Anggota Rahasia The Jadugar

FYI.

This story is over 5 years old.

BUKU

Anggota Rahasia The Jadugar

Kolektif seniman video berjaya di era MTV Indonesia ini rupanya punya tulang punggung: sosok perempuan yang tak banyak disinggung. Setelah tujuh tahun bubar, mereka kembali reuni.

Saat membicarakan kiprah kolektif seniman video The Jadugar, biasanya kita hanya akan menyinggung sosok Anggun "Culap" Priambodo dan Henry "Betmen" Foundation. Dua sosok ajaib ini melahirkan video-video aneh yang membentuk selera satu generasi di Indonesia. Mereka terutama dikenang berkat tafsir harfiah video klip band Lain "Train Song" yang mewujud menjadi kereta mainan berjalan-jalan di antara kehidupan kota; kolase wayang lagu Naif yang memiliki judul mahapanjang ( Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia Yang Ada Di Seluruh Dunia); cat semprot pada video The Brandals Lingkar Labirin; hingga intepretasi unik keduanya terhadap lagu-lagu populer ala Peterpan. Selain Cerahati, sepertinya cuma the Jadugar yang layak disebut kreator video musik dengan ciri khas kuat di kanal MTV Indonesia pertengahan 2000-an.

Iklan

Tak banyak orang tahu, sebenarnya ada satu nama yang terlibat aktif dan berpengaruh besar bagi perkembangan kreatif the Jadugar. Dia adalah anggota ketiga yang sangat jarang memperoleh sorotan: Nana Suryadi. Nana adalah tulang punggung yang menjamin Anggun dan Betmen tetap bisa menelurkan ide-ide unik khas The Jadugar. Panjang-pendeknya usia The Jadugar sebagai sebuah unit seni visual, sedikit-banyak bergantung pada eksistensi Nana di dalamnya. Tak lama setelah Nana keluar, berakhir pula kiprah The Jadugar. Anggun berjalan sendiri, Betmen bekerja mandiri, dan Nana hilang tak jelas rimbanya.

Tujuh tahun setelah The Jadugar bubar, Anggun berusaha mencari Nana. Anggun sedang menyusun buku yang mengarsipkan rekam jejak kolektif seni di masa mudanya itu. Anggun akhirnya memperoleh petunjuk. Setelah tak menjadi bagian dari kolektif video itu, Nana berpindah-pindah kerja. Dia sempat pindah tinggal di Batam bersama suami, merawat anak pertamanya. Nana meninggalkan dunia video kontemporer seutuhnya. Dia tak lagi mengikuti karya yang dibuat Anggun, apalagi Betmen, sosok yang dulu selalu menemani hari-harinya semasa dia bekerja di radio Prambors. Nana dan Betmen pernah berpacaran sebentar. Hanya satu tahun.

Kisah cinta Nana dan Betmen diawali saat Prambors mengadakan audisi terbuka yang menyaring talenta penyiar radio baru melalui anak-anak kampus Institut Kesenian Jakarta. Vincent dan Desta adalah beberapa yang terpilih dari proses ini. Suatu hari Desta berhalangan siaran, lalu mencari sosok pengganti di kampus IKJ. Betmen yang memang anak radio sejak masih tinggal di Bogor, menyambut baik kesempatan tersebut. Bertemulah dia dengan Nana. Dari sana kisah cinta mereka dimulai. Dari situ pula sejarah The Jadugar mulai ditorehkan.

Iklan

Anggun butuh perjuangan ekstra menemukan tempat tinggal Nana, sobat lamanya. Dia sempat berputar-putar di kawasan Bintaro. Akhirnya, rumah itupun ditemukan. Dia disambut sepasang suami istri yang langsung menyalaminya, sambil berkata sosok yang dia cari ada di dalam. Nana kemudian menyapa, ternyata dia sedang hamil tua. Nana sengaja pulang dari Batam untuk melahirkan di Jakarta.

Ada sedikit rasa kagok di awal pertemuan mereka. Beruntung pembawaan Nana yang ceria mencairkan suasana. Adik ipar Nana menyimak pembicaraan antara Anggun dan Nana dengan tatapan berbinar, kemudian di tengah percakapan dia membuat pengakuan yang menarik. "Dulu zaman MTV, gue idola banget sama Jadugar, lihat videoklipnya Naif sama The Brandals, itu amazed banget. Pas kawin baru sadar, eh kakak ipar gue itu The Jadugar!"

"Secara nama saja, saya sebenarnya engga pernah paham dengan (arti-red) The Jadugar, saya sempat protes kepada mereka berdua. Tapi mereka sudah tenggelam dengan imajinasi di kepala mereka sendiri. Mereka tertawa dan kegirangan membayangkan betapa kerennya nama tersebut. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala," kata Nana.

Merasa datang dari latar belakang yang jauh dari bidang kesenian, Nana selalu mengambil jarak pada proses kreatif Anggun dan Betmen, membiarkan keduanya meliarkan fantasi. Tapi, ketika The Jadugar mulai berhubungan dengan major label, Nana mengambil peran sentral: menjadi jembatan antara ide gila Jadugar dengan keinginan pihak label yang seringkali konservatif. Biasanya semua berjalan lancar, tapi pernah juga video mereka gagal tayang. Suatu kali, The Jadugar disewa untuk membuatkan video klip untuk sebuah band major label. Anggun ingin shooting di daerah pantai Pulau Seribu karena menurutnya pemandangannya bagus. Dia tidak tahu kalau ternyata harus banyak izin yang harus diurus sebelum shooting di situ. "Kalau nggak salah pas itu kita juga sampai tumpengan sebagai syarat. Shooting semalaman di perahu, karena kita menunggu sunrise. Tapi akhirnya video entah tak jadi tayang atau band-nya tak berhasil muncul ke permukaan. Tapi itu lebih karena band-nya katro sih," kata Nana sembari tertawa.

Iklan

Dengan konsep kerja yang sudah terbentuk, Nana, Anggun dan Betmen mulai beranjak dari kolektif yang sekadar membuat video klip untuk musisi dari satu tongkrongan, menjadi salah satu klipmaker yang diandalkan oleh industri musik Indonesia. Menurut Nana sebenarnya ada cita-cita besar yang sedang dia persiapkan saat itu untuk masa depan Jadugar. Dia membayangkan suatu saat nanti The Jadugar bisa menjadi production house yang lebih serius, "Gue sebenarnya mulai melihat bahwa ide-ide Betmen dan Anggun bisa masuk ke iklan. Itu salah satu ambisi gue pribadi. Bahkan gue sempet mau resign saat itu, karena gue merasa engga bisa total di Jadugar kalau gue masih harus kerja senin sampai jumat, sedangkan hari sabtu-minggu harus shooting jam 5 pagi. Tapi saat gue cerita ke Anggun, dia tampak terbebani dengan ide bahwa gue akan resign. Di situ gue mulai mikir lagi."

Ide Nana layu sebelum berkembang. Setelah mengurungkan keputusannya untuk resign agar bisa mengurus the Jadugar secara profesional, Nana dan Betmen sepakat putus. Dan dari situ hubungan mereka bertiga sudah tak sama lagi. Nana mengaku susah mengobrol dengan Betmen. "Ke Betmen gue udah susah, ke Anggun jadinya komplain melulu. Kasihan sebenarnya si Anggun, dia jadi pelampiasan tanpa tahu salahnya apa," ungkapnya sambil tertawa.

Di tengah obrolan, Ibu Nana yang berada di ruangan pamit keluar rumah. Perempuan sepuh ini masih ingat sosok Anggun, yang tujuh tahun lalu menyibukkan aktivitas anak perempuannya. "Di rumah masih banyak banget kop surat dan amplop The Jadugar, udah mau dibuang dari kapan, tapi selalu engga dibolehin sama Nana." Anggun bertanya ke Nana, "Emang iya kita punya kop surat?" Nana menjawabnya dengan nada kesal. "Nah, yang gini ini, mereka mana tahu kalau urusan dokumen seperti itu. Gue biasanya yang kebagian ngurusin begituan. Padahal desain yang bikin ya mereka sendiri," tukasnya.

Maghrib menutup pertemuan dua teman lama ini. Sepanjang perjalanan pulang, Anggun antusias bercerita bagaimana sosok Nana selalu memberikan pemikiran baru yang menyegarkan. Meski berhalangan ikut reuni, Betmen diperkirakan akan mau terlibat di kesempatan lain. Di akhir pertemuan, Nana meminta Anggun mengirimkan arsip foto saat dia masih bergabung bersama The Jadugar. Nana juga menyampaikan sebuah ide baru yang sangat menarik untuk dikembangkan bersama dua teman lamanya. Nana seolah lupa bahwa beberapa minggu lagi, bayi di kandungannya akan lahir. Mungkin saja, kita bisa berharap The Jadugar akan kembali meramaikan kancah musik Indonesia.


Sebagian isi artikel ini dicuplik dari Buku The Jadugar yang sedang disusun. Buku ini juga akan memuat komentar para pegiat musik, seperti Cholil Efek Rumah Kaca hingga Marcel Thee, dalam memaknai sumbangsih The Jadugar bagi perkembangan kancah musik independen Indonesia. Selain buku, akan dirilis pula arsip-arsip yang belum pernah dipublikasikan oleh kolektif video dari Jakarta ini.