FYI.

This story is over 5 years old.

Perang Narkoba Filipina

Bertemu Senator Perempuan Paling Berani Mengkritik Presiden Rodrigo Duterte

VICE News mewawancarai Senator de Lima di Filipina, yang meski nyawanya terancam dan dijebloskan ke penjara, tetap lantang mengkritik kebijakan perang narkoba Presiden Filipina.

Senator Leila de Lima bisa jadi satu-satunya tokoh oposisi Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, yang paling vokal. Lima telah dijebloskan ke penjara karena sikap politiknya. De Lima menghadapi tuduhan polisi menerima sogokan bernilai sekitar $100,000 (setara Rp 1,3 miliar) dari gembong narkoba saat menjabat menjadi Menteri Kehakiman. De Lima menampik tuduhan tersebut. Dia meyakini kasusnya ini direkayasa sebagai intimidasi karena dia rutin mengecam kebijakan pemerintah Filipina. Di depan publik, Presiden Duterte pernah menyuruh de Lima gantung diri saja karena berseberangan dengan agenda perang narkoba. Sebelum dijebloskan, De Lima sedang melakukan penyelidikan terhadap rangkaian pembunuh ekstrajudisial yang menelan korban jiwa ribuan orang selama beberapa bulan terakhir di seantero Filipina.

Iklan

Pada Agustus 2016, De Lima memimpin komisi khusus di senat menyelidiki rentetan kasus pembunuhan terkait narkoba. Salah satu saksi dalam penyelidikan itu adalah mantan pembunuh bayaran. Sang pembunuh bayaran, Edgar Matobato, menyatakan bahwa dirinya dibayar menghabisi pelaku kriminal dan lawan politik Duterte, sejak sang presiden masih menjabat sebagai Walikota Davao. Empat hari setelah sidang terbuka itu, de Lime dicopot dari posisi ketua Komite Keadilan dan Hak Asasi Manusia karena dugaan suap.

Koresponden Vice News. Gianna Toboni berhasil mewawancarai Senator de Lima di Filipina. Meski nyawanya terancam, de Lima menjadi satu-satunya politikus yang berani mengkritik kebijakan perang melawan narkoba Presiden Duterte yang telah menelan korban 7.000 nyawa. "Mereka bilang bisa menghancurkan saya dalam setahun. Jadi saya bilang ke mereka, kalau harus jatuh, saya bakal bertempur mati-matian sebelumnya."

Simak video wawancara VICE News berikut: