Google Searchlight

Cerita Kapal Selam Raksasa Terdampar di Tengah Kota Surabaya

Monumen kapal selam yang kesohor itu adalah warisan hubungan baik antara Indonesia dengan Uni Soviet.
15.1.17

Tidak banyak kota besar di Indonesia yang seeksentrik Surabaya. Kota Pahlawan itu punya gayanya sendiri. Di mana lagi ada kota punya monumen Hiu bertarung melawan Buaya selain di Surabaya.

Surabaya juga rumah bagi semua bangsa. Beragam etnis mendarat lalu bermukim di kota pelabuhan yang identik dengan perdagangan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia itu.

Jika masih merasa Surabaya biasa-biasa saja, maka satu hal ini tidak akan ada bandingannya: Tidak ada lagi kota lain di seluruh dunia ini memiliki kapal selam yang parkir di tengah kota. Cuma Surabaya.

Iklan

Kami menjelajahi Monumen Kapal Selam Surabaya pada malam hari. Bukan apa-apa, kami mengakui hanya pecundang yang khawatir meleleh ditelan teriknya matahari Surabaya.

Tidak jauh dari Sungai Kalimas dan jejeran pusat perbelanjaan Surabaya di Embong Kaliasin, bangunan kapal selam ini sangat mencolok. Ketika kami datang setelah maghrib, monumen itu masih ramai. Kebanyakan anak-anak beserta orangtua dan pemuda-pemuda tanggung bergaya, berfoto diri dengan latar kapal selam hijau kaku itu. Kami tidak buang-buang waktu untuk segera masuk ke dalam bangunan. Tiket masuknya sangat murah, dibanderol Rp5.000 per orang.

"Kapal ini dulu sempat pernah dipakai untuk pembebasan Irian Barat melawan Belanda," kata Retno, pemandu yang bertugas malam itu, seraya membawa kami masuk ke dalam sela-sala bilik kapal yang bisa bikin para pengidap klaustrifobia menjerit. Operasi Trikora di Papua itu dijalankan Presiden Sukarno pada Desember 1961 hingga Agustus 1962.

Banyak yang bertanya mengapa kapal selam pertama milik Indonesia buatan Uni Soviet ini "terdampar" di tengah kota Surabaya. "Karena ini kan kapalnya mengalami kerusakan total, dan dimuseumkan karena ini kapal selam pertama yang dimiliki Indonesia. Dimuseumkan kenapa di Surabaya, karena Surabaya pelabuhan terbesar di Indonesia gitu," urai Retno.

Kapal selam dengan nama sandi KRI Pasopati 410 itu bertugas selama 30 tahun sejak dipakai perdana untuk Trikora. Kapal ini dipensiunkan pada 1995, lalu diubah menjadi museum.

Dalam sejarahnya, kapal selam ini digunakan sebagai salah satu alutsista dalam operasi pembebasan Irian Barat dari Belanda. Kapal ini dapat mengangkut 63 orang untuk penyelaman maksimal tujuh hari, dan mengangkut sepuluh torpedo.

Pengunjung dibiarkan melihat detil tiap sudut-sudut ruangan kapal yang beberapa diantaranya masih menggunakan huruf cirilik khas Uni Soviet (kini Rusia). "Itu jadi dulu hubungan antara [Soviet] dan Indonesia itu baik banget" ungkap Retno. "Jadi [Soviet} menghibahkan kapal selam ini untuk Indonesia."

Tidak hanya sebagai monumen tengah kota bagi mereka yang doyan foto saja, "Unik sih. Edukasinya sebenernya dapet karena kita benar-benar bisa masuk ke kapal selam itu," jelas Hanna Nurie salah satu warga Surabaya.

Di tengah segala keanehan dan paradoks yang ada di kota ini, monumen ini seakan-akan menjadi pengingat akan sebagai salah satu poros utama kemerdekaan Indonesia.

"Ya, harus banget dikunjungin, karena ini punya nilai sejarah. Jadi biar orang tahu itu Indonesia punya perjuangan untuk pembebasan Irian Barat. Jadi itu buktinya," ungkapnya di akhir perjumpaan kami