Upaya Perempuan Tanpa Vagina Melampaui Dilema Kontes Kecantikan
Semua foto oleh penulis.
LGBTQ di Indonesia

Upaya Perempuan Tanpa Vagina Melampaui Dilema Kontes Kecantikan

Dari transperempuan, wanita berhijab, hingga laki-laki berbaur gembira pada Malam Inaugurasi Transchool Se-Jabodetabek 2017 yang terpaksa digelar diam-diam.
3.3.17

Ruangan berpendingin udara itu seketika dijejali banyak orang. Perempuan muda bergerombol, mengenakan bergaun mini dengan warna terang dan aksesoris kerlap-kerlip. Ada juga yang bergincu tebal sekali, sambil sesekali mengambil 'selfie'. Tentu tak semua yang hadir seperti itu. Ada lelaki, perempuan berhijab, serta satu-dua pria berambut terang. Lalu acara yang dinantikan semua orang dimulai. Satu-satu penampil keluar, cahaya fokus pada panggung. Mereka berjingkrakan di panggung. Musik mendentum dari pengeras suara. Massa bergoyang. Keriuhan ini sangat kontras bila kita mengingat fakta acara Malam Inaugurasi Transchool 2017 di Jakarta ini sebetulnya digelar diam-diam.

Iklan

Sehari sebelumnya, pemberitahuan itu datang tiba-tiba. Penerima undangan tidak diperbolehkan mengunggah foto, status, ataupun detail alamat lokasi ke media sosial selama acara berlangsung. Panitia khawatir bila detail acara beredar terlalu luas dapat memicu kedatangan tamu tak diundang. Di negara yang masyarakatnya dikuasai budaya heteronormatif ini berulang kali terjadi insiden memojokkan kelompok LGBTQ.

Keberadaan transperempuan, yang sebetulnya sudah lama hadir di nusantara, belakangan kembali diserang. Salah satu yang paling menohok adalah penutupan pesantren khusus transgender di Yogyakarta tahun lalu. Atau, tujuh tahun lalu, ketika terjadi pembubaran konferensi International Lesbian, Gay, Bisexual, Trans and Intersex Association (ILGA) di Surabaya pada 2010. Dua penyerangan itu didalangi oleh ormas agama fundamentalis. Dan awal tahun ini, polisi membubarkan sepihak kegiatan Pekan Olahraga dan Seni Para Bissu dan Transgender di Soppeng, Sulawesi Selatan.

Saya butuh waktu sejenak mencari tempat duduk di tengah keriuhan acara. Setelah memperoleh kursi, seketika mata saya tertuju pada sesosok perempuan berhijab panjang terurai hingga ke pinggang. Sosoknya cukup kontras dibanding tamu-tamu undangan lain. Saya pun mengajaknya berkenalan. Namanya Sartini, perempuan kelahiran Purbalingga, Jawa Tengah. Dia datang dalam malam itu untuk mendukung anaknya yang ikut serta dalam inagurasi Transchool yang diikuti peserta dari kawasan Jabodetabek. Acara ini semacam kontes, namun tentu saja, konsepnya tidak hanya terpaku pada penilaian fisik semata. Setiap peserta di panggung perlu menjawab pertanyaan dari juri.

Iklan

"Saya bangga (anak saya) sangat mandiri. Saya mendukungnya dari jauh. Dari desa itu hati saya sebagai orang tua sangat sedih kalau-kalau ada yang mengatakan (transperempuan) ini itu, ini itu," kata Sartini kepada VICE Indonesia. "Dia bilang pokoknya saya enggak akan bikin mama sedih, enggak akan bikin mama kecewa, pokoknya saya mau bikin mama bangga".

Butuh waktu 23 tahun bagi Dwi Endrianto—anak Sartini—menyatakan sikap. Dia telah meyakini bahwa dirinya adalah perempuan meski tak bervagina. Pada malam inagurasi itu, Dwi bertansformasi menjadi Rere Agistia. Dia keluar sebagai pemenang ajang inagurasi Transchool 2017.

Jawabannya perihal HIV/AIDS dan bagaimana para transperempuan sebaiknya membongkar stigma disambut tepuk tangan riuh penonton. Walaupun kini sang ibu datang langsung mendukungnya berpartisipasi dalam lomba transchool, Rere tidak begitu saja diterima oleh keluarga. Sang ayah murka mendengar Rere ingin menjadi transperempuan.

"Awalnya pernah sengaja membuka diri, ketemu sama kakak biar ada yang menengahi dan mendamaikan antara aku sama orangtua. Malah kakak aku tuh engga mendukung," ujarnya. "Dia engga mau terima apa yang terjadi dengan Rere sekarang, terus akhirnya aku balik lagi ke Bekasi."

Bagi Rere dan bagi para transperempuan lainnya, identitas yang mereka pilih sekarang tidak sekadar melakukan ritual-ritual "transvertites": mengenakan gaun cantik, berhias gincu dan perona. Ada banyak hal lain yang perlu dilakukan sebagai peserta didik di Swara Transchool. Ini adalah sekolah alternatif bagi para transgender untuk mengenal hak, kesetaraan gender, anti-diskriminasi, dan kesehatan seksual, berusaha memberi mereka tujuan baru dalam hidup. Swara Transchool berusaha mengingatkan para anggotanya, bahwa waria adalah perempuan secara sosial. Definisi ini bahkan sudah diakui lembaga negara.

Iklan

"Komnas Perempuan itu dalam Sidang Paripurna 2012 mengatakan bahwa waria adalah perempuan secara sosial, ataupun siapapun yang mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan walaupun mereka tidak bervagina, mereka adalah perempuan," kata Kanza Vina, ketua panitia Malam Inagurasi Transchool Jabodetabek. "Kalau untuk pemberdayaan, kita enggak hanya di ekonomi tapi juga (menekankan) pada, pendidikan, pengetahuan, sikap, perilaku."

Konsep "pemberdayaan" dalam balutan kontes kecantikan inilah yang masih menjadi pertanyaan besar. Acara sejenis "kontes kecantikan" masih dianggap problematik. Ada yang menganggap acara serupa punya unsur objektifikasi pesertanya. Swara berusaha keras menghindari kesan negatif tersebut.

Para kontestan wajib punya bakat dan aktif menggalang kegiatan sosial. Selain itu mereka sudah pasti memiliki kecerdasan dan pengetahuan. Karena itulah, Kanza Vina, yang juga seorang aktivis transgender, menolak jika malam inagurasi ini disamakan dengan kontes kecantikan. "Jadi sebenarnya konsep beauty pageant transgender yang harus rambut panjang, yang harus punya payudara, harus cantik, harus tampil sempurna, itu kan jauh banget dari konsep Transchool," ujarnya. Vina menekankan bahwa malam inagurasi Transchool semangatnya adalah menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah masalah. Bahkan bila para transperempuan itu memutuskan kembali pada identitas gender awalnya sekalipun.

"Pencarian jati diri itu sangat berubah-ubah, bisa dia sekarang perempuan besok dia jadi siapa kita enggak tahu. Karena itu yang dibilang, seksualitas itu sangat cair sekali," kata Vina.

Iklan

"Jadi orang itu enggak gampang sekonyong-konyong nanya 'kapan kamu menjadi transgender?' Ya aku enggak tahu kapan."