Artikel ini pertama kali muncul di VICE US.
Restoran vegan berserakan di seantero California Selatan, Amerika Serikat. Saking banyaknya, kerap kali kami—kaum non vegan—tak keberatan mencoba jajan di resto non-hewani. Setelah beberapa kali menjajal beberapa lokasi, akhirnya kami memperoleh pencerahan. Ternyata citarasa masakan vegan tak jelek-jelek amat; malah kadang maknyus juga. Dari puluhan restoran vegan di California Selatan, ada satu yang paling menonjol: Loving Hut—sebuah waralaba terdiri dari 140 cabang restoran, dan sebuah hotel—yang dijuluki restoran waralaba vegan paling cepat tumbuh di dunia. Lebih keren lagi, waralaba ini dikelola oleh sebuah grup yang dianggap oleh banyak orang sebagai sebuah sekte keagamaan gaya baru.
Loving Hut didirikan oleh Supreme Master Ching Hai, seorang pengusaha wanita asal Vietnam. Di samping kerajaaan restorannya, Ching Hai—pernah dijuluki "Buddhist Martha" oleh TIME—adalah pemilik sebuah lini bisnis perhiasan, satu lini label pakaian dan Quan Yin Method, sebuah ajaran pseudo-agama yang memiliki—menurut beberapa perkiraan—500.000 pengikut.
Anda mungkin belum pernah mendengar nama Ching Hai, karena untuk ukuran pemimpin sebuah sekte, dia adalah sosok yang dikultuskan, tapi kalem-kalem saja. Setidaknya, belum pernah ada pembunuhan massal yang mengatasnamakan dirinya dan dia tidak memeras duit pengikutnya seperti Scientology. Malah Quan Yin Method mengajarkan pelestarian semua bentuk kehidupan di atas segalanya. Lebih dari itu, sekte ini mengajarkan pada pengikutnya agar tidak berbohong, tidak mengambilkan apa yang tidak ditawarkan, tidak mengkonsumsi alkohol atau obat-obatan, serta menghindari "perilaku seksual tak senonoh," entah apapun itu maksudnya.
Tiap pemimpin sekte memerlukan fasilitas untuk menyebarkan pesan mereka. Dalam kasus Ching Hai, medium yang dipilih adalah makanan. Kini, Loving Hut telah memiliki cabang di berbagai kota mulai dari Johor Baru, Jeonju, sampai Jakarta. Loving Hut tidak beroperasi layaknya sebuah waralaba restoran biasa. Hubungan manajerial tiap restoran bersifat manasuka. Alhasil, tiap cabang bebas memilih bagaimana restoran itu dikelola, selama masih sejalan dengan filosofi Ching Hai.
Saya mengunjungi outlet Loving Hut terdekat. Letaknya di Claremont, California, kira-kira satu jam perjalanan dari Kota Los Angeles. Outlet yang satu ini terdapat di sebuah pusat perbelanjaan modern, tepat di sebelah kedai makan seperti Le Pain Quotidien and Yogurtland. Loving Hut tersebut—dengan foto menu yang sudah pudar tertempel di depan jendela depannya—terlihat canggung di antara estetika restoran yang berjejer di sekitarnya. Akhir-akhir ini banyak orang melabeli segala sesuatu dengan istilah "Lynchian" - artinya estetika absurd sebagaimana film-film sutradara nyentrik David Lynch. Tanpa bermaksud ikut arus, dalam kasus Loving Hut, istilah itu barangkali satu-satunya kata yang pas menggambarkan suasana restoran ini.
Kerai ditarik sampai ke bawah untuk menahan sinar matahari tengah hari yang menyengat. Namun, masih ada sinar matahari yang berhasil menerobos masuk. Sisa-sisa sinar inilah yang menjadi penerangan ruangan dan memperlihatkan partikel debu yang melayang-layang di udara. Seorang pria kulit putih—berambut gaya dreadlock dan mengenakan kaos polo—sedang menyuapi anaknya yang ditempatkan dalam sebuah kereta bayi. Di meja lainnya, dua perempuan duduk berhadapan, tak makan tapi asyik bercakap-cakap. Ada musik yang menenangkan—mirip musik yang anda dengar di panti pijat—keluar dari speaker yang terpasang di beberapa sudut ruangan.
Sebuah televisi yang dipasang di dinding menayangkan video berisi cuplikan pemandangan alam, mirip seperti yang anda jumpai di latar video musik karaoke, tentunya dengan teks yang terus mengarah ke bawah. Saya baru sadar bahwa yang saya tonton adalah Supreme Master TV, sebuah kanal televisi milik Ching Hai, yang ditayangkan di hampir semua outlet Loving Hut dan di jaringan 71 cable dan IPTV, seperti yang tertulis di situs resminya. Kanal 24 jam ini menayangkan acara dengan judul-judul yang fantastis seperti "Vegetarianism: The Noble Way of Living," "Animal World: Our Co-Inhabitants," dan "Words of Wisdom."
Sekian detik berikutnya, satu-satunya staf penerima tamu di restoran itu mengantar saya ke sebuah meja. Daftar menu yang saya terima besar bukan kepalang. Tiap outlet diberikan kebebasan memilih menu, artinya tak ada keajegan menu dari cabang satu dengan lainnya, kecuali bahwa yang disajikan harus makanan tanpa bahan baku hewani.
Saya lantas bertanya pada pelayan, makanan apa yang dia rekomendasikan. Si pelayan menawarkan Asian Gyro — bahan pengganti daging yang dihimpit roti, daun bawang campur terong, tomat, daun-daunan segar, serta saus sambal pedas. Setelah berpikir bahwa saya akan jarang bertemu oplosan masakan Asia dan Yunani semacam itu, saya langsung mengiyakan tawaran langka ini.
Sembari menunggu pesanan, saya melihat barisan foto pesohor di dinding restoran. Ini adalah foto "kelompok vegan dan vegetarian elit", mulai dari orang-orang yang sama sekali tak saya kenali, hingga mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton. Ada plakat di sebelah foto-foto itu yang berusaha memberi penjelasan, ditulis menggunakan penempatan huruf kapital yang aneh "These Smart, Beautiful, Talented People are Vegan and Vegetarian. Why aren't you?" (tokoh-tokoh pintar, cantik dan bertalenta ini adalah vegan atau vegetarian, kenapa anda tidak?). Pertanyaan ini tentu janggal dipasang di restoran yang pelanggannya jelas-jelas mencari makanan non-hewani.
Pemilik outlet Loving Hut cabang Claremont, Charles Liang, membeberkan pada saya bahwa dia menjadi murid Ching Hai sejak 1996. Ketika outlet Loving Hut pertama di buka pada 2008, dan waralaba ini berkembang pesat, Liang segera mencoba peruntungan, turut serta menyebar ajaran sekte mereka tentang veganisme dengan membuka cabang di tempat tinggalnya.
"Yang paling penting adalah menyelamatkan kehidupan. Mencintai binatang, mencintai sesama dan mencintai diri sendiri," ungkap Liang. "Segala hal terhubung satu sama lain. Semuanya memiliki getaran. Alam adalah mukjizat. Inilah alasan utama restoran ini menawarkan makanan vegan organik, bukan cuma vegan saja."
Liang bercerita bahwa Supreme Master Ching Hai kerap mengunjungi cabang-cabang restorannya di seluruh penjuru dunia. Dia bahkan pernah mampir beberapa kali ke outlet Clarement. Rupanya, manusia setengah dewa masih perlu makan juga.
Asian Gyro pesanan saya datang tak berapa lama, dan rasanya maknyus. Pengganti dagingnya terasa seperti daging sapi betulan dan roti daun bawangnya membuat rasanya semakin ciamik. Alih-alih berceramah tentang mulianya hidup sebagai seorang vegan, pelayan restoran membiarkan saya menyantap makanan bebas daging ini dengan tenang.
Tentu saja, Supreme Master TV masih mendengung di belakang sana dan foto-foto para vegan yang cerdas, semuanya terlihat berani dan cantik, memelototi dari dinding dekat meja saya. Jika anda bersedia sejenak mengabaikan semua hal-hal itu untuk beberapa saat, anda akan segera tahu rasanya menjadi pengikut Chiang Hai.
Follow Justin Caffier on Twitter.
