israel

Otoritas Israel Menuduh Pemimpin Aksi Mogok Makan Palestina Ngemil Biskuit

Video peserta mogok makan ngemil biskuit sembunyi-sembunyi dalam sel penjara dirilis, tak lama sesudah anggota kelompok Zionis ultranasionalis mengejek aksi para tahanan.
10.5.17
gambar via screengrab oleh pengguna Vimeo שירות בתי הסוהר

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES.

Akhir pekan lalu, penjaga penjara Israel merilis rekaman video yang menurut mereka, menampilkan pemimpin aktivis Palestina ngemil kudapan secara sembunyi-sembunyi di area kamar mandi dalam sel isolasi. Aktivis bernama Marwan Barghouti ini adalah pemimpin aksi mogok makan massal para tahanan Palestina di penjara Negeri Zionis itu. Dia selama beberapa tahun ini menuding Otoritas Keamanan Israel sengaja membatasi hak asasi para tahanan politik. Lebih dari 1,000 tahanan Palestina memulai aksi mogok makan tersebut pada pertengahan April lalu, walaupun beberapa dari mereka telah menyerah. Mereka menuntut izin kunjungan keluarga lebih banyak, dihentikannya sel isolasi, perbaikan layanan kesehatan, dan akses lebih baik pada pendidikan bagi narapidana.

Iklan

Pihak berwenang Israel menyatakan video itu adalah bukti tak terbantahkan bila Barghouti tidak bersetia kawan dengan tahanan lain yang benar-benar melakukan mogok makan. Ini adalah kali kesekian aparat Negeri Bintang Daud hendak mendiskreditkan pejuang Palestina. Barghouti disebut-sebut ngemil biskuit pada 27 April, lalu makan permen sehari berikutnya di dalam sel isolasi Penjara Kishon. Narasumber anonim dalam Departemen Penjara Israel berkata pada surat kabar Haaretz bila "mereka telah menguji seberapa serius Barghouti soal aksi mogok makan yang dia pimpin itu." Video lengkapnya, yang mencapai sepuluh menit, hanya menampilkan potongan-potongan cap waktu dan tidak secara jelas menunjukkan wajah tahanan, sehingga belum tentu itu benar-benar sosok Barghouti. Video tersebut dirilis hanya beberapa minggu setelah anggota partai ultranasionalis Israel Ichud Leumi (National Union) mengejek tahanan Palestina yang menggelar aksi mogok makan sambil mengadakan acara masak barberkyu di luar Penjara Ofer di Tepi Barat, lalu menawarkan daging gratis kepada orang lewat.

Bargouti kini menjalani 40 tahun penjara setelah dinyatakan bersalah atas lima pembunuhan dan satu percobaan pembunuhan. Dia juga dinyatakan sebagai anggota organisasi teroris, Al-Aqsa Martyrs' Brigade. Pada dakwaannya tahun 2004, Barghouti menolak mengakui jursidiksi pengadilan Israel dan menolak menawarkan pembelaan. Putusan pengadilan mempertimbangkan sejumlah insiden selama Intifada Kedua (perlawanan semesta rakyat Palestina terhadap Israel yang terjadi sepanjang kurun 2000 hingga 2008); pemerintah Israel menuduh Barghouti mengizinkan dan mendalangi penembakan pendeta Yunani Ortodoks serta penembakan beberapa warga sipil di pasar ikan Ibu Kota Tel Aviv. Barghouti mulanya didakwa atas 37 tindak kriminal, namun pengadilan mengabaikan 33 di antaranya karena bukti yang tersedia tidak memadai.

Iklan

Menteri Keamanan Israel, Gilad Erdan, menuduh aksi mogok makan tahanan Palestina hanyalah demi mencari perhatian media. Dia juga menuding Barghouti secara sembunyi-sembunyi makan di dalam selnya. "Barghouti adalah pembunuh dan orang munafik yang mengimbau sesama tahanan mogok makan dan menyiksa diri, sementara dia makan secara diam-diam. Israel tidak akan mengalah pada tekanan para teroris," kata Erdan dalam jumpa pers pekan lalu. MUNCHIES berusaha menghubungi Departemen Penjara Israel untuk dimintai komentar mengenai kasus ini, namun mereka belum memberi tanggapan.

Aktivis Palestina balik menyebut video tersebut tidak menunjukkan apa-apa, tidak jelas tanggalnya, dan sangat mungkin yang ditampilkan bukan sosok Barghouti sama sekali. Istri Barghouti menilai video tersebut "dibuat-buat" dan disebar dengan tujuan "licik". Adapun Komite Solidaritas Nasional Palestina untuk Aksi Mogok Makan mengklaim rekaman gambar yang disebar berasal dari 2004.

MUNCHIES menghubungi Miko Peled, aktivis Israel yang memperjuangkan perdamaian negaranya dengan Palestina untuk mengomentari skandal video tersebut. Ayah Peled adalah mayor jendral militer Israel sekaligus anggota parlemen. "Saya menonton videonya dua kali dan saya tidak bisa memverifikasi bahwa orang pada video tersebut benar Marwan Barghouti karena wajahnya tidak ditampilkan sama sekali. Selebihnya, yang kita lihat hanyalah seorang laki-laki dalam sel berjalan ke kamar mandi dan mustahil memastikan apa yang dia lakukan."

Seperti banyak warga Palestina lainnya yang memprotes niat pemerintah Israel menyebar video tersebut, Peled percaya isu yang lebih penting bukan Barghouti benar-benar makan atau tidak. "Dunia harusnya lebih mengkhawatirkan lebih dari 7,000 tahanan politik Palestina ditahan oleh Israel karena melanggar hukum internasional," kata Peled pada MUNCHIES. Sebaga warga negara Israel, Peled mendukung perbaikan kondisi bagi tahanan politik Palestina yang ditangkap karena memperjuangkan haknya. Rata-rata mereka dipenjara karena menolak digusur paksa oleh militer Israel. "Harusnya ada upaya dikerahkan untuk mengabulkan permintaan para tahanan. Lebiih penting lagi, ketidakadilan yang mereka alami dalam penjara wajib dihentikan sehingga mereka menjadi manusia bebas lagi. Israel mesti diawasi dengan ketat oleh dunia, dan dikritik."

Ali Abunimah, wartawan Palestina-Amerika penggagas Electronic Intifada, menyepakat pandangan Peled. Dia berkata pada MUNCHIES, Israel mencoba menggagalkan aksi mogok makan tersebut dengan menempatkan sang ketua aksi tersebut bersama tahanan lainnya dalam sel isolasi. Artinya tuduhan Barghouti diam-diam makan justru lebih sulit diverifikasi karena akses terhadap sel isolasi sepenuhnya dimiliki otoritas Israel. "Israel melanggar Konvensi Jenewa ke-4. Klaim yang mendiskreditkan tahanan politik sudah sering disampaikan ketika tahanan diam-diam direkam, terutama jika rekaman tersebut dirilis pada publik untuk mendiskreditkan atau mengolok para tahanan."

Baru-baru ini Barghouti menjadi sorotan setelah artikel opininya dimuat New York Times. Artikel tersebut, menceritakan rencananya menggelar aksi mogok makan. Para pembaca, pendukung Palestina, bahkan para staf Times sendiri mengklaim tulisan tersebut sudah diedit habis-habisan oleh salah satu editor, sehingga "mendistorsi karakter Barghouti". Artikel ini bahkan sengaja tidak menyebutkan alasan Barghouti dipenjara oleh aparat Israel.