manusia

Kalian Sering Kikuk Saat Bertemu Orang Lain? Berikut Alasan Ilmiahnya

"Faktor budaya ikut berperan dalam munculnya rasa canggung pada situasi sosial. Penyebab kekikukan manusia sudah diteliti antropolog juga lho."
4.5.17
Gambar: Cuplikan film Superbad/Youtube

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

"Orang yang canggung melihat dunia dengan cara yang berbeda dibanding yang tidak canggung," tulis Ty Tashiro, seorang psikolog dan akademis di bab pembuka buku barunya, Awkward: The Science of Why We're Awkward and Why That's Awesome. Tapi kenyataannya, argumen ini tidak selalu benar, terutama ketika Tashiro menggunakan pengalamannya sendiri sebagai contoh.

Iklan

Lewat sebuah anekdot, Tashiro menceritakan pengalaman canggungnya ketika pertama kali menari dengan teman perempuan di bangku SMA. Di tengah tarian, Tashiro bingung dimana dia harus meletakkan tangannya sementara sang partner dansa "wajahnya semakin mendekat." Tashiro remaja pun mulai gugup dan merasa kikuk harus bagaimana. Perasaan canggung seperti ini mungkin pernah dialami setiap manusia di kehidupannya.

Itulah ajaibnya fenomena Canggung. Rasa kikuk dan gugup dianggap sebagai kondisi yang unik, tapi nyatanya dialami semua orang (kontradiktif ya). Tashiro tidak menghabiskan banyak waktu di bukunya memberi instruksi bagaimana cara mengalahkan rasa canggung. Dia malahlebih berfokus menjelaskan satu tesis ini: "Elo sering ngerasa canggung? Sama dong! Kita sebetulnya keren loh."

Kami ngobrol bersama Tashuro membahas kegamangan yang mendalam dan ketakutan seseorang melakukan hal bodoh di tempat umum. Fenomena semacam itu kemungkinan yang hanya dimengerti oleh Tashuro, saya dan kemungkinan kamu. Kita bertiga doang, orang-orang yang sering canggung di depan umum. Beneran deh.

Bagaimana kamu mendefinisikan canggung? Apa kriterianya?
Kata canggung dalam bahasa Inggris ('awkward') berasal dari bahasa Norse, 'afgr' yang artinya menghadap ke arah yang berbeda. Penjelasan ini menjelaskan kenapa orang-orang yang canggung sering mengabaikan kode-kode sosial yang biasa dipahami orang lain. Tapi ini juga membuka kemungkinan bahwa orang canggung tersebut mungkin saja tengah asik menatap obyek yang keren atau mereka memang melihat segala sesuatunya dengan cara yang berbeda. Saya suka definisi ini. Tapi perlu diingat ada perbedaan antara momen canggung dan orang yang canggung.

Iklan

Apa bedanya?
Momen canggung lebih mudah didefinisikan dari segi psikologis. Mereka adalah penyimpangan dari ekspektasi sosial umumnya. Contohnya lupa menutup resleting celana, bayam nyangkut di tengah gigi depan, semacam itu. Nah orang yang canggung itu lebih parah dari sekedar hal-hal ini.

Contoh dong.
Contoh pribadi?

Iya. Bagi dong momen hidupmu yang terasa paling canggung.
Wah. Ada banyak banget.

Gini deh. Cari saja momen yang kalo diinget bisa bikin kamu agak mual.
Oke, ada satu yang gue inget. Waktu itu gue masih SMP, belum bener-bener jadi remaja ya. Sekeluarga kami pergi ke acara reuni keluarga di sebuah resort di Colorado. Saya dan sepupu tengah main kapal tubruk (bumper boats) dan saya terlalu bersemangat. Saya putar roda kendali sampe mentok dan injek gas sampe penuh. Alhasil, kapal saya muter-muter sendiri di tengah selama lima menit.

Lama juga ya.
Rasanya kayak sejam. Anak-anak yang lain semua cuman ngeliatin, mikir "Ini orang ngapain sih?"

Sebetulnya rasa canggung itu hasil pikiran kita aja bukan sih?
Kita takut melakukan atau ngomong hal yang salah, tapi sebetulnya realitanya tidak seburuk perasaan. Faktor budaya ikut berperan dalam munculnya rasa canggung dalam situasi sosial. Penyebab kekikukan manusia sudah diteliti antropolog juga lho [tertawa].

Diteliti secara ilmiah beneran?
Gue agak lebay sih, tapi penelitiannya beneran sudah ada kok. Mary Douglas, antropolog penulis buku berjudul Purity and Danger yang terbit 1966, membahas evolusi ekspektasi sosial di antara kaum pemburu manusia purba. Temuan itu menarik, sebab selama beberapa ribu tahun dalam sejarah awal hadirnya homo sapiens, rata-rata umur manusia cuma 40 tahun. Dulu resiko kematian akibat kelaparan sangat tinggi. Anda tidak mau bergaul dengan seseorang yang malas berburu atau mencari makan. Dulu keputusan anda untuk bersosialisasi dengan siapa menjadi keputusan hidup dan mati.

Iklan

Sekarang udah gak kayak gitu lagi kan?
Sama sekali enggak. Etika dan ekspektasi sosial sesungguhnya sangat berguna dalam usaha bertahan hidup karena mereka berfungsi sebagai sistem alarm yang mendeteksi orang-orang yang malas atau mungkin berkhianat. Inilah sebabnya hingga saat ini, manusia sangat sensitif terhadap perilaku penyimpangan-penyimpangan sosial.

Menarik banget ya. Jadi ketika seseorang berperilaku canggung atau memalukan, ada bagian dari otak kita yang bereaksi, "Wah ini orang bakal mengkhianati suku nih"
Iya betul.

Penting gak sih sebetulnya berusaha menghilangkan perilaku canggung ini?
Sebetulnya sih ada solusi cepatnya. Ketika pertama kali mendapat ide untuk menulis buku ini, saya mulai mengamati teman-teman saya yang canggung. Sebetulnya kalau lima menit pertama dari interaksi sosial bisa dilewati (basa-basi), orang-orang ini tidak akan memiliki banyak masalah.

Setiap kali saya merasa canggung, saya bingung harus menaruh tangan di mana. Kenapa ya?
Ada beberapa studi yang meneliti gestur tubuh, melihat perbedaan antara yang dianggap canggung dan menawan. Ketika saya mengunjungi laboratorium robot di MIT Media Lab sekitar setahun yang lalu, para ilmuwan kesulitan membedakan kedua hal ini biarpun mereka memiliki data seputar karakteristik gestur tubuh manusia. Gerakan yang sederhana seperti mencondongkan badan ke depan pun sangat sulit dilakukan oleh robot-robot ini. Saya sempat berinteraksi dengan salah satu robot. Kontak matanya lumayan normal, tapi tetap saja terasa seperti robot.

Iklan

Mungkin itu nasehat yang bagus bagi orang yang canggung. "Jangan kayak robot deh."
Bisa juga. Ini agak rumit sih. Mungkin mulai dari menjaga jarak ketika berinteraksi dulu. Jangan terlalu dekat, jangan terlalu jauh.

Setelah menulis buku ini, apakah kamu merasa tak lagi canggung?
Saya lebih bersyukur aja sih. Saya senang kehidupan saya gak kacau-kacau amat. Kalau kamu ketemu saya ketika saya berumur lima tahun, kamu pasti menyadari bahwa saya bermasalah. Tapi ketika melihat hidup saya secara keseluruhan, saya punya teman-teman yang baik, keluarga yang sehat dan hubungan yang baik. Menjadi orang baik juga lumayan membantu. Banyak kemajuan yang sudah saya alami.

Ketika mempromosikan buku ini, elo harus sering ngobrol sama orang-orang. Gimana rasanya?
Ok-ok aja.

Yang bener? Sebagai seorang yang canggung, mesti ngobrol sama banyak orang bukannya bikin gak nyaman?
Jujur, setiap kali mesti ngobrol sama orang yang baru dikenal, rasanya nyesek.

Hahaha!
Eh tapi gue juga menikmati kok.

Engga boleh ditarik lagi ucapanmu barusan.
Sebentar, bagian ini juga perlu disebutin: setiap kali saya baru selesai ngobrol sama orang baru, saya berpikir, "Saya senang ngobrol sama orang ini. Dan saya bersyukur mereka tertarik ngobrol dengan saya."

Ah basa basi nih kayaknya.
Enggak kok! Tapi sebelum ngobrol memang saya selalu berpikir, "Haduh mesti ngobrol lagi." Emang berat rasanya. Tapi seringkali juga pasangan ngobrol saya langsung mengatakan, "Santai dan rileks aja yuk, saya canggung juga soalnya."

Haha kita semua dasarnya canggung ya.
Ketika semua pihak menyadari bahwa semua orang dasarnya canggung, interaksi menjadi lebih nyaman dan lancar. Mereka langsung berpikir, "Wah gue bisa jadi diri sendiri nih." Dan ini menyebabkan interaksi lebih jujur dan asik. Mungkin harusnya setiap percakapan dimulai seperti itu ya. "Halo, nama saya X. Saya canggung dan agak kikuk."
Betul sekali. Percakapan harus dimulai dengan kejujuran seperti itu. Saya sering memikirkan ini. Saya sering berpikir bahwa ada bagian dari diri saya yang harus disembunyikan. Geno Auriemma di UConn pernah membuat komentar bagus seputar isu ini. Dia mengatakan sulit menemukan anak-anak yang antusias karena kultur sekarang mengharuskan orang menjadi keren. Sekarang terlalu banyak tekanan bagi seseorang untuk menjadi keren dan memiliki penampakan media sosial yang terpoles. Saya suka orang canggung karena mereka apa adanya.

Orang canggung gak peduli kalau mereka gak keren?
Betul. Orang canggung gak terlalu peduli sama begituan. Mungkin ada momen-momen di SMP, SMA atau bahkan di kehidupan dewasa ketika mereka mempedulikan apa kata orang. Tapi nantinya mereka akan melewati itu semua. "Bodo amat, saya akan mengatakan apa yang ingin saya katakan. Diri saya seperti ini."

Dan sudut pandang seperti itu gak salah kan?
Orang canggung itu sangat antusias dan penuh gairah. Saya berharap buku ini meyakinkan dan mengingatkan mereka agar tidak pernah melupakan hal tersebut dan terus hidup dengan cara mereka sendiri.