FYI.

This story is over 5 years old.

Berita

Pria Kirgiztan Jadi Tersangka Utama Insiden Pemboman Kereta Bawah Tanah Rusia

Tes DNA membuktikan Akbardzhon Dzhalilov (22) adalah pelaku bom bunuh diri yang menewaskan 14 orang dan melukai 50 lainnya itu. Belum jelas apa dia bergabung dengan kelompok teror tertentu.
Foto oleh Grigory Dukor/Reuters.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Penyidik Kepolisian Rusia mengumumkan tersangka utama peledakan bom kereta bawah tanah di Kota St. Petersburg, yang menewaskan 14 orang (sebelumnya ditulis 11 orang) dua hari lalu. Pelaku disebut pria 22 tahun kelahiran Kirgiztan. Lebih dari 50 orang luka-luka akibat insiden ini.

Komite Investigasi Anti-Teror Rusia, melalui keterangan tertulis, menyatakan tersangka bernama Akbardzhon Dzhalilov adalah pelaku pemboman ini yang ikut tewas dalam insiden tersebut. Dia memiliki paspor dan berstatus warga negara Rusia. Hasil tes DNA menunjukkan bila Dzhalilov melakukan bom bunuh diri di kereta Metro padat penumpang. Sidik jari pelaku juga ditemukan dalam bom kedua yang berhasil ditemukan serta dijinakkan oleh polisi di stasiun lain St. Petersburg sebelum meledak.

Iklan

Juru Bicara Badan Antiteror Kirgiztan mengakui Dzhalilov adalah pria yang sempat tinggal lama di negara mereka. Saat diwawancarai kantor berita Rusia ITAR-Tass, pihak Kirgiztan belum mengetahui apakah dia terkait jaringan kelompok teror tertentu. "Yang bisa kami sampaikan, bahwa benar tersangka peledakan bom di Rusia adalah kelahiran negara kami."

Kirgiztan, negara pecahan Uni Soviet, selama ini relatif tidak punya masalah dengan Rusia. Negara berpenduduk enam juta jiwa dan mayoritas muslim itu justru terhitung sekutu dekat Kremlin. Rusia memiliki pangkalan udara militer di Kirgiztan.

Sumber yang terlibat dalam penyelidikan insiden ini menyatakan pada media, ada petunjuk yang mengaitkan Dzhalilov dengan kelompok pemberontak Suriah. Sedangkan informasi lain dilansir kantor berita Interfax menyatakan tersangka adalah anggota jaringan kelompok Islam garis keras yang terlarang di Negeri Beruang Merah itu. Hingga berita ini ditayangkan, belum ada kelompok teror manapun mengaku bertanggung jawab atas insiden peledakan bom di jaringan kereta Metro St. Petersburg.

Presiden Rusia Vladimir Putin sedang berada di St. Petersburg pada saat kejadian. Dia segera mendatangi lokasi insiden, meninggalkan karangan bunga mengenang para korban, serta mengunjungi korban luka di rumah sakit. Pemerintah Rusia masih belum kompak menyebut insiden itu sebagai terorisme. Dalam jumpa pers terakhir, juru bicara Moskow masih mengatakan semua kemungkinan motif terus diselidiki. Adapun dalam kesempatan terpisah Jaksa Agung Rusia menyatakan ledakan bom kereta bawah tanah ini hampir pasti merupakan aksi teror terencana. Sejak Selasa (4/4), pemerintah Rusia mencanangkan hari berkabung nasional selama tiga hari untuk mengenang dan bersolidaritas bagi para korban ledakan bom St. Petersburg.

Berikut data dan fakta terbaru seputar insiden bom kereta Metro St. Petersburg:

  • Bom bunuh diri meledak di kereta bawah tanah yang sedang melaju di antara rute Stasiun Sennaya Ploshchad dan Tekhnologicheskiy Institut, Senin sore waktu setempat. Laporan awal menyebut polisi menemukan bom kedua. Berikutnya, dikabarkan bila bom berhasil dijinakkan Gegana St. Petersburg. Bom kedua itu diletakkan di sebuah kotak pemadam api darurat dalam stasiun yang berjarak 1,5 kilometer dari lokasi ledakan pertama. Aparat menyatakan bom kedua itu dipasang oleh tersangka Dzhalilov.
  • Menteri kesehatan Rusia Veronika Skvortsova menyampaikan data terbaru korban ledakan bom. Dia mengatakan korban tewas bertambah, dari awalnya 11 orang menjadi 14 orang. Tujuh orang tewas seketika di lokasi kejadian, termasuk pelaku. Satu orang tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit, sedangkan enam lainnya tewas setelah perawatan intensif di ICU karena luka-lukanya terlalu parah.
  • Dzhalilov, sang tersangka utama bom bunuh diri, adalah pria kelahiran Kota Osh, Kirgiztan, pada 1995. Pejabat dinas intelijen Kirgiztan kini sudah berhubungan dengan pejabat Rusia untuk meneliti lebih lanjut kenapa dia bisa terlibat aksi bom bunuh diri.
  • St. Petersburg adalah kota kedua terbesar di seluruh Rusia. Insiden bom ini membuat aktivitas kota berhenti total dalam sehari. Pada Selasa sore waktu setempat, aktivitas transportasi umum sudah kembali normal. Sebagian besar jaringan kereta bawah tanah Metro juga telah pulih seperti sedia kala. Hanya empat stasiun, termasuk rute yang menjadi lokasi nahas pemboman, masih ditutup sampai sekarang.
  • Kamera CCTV merekam gerak-gerik Dzhalilov yang mencurigakan di stasiun serta sebelum masuk ke dalam gerbong. Sebelum meledakkan diri, dia mengenakan jaket tebal warna merah, memakai kacamata, serta membawa tas punggung berukuran besar. Penyidik Kepolisian menyatakan bom yang meledak adalah buatan sendiri dan dipasang di tas punggung tersebut. Dalam bom ini juga terdapat benda-benda tajam dari pecahan besi, yang diharapkan bisa memicu korban lebih banyak.
  • Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, segera menelepon Putin untuk menyampaikan bela sungkawa. Dia juga mendukung Rusia mengejar jaringan pelaku peledakan itu agar diadili. "Presiden Trump dan Presiden Putin sama-sama sepakat bahwa potensi terorisme seperti apapun harus dilawan sebisa mungkin," seperti dikutip dari keterangan tertulis kedua negara. Kanselir Jerman Angela Merkel dan Perdana Menteri Inggris Theresa May turut mengungkapkan dukungan bagi pemerintah Rusia untuk mengungkap kasus ini.
  • Berbeda dari aksi teror lainnya setahun terakhir, jaringan media propaganda Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) relatif tidak memberi komentar berlebihan atas insiden bom bunuh diri di St. Petersburg. ISIS hanya menyatakan insiden ini adalah balasan bagi Rezim Rusia yang terus mendukung Diktator Basyar al-Assad di Suriah. Hampir semua aksi teror skala besar di berbagai negara setahun belakangan didalangi atau terinspirasi aksi ISIS. Kecurigaan pada militan pendukung khilafah Islamiyah sempat membesar, sebab ISIS pernah bilang akan menyerang Moskow dan kota-kota besar lainnya karena markas mereka di Suriah digempur pesawat tempur Rusia.