FYI.

This story is over 5 years old.

Seniman

Menyelami Alam Bawah Sadar Penuh Sains Fiksi dan Fantasi Liar di Kepala Riandy Karuniawan

Seniman yang dikenal luas berkat artwork keren di sampul album Komunal, kini memutuskan menggelar pameran tunggal. Dia mengulas motif-motif dalam karyanya.
9.12.16
Semua gambar dimuat atas seizin Riandy Kurniawan.

Meski karyanya berserakan di mana-mana, butuh waktu lama sebelum akhirnya memutuskan menggelar pameran tunggal.Riandy Karuniawan

Karya-karya Riandy seringkali berupa lukisan warna-warni. Citra-citra lukisannya seakan berasal dari mimpi yang kental dengan pengaruh fiksi sains/fantasi, game komputer Dungeons dan Dragon, serta anime klasik dari 80-an. Sepintas, karya Riandy mirip poster-poster yang ditempel di kos-kosan murah mahasiswa. Bedanya, karya Riandi punya sentuhan sekolah seni yang kuat. Seniman ini dikenal di kalangan musisi sebagai ilustrator handal. Sampul album Komunal hingga Siksa Kubur, pernah memperoleh sentuhan kreativitasnya.

Iklan

Pameran tungal pertama Riandy digelar di World End Gallery and Store, Bandung, Jawa Barat. Pameran berlangsung sampai Januari 2017. Riandy memberi tajuk pamerannya "Sathar Vol.1: Past."

Sesuai namanya, pameran ini adalah bagian pertama dari trilogi pameran yang menyigi masa lalu, masa kini dan masa depan karya Riandy. Bagi Riandy, karya-karya awalnya adalah "ekspresi batin-nya."

Karya-karya yang ditampilkan banyak berupa imaji-imaji yang muncul begitu saja serta menggabungkan motif primitif dan futuristik. Hasilnya: artwork yang bisa masuk dengan mudah ke dalam antologi komik Perancis Heavy Metal yang kesohor.

Banyak karyamu bicara alam bawah sadar. Bisa tolong jelaskan lebih jauh alasannya?
Riandy Karuniawan: Aku percaya kepribadian seseorang dibentuk oleh kenangan yang kita punya, terutama kenangan bawah sadar. Kenangan bawah sadar tak bisa diakses kesadaran kitam, namun punya peranan penting dalam proses pengambilan keputusan, emosi, dan perilaku kita. Aku percaya pengalaman kita di masa lalu yang biasanya tersimpan di alam bawah sadar punya pengaruh yang kuat terhadap emosi, motif tindakan kita, dan keputusan yang kita ambil saat ini atau di masa depan.

Kamu dikenal sebagai seniman yang memanfaatkan banyak medium untuk mengemukakan idemu
Aku sepenuhnya sadar orang kadang perlu stimulus berbeda untuk bisa keluar dari dirinya sendiri dan mengalami sebuah pengalaman spiritual. Misalnya, aku pernah menggunakan kacamata 3D demi merasakan sensasi yang biasanya cuma bisa diperoleh dengan mengkonsumsi halusinogen.

Iklan

Pameran ini jadi semacam 'greatest hits'-mu, lukisan favoritmu yang mana saja?
Di Pameran nanti, akan ada 17 lukisan pribadiku dan beberapa artwork yang aku kerjakan untuk merchandise band atau sampul album. Hampir semua lukisan ini menyertakan Sathar—sebuah karakter yang kupercaya sebagai refleksi jiwaku. Lukisan ini ("Faith: Ababil") terinspirasi dari sebuah cerita dalam kitab suci Al Quran ketika Allah mengirim sepasukan burung Ababil untuk menghancurkan pasukan gajah yang hendak menghancurkan Ka'bah. Cerita ini aku dengar saat masih kecil dan aku memutuskan untuk menggambarkannya sebagai sebuah pertarungan kebaikan vs kejahatan.

Sementara dalam karya ini ("Myth of Heroism"), aku menggunakan kebebasan artistikku untuk merekonstruksi cerita dan mempertanyakan konsep kepahlawan. istilah pahlawan kerap digunakan untuk mendukung berbagai kepentingan pribadi. Konsep kepahlawanan yang aku pahami sejak belia lewat mitos, cerita rakyat, kisah keagamaan dan media massa tak lagi cocok dengan masyarakat modern. Pahlawan modern lebih sering membela yang kuat, tak lagi berada di sisi yang benar. Karyaku yang ini juga dipengaruhi epos kepahlawanan dari manga, anime dan serial superhero jepang dekade 80-an.

Lukisanmu banyak menampilkan alam sebagai musuh, teman, dan kadang elemen fantasi. Ada yang ingin kamu ingin sampaikan?
Aku banyak memasukkan elemen alam karena alam mengingatkan aku bahwa aku juga bagian dari semesta. Akhir-akhir ini, manusia dan alam sangat jauh terpisah. Manusia cuma memanfaatkan alam untuk memenuhi ambisi pribadinya. Alam banyak diubah dan dirusak oleh manusia, entah itu untuk kepentingan keselamatan manusia atau cuma untuk bersenang-senang. Karya saya adalah tanggapan atas realitas ini serta tanggapan terhadap makin merenggangnya hubungan kita dengan alam demi mengejar kemajuan teknologi. Karya saya berfungsi sebagai sebuah paradoks yang menelusuri sesuatu yang tak alami sebagai suatu yang alamiah—titik tempat realitas dan fantasi melebur menjadi sebuah persepsi baru dalam memandang dunia.

Sebagai seorang seniman, apa yang membuatmu tertarik terhadap makhluk gaib dan tema-tema fantasi?
Penggunaan elemen subyek nonrealistik dan berbau mitos menambah lapisan fantasi dalam karyaku yang harus ditembus penikmatnya. Aku berusaha menampilkan sebuah realitas yang memicu halusinasi. Biasanya, orang bakal bilang kalau karya surreal. Aku ingin lukisanku jadi semacam gerbang—sebuah media bagi penikmatnya untuk melepaskan realitas yang mengurungnya dan memungkinkan mereka sampai pada refleksi akan dirinya sendiri. Intinya sih, aku ingin mengungkap pemahaman orang akan alam dan hubungannya dengannya.

Jadi, kamu cuma memberikan gambaran samar yang bisa dijadikan bahwa kontemplasi, namun penuh dengan respon emosional. Kamu ingin memancing reaksi orang
Aku melihat karyaku sebagai rekonstruksi dan komposisi bentuk, garis dan perspektif yang membentuk sebuah narasi. Aku ingin memberikan kebebasan mutlak pada penikmat karyaku untuk menggunakan daya pikir, emosi, persepsi dan opini mereka. Mereka toh memang tak harus menemukan kebenaran dalam karyaku. Aku cuma ingin mereka lepas dari realitas mereka barang sebentar agar bisa menerima bahwa tak pernah ada simpulan yang tuntas, tak pernah ada kebenaran yang absolut, tak pernah juga ada stigma dan dogma dalam dalam seni lukis. Menurutku, kebenaran dibuat oleh setiap individu. Tentu saja, tiap individu berbeda satu sama lain. Aku adalah seorang seniman yang tengah bereskperimen dengan surrealisme. Surrealisme adalah panduanku karena selama berkarya aku membiarkan alam bawah sadarku mengekspresikan diri.