

Panduan Obyektif Supaya Kalian Jatuh Cinta Pada Chelsea

Seri 'panduan obyektif' menjelaskan alasan orang bisa menyukai satu klub sepakbola. Penjelasan penting bagi pembenci Chelsea yang baru saja menjuarai Premier League 2016/2017.
18.5.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports.

Julukan: The Blues, The Pensioners

Ringkasan Singkat: Klub London Barat yang baru saja menang Premier League, pemainnya kumpulan fashionista, didukung suporter yang lebih mirip tengkorak hidup.

Fans dari kalangan Pesohor: Phil Daniels, Richard Attenborough (deceased), Johnny Vaughan, Suggs, Damon Albarn, John Major, Jeremy Clarkson.


Ada semacam pemikiran menganggap sepakbola—terutama sepakbola Inggris—sebagai bentuk ritual kesengsaraan. Anda mengikuti klub lokal favorit di pertandingan kandang dan tandang, melewati hujan dan jalanan yang macet. Sebelum pertandingan, anda menghabiskan waktu di pub, minum bir yang kadang warna dan temperaturnya gak beda jauh dengan warna kencing. Makannya pun gak enak. Bleh. Untuk menumpuk kesengsaraan, tim anda ternyata sampah, entah para pemainnya digaji kegedean dan bermain tanpa motivasi atau digaji terlalu kecil dan skillnya pas-pasan. Terus senengnya di mana? Anda terus melakukan rutinitas ini karena anda merasa ini kewajiban: mendukung tim favorit lewat masa senang dan susah, dari Plymouth hingga Carlisle, hingga akhirnya kematian atau likuidasi tiba. Ini adalah bentuk gairah dalam bentuk paling sederhana: loyalitas yang menembus batas kesengsaraan.

Ada banyak kota di Inggris dengan pengalaman kultur supporter sepakbola serupa seperti ini, tapi SW6 bukanlah salah satunya. Chelsea F.C di abad 21 merupakan klub sepakbola yang mudah untuk didukung: banyak bar nyaman, London Barat adalah kota yang keren, dan yang paling penting, kemampuan tim rumah untuk bersaing mendapatkan gelar juara bisa dijamin berkat kehadiran Raja Rusia yang duitnya gak abis-abis. Dibawah kepemilikan Roman Abramovich, Chelsea sempat juara Liga Primer Inggris lima kali, menjadi juara Eropa di 2012 dan memiliki banyak pemain kelas dunia. Kini, tidak banyak klub Inggris yang bisa bersaing dengan Chelsea, jadi tidak heran apabila The Blues juga banyak dibenci.

Tentunya keadaan tim sepakbola Chelsea tidak selalu sebaik ini. Biarpun dalam 15 tahun terakhir, bisa dibilang perjalanan tim ini relatif mulus, tapi mereka memiliki masa lalu yang kelam—masa lalu yang tidak akan masuk ke dalam materi promosi Premier League. Perlu diingat bahwa Chelsea pernah terelegasi di 1988 dan masih dimiliki oleh Ken Bates hingga 2003. Kala itu, di luar lapangan, isu rasisme dan hooliganisme masih kian menimpa stadium Stamford Bridge dan di dalam lapangan pun Chelsea gagal meraih gelar juara. Biarpun sekarang Chelsea kerap mempermalukan klub lain, dulu merekalah yang kerap dipermalukan.

Faktanya, ada masa-masa dimana Chelsea hampir bangkrut. Untung saja Bates melunasi hutang-hutang mereka di 1982 dan tim tersebut mengakhiri musim berikutnya 3 poin di atas batas relegasi ke divisi tiga. Masalah hooligan yang dipimpin oleh Chelsea Headhunters (organisasi hooligan Chelsea) merupakan salah satu yang terburuk dalam sejarah sepakbola Inggris dan memiliki koneksi dengan kelompok-kelompok ekstrem sayap kanan seperti Combat 18 dan National Front. Stadium Stamford Bridge pun dijadikan ladang perekrutan anggota baru bagi kelompok-kelompok rasis ini. Di kala itu, segerombolan penggemar Chelsea menyanyikan "Kami tidak butuh si negro" ketika Paul Canoville bersiap masuk ke lapangan. Beberapa penggemar memilih nongkrong di pub apabila Canoville diturunkan sebagai pemain inti. Salah seorang penggemar setia Chelsea menyebut periode ini sebagai "masa tidur". Banyak yang tidak akan keberatan apabila Chelsea bangkrut sekalian di masa itu.

Stadion Stamford Bridge dekade 80-an penuh suporter rusuh. Foto oleh PA Images

Fakta bahwa Chelsea tidak bangkrut sebagian disebabkan oleh faktor keberuntungan. Antara 1979 dan '84, Chelsea merupakan tim Divisi Dua dengan stadium yang bobrok. Saking parahnya masalah hooligan, di 1985, Bates mencetuskan rencana untuk memasang pagar listrik di Stamford Bridge untuk meredam aksi kekerasan. Sempat membaik di pertengahan 80an, Chelsea kembali jatuh ke divisi dua di 1988. Proyek ambisius untuk merenovasi Stamford Bridge hampir membuat mereka bangkrut, dan hampir kehilangan klub ini seutuhnya ketika pengembang property Marler Estates ingin meratakan stadium dan membangun aparteman mewah yang ironisnya cocok untuk sosok-sosok seperti Roman Abramovich sekarang. Di pertengahan 90an, Matthew Harding menjabat sebagai wakil presiden klub dan langsung memenangkan hati penggemar. Apesnya, dia meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter dalam perjalanan pulang setelah menonton pertandingan Chelsea. Kurang menderita apa coba penggemar Chelsea?

Jadi ketika dompet tebal seorang raja Rusia menghampiri klub di 2003, menawarkan kekayaan yang dia baru terima berkat kehancuran Uni Soviet, rasanya adil-adil saja bahwa Chelsea yang menerima berkah tersebut. Manchester United dan Arsenal kan udah punya cukup duit. Justru, dana segar yang diterima Chelsea membuat liga Inggris makin kompetitif (sama seperti yang menimpa Man City satu dekade kemudian).

Iklan

Penting untuk mengerti kisah latar belakang Chelsea agar kita bisa mengerti keberadaan klub ini di 2017. Bagi banyak penggemar klub rival, sudah umum praktiknya untuk ngatain penggemar Chelsea "sombong dan nyolot." Tentunya pasti ada penggemar Chelsea yang seperti ini, tapi siapa juga yang gak akan bangga kalo tim favoritnya tiba-tiba menang lotere dan menjadi juara Eropa perdana mewakili London? Biarpun status orang kaya baru Chelsea kerap dijadikan materi ejekan, penggemar The Blues tidak keberatan. "Daripada Roman ngetok pintu klub lain, ya mendingan Chelsea lah."

Hadirnya suntikan modal besar dari Abramovich dan rentetan kesuksesan membawa konsekuensi tersendiri: Chelsea kebanjiran penggemar baru yang tidak memiliki koneksi apapun dengan identitas lama klub ini. Gerombolan supporter baru ini tidak tahu-menahu tentang sejarah hooligan klub, dan tidak kenal siapa itu Frank Sinclair. Mereka hanya tahu Mourinho, Munich dan dompet tebal Abramovich.

Para penggemar kawakan merasa risih dan menganggap pengalaman mereka melewati masa-masa suram klub sebagai bagian penting dari seni mendukung sebuah klub sepakbola. Yang menjadikan anda seorang pendukung Chelsea—atau pendukung Chelsea sejati—adalah pengalaman menyaksikan sendiri klub kesayangan terpuruk, atau paling tidak mulai mendukung klub sebelum Abramovich datang dan melempar-lempar uang ke manajemen. Dalam hal ini, ada perbedaan mendasar antara penggemar Chelsea yang mengingat era 90an dan yang tidak (era 80-an, 70-an dan 60-an beda lagi ceritanya). Jelas ada tendensi untuk meromantisisasi masa lalu ketika menjadi penggemar Chelsea dianggap lebih "berat". Namun faktanya ini menjelaskan perbedaan fundamental pengalaman antar penggemar, dan bagaimana mereka bereaksi terhadap situasi yang berbeda. Penampilan 'buruk' Chelsea di musim lalu adalah contoh yang sempurna. Apabila anda sudah pernah mengalami tim kesayangan bernaung di divisi dua, anda mungkin santai-santai saja ketika tim berada di posisi 10 Premier League di akhir musim. Bukan kebetulan apabila anda mengetik "where were you when we were shit?" (elo semua dimana pas tim lagi payah?) ke dalam Google, hasil nomer dua tertinggi adalah situs penggemar Chelsea. Nomer satunya? Message board Manchester City.

Iklan

Maka rasanya sah apabila kami memutuskan untuk ngobrol dengan segerombolan pemegang tiket musiman Chelsea menjelang pertandingan klub mereka dengan Manchester City di Stamford Bridge. Apabila tim Pep Guardiola masih menyesuaikan diri menjadi tim tujuan pemain-pemain sepakbola terbaik dunia, di Chelsea, ini sudah menjadi hal yang normal. Luar biasa terutama bagi mereka yang masih mengingat "masa tidur" klub ini.

Kondisi tersebut mengingatkan kita bahwa Chelsea—sama seperti banyak klub Premier League lainnya—pernah mengalami perubahan identas sebelumnya. Sebelum era korporat dan era 80-an yang paceklik prewtasi, Chelsea sempat menjadi klub glamor yang didukung oleh selebriti seperti Raquel Welch. Kala itu, King's Road menjadi pusat dunia sepakbola, fashion dan rock 'n roll. Inilah yang menarik Abramovich untuk membeli tim sepakbola Chelsea, bukan gerombolan skinhead yang membagi-bagikan zine sayap kanan ekstrem. Tidak lama lagi, era ini akan dilupakan namun juga selalu akan menjadi bagian dari Chelsea dan penggemarnya di masa depan.

Biarpun sekarang penggemar Chelsea sudah nyaman dengan identitas baru klubnya, perubahan kembali akan terjadi. Stadium Stamford Bridge tengah mengalami perombakan terbesar dalam sejarahnya. Pembangunan yang terjadi di situs akan kurang lebih menghadirkan stadium baru, namun dengan lokasi yang sama. Artinya semua ritual penggemar—perjalanan ke stadium dan nongkrong di pub sebelum pertandingan tidak akan berubah. Namun ini juga berarti Chelsea harus menyewa Wembley selama tiga tahun ke depan, dan penggemar harus menempuh perjalanan yang lebih jauh untuk menonton tim kesayangan.

Editor Majalah VICE Bruno, adalah penggemar berat Chelsea. Dia memamerkan replika kostum lawas Chelsea yang langka.

Lalu seperti apa Chelsea di 2017 kalau begitu? Seperti apa mereka dibalik lapisan peraturan korporat dan nilai brand? Dibalik kontrak sponsor yang nilainya gila-gilaan. Dibalik kebijaksaan transfer pemain yang boros. Dibalik praktik mereka menimbun pemain muda. Mereka sesungguhnya seperti klub sepakbola kebanyakan. Mungkin banyak penggemar yang tidak mau menerima definisi barusan, tapi dari periode kelam Chelsea di 80an, ini adalah lompatan yang luar biasa. Masih banyak penggemar mereka yang rasis dan brengsek—yang hobi bernyanyi "Kami rasis, dan kami memilih untuk seperti ini," di transportasi umum Paris—tapi Chelsea, sama seperti banyak klub besar di Inggris berupaya keras untuk melawan perilaku buruk seperti ini. Seorang penggemar berkomentar, "Chelsea kini menjadi semakin ramah keluarga, lebih bersih," tapi ini juga bermanfaat dalam perihal menolak perilaku intoleran. Kini Chelsea adalah sebua klub multi-etnis dan multi-rasial. Tidak ada lagi yang namanya penggemar nongkrong di pub ketika pemain berkulit hitam diturunkan di lapangan

Kami bisa mengatakan bahwa Chelsea merupakan salah satu klub paling beruntung di Premier League. Kini mereka mengundang banyak penggemar kelas menengah baru
dan supporter lama yang kabur di era 80an. Tidak heran sekarang mereka membutuhkan stadium baru.

Kesimpulannya Chelsea sepanjang musim 2016/2017 hanyalah klub sepakbola biasa, didukung oleh campuran orang dari berbagai etnis dan latar belakang, sama seperti penggemar tim Premier League manapun. Chelsea bukan tim yang spesial. Kebetulan saja mereka berada di area London yang keren, dan karenanya kedatangan raja Rusia yang sedang mencari mainan baru. Namun tetap saja para penggemar lama klub tahu rasanya menyaksikan tim kesayangan hampir hancur total. Bahkan para penggemar yang umurnya baru 20an pasti bisa mengingat bencana-bencana yang menimpa The Blues. Kebanyakan penggemar Chelsea hanyalah orang-orang yang mencintai klub sepakbola mereka dan ini tidak memberi kita pembenaran untuk membenci klub mereka.

Laporan ini disusun oleh: @Jim_Weeks / Video oleh @W_F_Magee