Can't Handle the Truth

Hoax Terpopuler Pekan Ini: Salju di Jakarta Hingga Surat Ahok

Kabar sumir di media sosial dan Whatsapp didominasi isu seputar Jakarta, meskipun harus diakui ada hoax yang membawa "kesejukan" bagi para korbannya.
14.5.17
Ilustrasi hoax turun salju di Jakarta oleh Iyas Lawrence.

Selamat datang di Can't Handle the Truth, kolom mingguan VICE Indonesia untuk merangkum hoax dan berita palsu paling ramai dibicarakan pengguna Internet.

Sambutlah era baru Indonesia, era di mana kita semakin kesulitan membedakan mana informasi palsu dengan yang sebetulnya data valid dan berguna bagi umat manusia.

Situasi ini kemungkinan dipengaruhi semakin murahnya harga ponsel memicu ledakan arus informasi. Tahun ini pemerintah Indonesia memperkirakan nyaris 100 juta orang mempunyai ponsel pintar.

Iklan

Dari survei lembaga GFK Asia, orang Indonesia menghabiskan rerata 5,5 jam per hari untuk berselancar di Internet, lantas di sela-selanya memakai aplikasi pesan seperti Whatsapp atau BBM untuk berkomunikasi. Kebiasaan ini berkembang ditopang semakin murahnya paket kuota Internet, memunculkan sebuah tren baru.

Ingat, tak semua orang sanggup membaca wikipedia/ebook, buka-buka situs berita lima jam nonstop, atau ngobrol ngalor-ngidul lewat whatsapp. Apa yang dilakukan kebanyakan orang akhirnya? Benar sekali, serampangan menyebar hoax ataupun berita palsu lewat medsos atau grup Whatsapp keluarga atau alumni sekolah. Yang menyimpulkan hoax mewabah berkat murahnya harga smartphone dan kuota internet murah itu pemerintah lho ya.

Mewabahnya hoax di Indonesia sudah berhasil memicu gonjang-ganjing politik-sosial serius. Tak kurang Presiden Joko Widodo berulang kali digoyang isu tak sedap yang bermula dari pesan berantai Whatsapp. Isinya mengklaim orang tua Jokowi terlibat PKI, berujung tudingan politikus asal Solo itu memalsukan akta kelahirannya. (Apa artinya Jokowi akan bernasib seperti Barack Obama yang selama menjabat selalu diganggu isu bukan warga sah AS karena dituduh lahir di negara lain?)

Unjuk rasa umat muslim di Jakarta, sebagian ditunggangi kebencian sektarian pada etnis Tionghoa, awalnya dipantik berita palsu membanjirnya pekerja asal Cina daratan ke Tanah Air. Sentimen politik hingga kebencian ras menjadi salah satu tema favorit hoax di Indonesia, mewakili 22 persen hoax yang beredar lewat Internet negara ini.

Iklan

Kasus penistaan agama menjerat Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, akrab disapa Ahok, turut diperkeruh gabungan fakta dan hoax. Sentimen anti-Cina yang terus dikipasi hoax-hoax dan berita palsu, memperpanas suasana politik sebelum Ahok akhirnya diadili.

Vonis penjara yang diterima Ahok lantaran dianggap terbukti menodai agama Islam menjadi sumber inspirasi bagi pencipta hoax dalam negeri sepekan terakhir. Tentu saja, berita palsu lainnya juga beredar, tapi respons publik tidak sebesar rumor-rumor terkait Ahok dan hasil Pilkada DKI.

Berikut rangkuman hoax dan berita palsu paling ramai dibicarakan selama pekan kedua Mei 2017:

Ahok menulis surat terbuka dari dalam penjara

Aksi damai pendukung Ahok di depan Balai Kota DKI Kamis (11/5). Foto oleh Regan Reuben.

Pada sidang 9 Mei, hakim menjatuhkan vonis dua tahun penjara pada sang gubernur DKI. Ahok segera diantar ke Rutan Cipinang, Jakarta Timur. Ribuan massa pendukungnya menuntut Ahok dibebaskan, menyulut kericuhan dan kemacetan di depan rutan.

Di tengah-tengah riuh rendah publik merespons hukuman pada Ahok yang dirasa sebagai kemunduran pada praktik demokrasi Indonesia, muncul surat yang viral lewat medsos. Surat itu kabarnya ditulis oleh Ahok untuk menenangkan pendukungnya yang terus berunjuk rasa.

Judul naskah yang paling banyak beredar via Whatsapp itu adalah "Surat Pak Ahok untuk Kita Semua". Isinya, Ahok meminta sang istri—Veronica Tan—agar menemui pendemo dan meminta mereka terus melakukan perlawanan.

"Teruslah menjaga nyala api perjuangan, sekuat apa pun angin yang mencoba untuk memadamkan api itu."

Iklan

Ahok dalam surat abal-abal ini turut meminta Veronica tabah menghadapi cobaan. "Dengan cintanya yang besar pada saya dan juga bagi jakarta, ia pasti akan bersedia menanggung semua ini… (i love you vero….)."

Juru bicara Ahok, Raja Juli Antoni, segera membantah keaslian pesan yang sekilas mengharukan tersebut. "Saya sudah cek ke staf yang nempel dengan pak Ahok di dalam rutan," ujarnya.

Lalu apa yang bisa kita percaya dari semua kisruh mengenai penahanan Ahok? Sejauh ini semua data-data valid menunjukkan politikus asal Belitung Timur itu telah dipindah ke Rutan Mako Brimob, Depok. Plt Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaful Hidayat sudah memberi jaminan agar Ahok dijadikan tahanan kota saja. Namun belum ada jawaban dari Pengadilan Tinggi Jakarta Utara terhadap permintaan pengacara dan Djarot.

Anies-Sandi gelar konser menang telak

Di tengah gonjang-ganjing penahanan Ahok, beredar foto yang menampilkan konser syukuran kemenangan hitung cepat Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dalam pilkada DKI. Foto itu pertama kali disebar akun Instagram Melly Goeslaw pada 10 Mei lalu. Melly, vokalis band Potret, merasa namanya dicatut sebagai pengisi acara. Selain Potret, konser yang sedianya digelar di Driving Range Senayan itu menghadirkan bintang tamu Dewa 19, KLA Project, Superman is Dead, dan penyanyi Judika.

Pengguna Internet Indonesia tentu saja segera merespons tanpa memeriksa keaslian poster ini. Klasik. Perdebatan dan sumpah serapah segera bermunculan.

Iklan

Saat dikonfirmasi, Naufal Firman Yursak selaku juru bicara Anies-Sandi membantah ada rencana konser di Senayan pada 26 Mei. "Kami tidak pernah merencanakan, membuat, apalagi mengumumkan mengenai konser gue menang telak."

Firman menuding poster itu dibuat oleh pihak yang tidak senang pada kemenangan pasangan calon gubernur nomor urut tiga itu. Salah satu buktinya, adalah ajakan dalam poster agar penonton mengenakan atribut partai pendukung Anies-Sandi, yang berarti mencakup Gerindra, PKS, dan juga PPP.

"Ini bisa memperburuk citra relawan Anies-Sandi karena terkesan merayakan kemenangan secara berlebihan," kata Firman.

Modus begal motor jadi pocong tidur di jalan

Pekan ini kita sekalian memperoleh hoax klasik ala Indonesia: oplosan modus kriminalitas dengan klenik. Isu ini beredar lewat whatsapp warga Jakarta dan Depok. Konon para begal motor punya cara baru, yakni pura-pura tidur di jalanan sepi memakai kostum pocong. Jika pengendara motor itu kaget, takut, atau lengah, maka perampok akan menyikat kendaraan mereka. Dalam pesan berantai ini, pengendara diminta tak ragu menabrak pocong yang selonjoran di jalan.

Untuk menambah bobot keaslian cerita, dicomot keterangan TKP yakni dekat kuburan Cina di Margonda. Foto-foto pelaku yang dicokok warga juga ditambahkan dalam pesan ini.

Tentu saja, urban legends semacam ini bohong belaka. Juru Bicara Kepolisian Depok, AKP Firdaus, menyebut tak ada laporan dari masyarakat atas begal memakai kostum pocong. Polisi pun langsung tahu jika pesan berantai tersebut cuma abal-abal. Tampaknya penulis hoax ini kurang teliti dan riset sebelum menyebarkannya. "Engga ada kuburan cina di Margonda," kata Firdaus. Oke deh.

Salju Turun di Jakarta

Inilah satu-satunya hoax yang "menyejukkan" bagi pengguna Internet sepekan terakhir. Beredar video berdurasi 21 detik yang menampilkan jalanan kawasan Sudirman Jakarta, dipenuhi butiran salju pada 6 Mei lalu. Video ini beredar lewat Youtube dan Whatsapp, setelah hujan mengguyur ibu kota nyaris seharian. Sempat juga muncu kabar bila hujan deras hari itu diiringi rintik-rintik kristal es, menambah dramatis sekaligus makin meyakinkan korban berita palsu ini bahwa salju benar-benar turun di Jakarta.

Sebagian Netizen mengekspresikan ketakjubannya. Sayang, Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tampak tak suka menyaksikan orang-orang berkhayal. Jubir BMKG segera menghancurkan harapan sebagian korban hoax ini untuk merasakan dinginnya salju di Tanah Air.

Iklan

"Itu adalah tumpahan busa dari truk yang lewat di jalan Sudirman," kata Harry Tirto Djatmiko saat dihubungi awak media.

Obsesi merasakan dan melihat salju secara langsung dimiliki banyak penduduk Indonesia, negara tropis yang cuma mempunyai dua musim saja. Hanya orang yang beruntung bepergian ke luar negeri sajalah bisa melihat salju.

"Fenomena salju hanya bisa terjadi di daerah subtropis dan kutub, jadi tidak benar berita yang beredar tersebut," imbuh Djatmiko.

Yeah, thanks for the reality check dude.

Ardyan M. Erlangga aktif memburu hoax dan berita palsu di media sosial.