Di Pusaran Badai: Laporan dari Markas Pemenangan Ahok
Semua foto oleh penulis.
Berita

Di Pusaran Badai: Laporan dari Markas Pemenangan Ahok

Basuki Tjahaja Purnama merasa trauma dan lelah, di tengah kasus penistaan agama yang membuatnya kehilangan momentum dalam pilkada DKI. VICE Indonesia mengikuti kampanyenya di masa-masa sulit.
03 Desember 2016, 8:53am

Upaya Basuki Tjahaja Purnama memenangkan kembali pilkada DKI diguncang isu penistaan agama. Tekanan silih berganti dihadapi oleh sang gubernur petahana. Arzia Tivany Wargadiredja dari VICE Indonesia melaporkan langsung upaya Ahok dan tim kampanyenya, meraih kembali momentum.

Halaman belakang Rumah Lembang, di bilangan Menteng, Jakarta, menjadi lautan baju kotak-kotak merah-hitam. Saya berada di rumah ini tepat satu hari setelah Basuki Tjahaja Purnama menjalani pemeriksaan oleh Badan Reserse Kriminal Polda Metro Jaya, terkait kasus penistaan agama. Kasus itu seakan tak pernah ada di Rumah Lembang. Semua orang yang menyemut di halaman, menantikan kemunculan sang Gubernur DKI Jakarta akrab disapa Ahok itu di atas panggung.

Tenda putih raksasa menyelimuti nyaris seluruh halaman belakang. Tenda tak sanggup menangkal panas. Banyak orang kegerahan dan berkeringat dalam kemeja kotak-kotak.

Dalam situasi hiruk pikuk, Clara Tampubolon terpaksa berteriak mengatur orang-orang yang hadir. "Ibu ibu ibu... Yang tidak saya panggil tidak boleh naik ke atas," ujar Clara. Dia adalah salah satu anggota tim pemenangan Ahok-Djarot, yang ketika itu menjadi pembawa acara kampanye di atas panggung. Awalnya warga berniat swafoto diizinkan. Lambat laun semua aktivitas foto dilarang, dengan alasan waktu Ahok terbatas.

Clara sesekali memasang wajah galak agar pendukung Ahok tidak memaksakan diri naik panggung. "Awas Bu ini panggungnya roboh...Awas ya bu hati-hati."

Ahok muncul saat jarum jam menunjuk pukul 11.00. Wajahnya lelah, tapi dia terus berupaya tersenyum. Di panggung itu,Ahok mencurahkan hatinya. "Ya jangan sampai nanti ada yang rekam lagi terus salah transkrip lagi nanti saya dipanggil lagi," ujarnya.

Foto oleh penulis.

Berkali-kali Ahok minta maaf jika memang dianggap bersalah, dan berkali-kali pula dia bilang banyak orang tidak secara utuh mendengar pidatonya di Kepulauan Seribu. Ucapannya tempo hari memicu mobilisasi ratusan ribu orang di Jakarta Pusat, yang menuntut Ahok segera dipenjarakan. Ahok adalah politikus sekaligus tokoh publik paling ternama, saat ini, yang pernah dikenai pasal pidana penistaan agama.

Persoalan bertambah rumit, ketika kebijakan Ahok setahun terakhir memicu penggusuran kampung-kampung yang dianggap mengganggu program normalisasi sungai maupun pesisir. Massa yang tergusur akhirnya berkolaborasi dengan kelompok Islam radikal. Ketidakpuasan ekonomi, berubah menjadi politik sektarian, pertarungan identitas. Latar agama dan tindak-tanduk Ahok yang dituding menista Al Quran menjadi wacana publik. Melebihi isu-isu lainnya yang lebih substansial.

Semua faktor itu menggerus peluang menang sang gubernur petahana. Enam bulan lalu, pilkada DKI tampak hampir pasti dimenangkan kembali oleh Ahok. Perkara penistaan mendadak membuat politikus asal Belitung Timur itu berbalik tertinggal dari calon gubernur nomor urut satu, Agus Yudhoyono. Seandainya berhasil menjaga momentum sekalipun, masih ada masalah besar lantaran Ahok harus menghadapi pengadilan atas kasus yang membelitnya. Pengamat menyatakan sedikit sekali orang yang berhasil bebas murni setelah dijerat pasal pencemaran agama.

Unjuk rasa anti-Ahok di depan Gedung DPR membawa barongsai. Foto oleh Renaldo Gabriel.

Di tengah bermacam himpitan itu, Ahok terdorong terus menyinggung isu penistaan agama di hadapan pendukungnya. Bahkan ketika dia sedang berada di tempat paling aman, tak ada yang meneriakinya agar dipenjara seperti tuntutan massa 4 November dan 2 Desember.

"Di alam bawah sadarnya Ahok itu seperti ada trauma," kata Bambang Waluyo Wahab, Wakil Ketua Tim Pemenangan Ahok-Djarot. Bambang, adalah satu dari sedikit orang yang selalu ada di atas panggung. Dia selalu berada di belakang Ahok selama masa kampanye, di Rumah Lembang maupun di lokasi-lokasi lainnya. Bambang bertugas mengatur, menegur, dan mengingatkan calon gubernur keturunan Tionghoa ini perihal apapun. Bambang semacam alarm pengingat bagi Ahok.

"Kalau dia dianggap sebagai penista agama, maka saya bilang, dia tidak bermaksud itu," kata Bambang. "Karena, orang tua angkat kita itu orang Islam, saya juga orang Islam. Kita diajarkan standar hidup di lingkungan yang muslim dan Ahok tahu itu. Dia belajar mengenai keislaman."

Foto oleh penulis.

Bambang dan Ahok berkawan sejak lebih dari dua puluh tahun lalu. Keduanya 'bersaudara' karena sama-sama menjadi anak angkat Andi Baso Amir. Bambang bercerita, sebagai orang yang diangkat sebagai anak oleh keluarga muslim, Ahok terbiasa dibimbing lekat dengan Islam. Dengan Bambang, Ahok berbagi keluh dan haru. Menurutnya, isu penistaan agama ini membekas dalam diri Ahok.

Bambang tak berapa lama harus pamit. Dia kembali disibukkan oleh massa yang mendatangi Rumah Lembang. Rumah satu lantai ini menjadi pusat tim media dan kegiatan advokasi pemenangan Ahok. Sebagian besar tim kampanye mengenakan kemeja merah-hitam kotak-kotak. Jumlah tim pemenangan masih kalah banyak dibanding para simpatisan. Sebagian warga yang datang ingin menemui Ahok langsung, demi melontarkan pujian, kadang kritik dan keluhan.

"Saya awalnya ingin ngomong langsung sama Ahok. Dapat nomor antrean untuk foto 355. Saya datang pagi kebagian siang. Saya engga mau. Saya khusus kemari bukan untuk foto, memang untuk melapor," kata Suteja, perempuan 70 tahun hendak mengeluhkan sampah di sekitar perumahannya. Orang-orang seperti Suteja yang datang mengeluh soal Jakarta, dilayani oleh staf-staf khusus.

Keluhan warga bersanding dengan hura-hura di Rumah Lembang. Dari kejauhan terdengar suara Tompi dan beberapa musisi lainnya menyanyikan lagu-lagu nusantara, dikelilingi fans berat Ahok yang kebanyakan ibu-ibu. Mereka tertawa suka ria. Terlihat wajah-wajah familiar dunia pertelevisian Indonesia seperti Happy Salma, Cathy Sharon, hingga Lukman Sardi. Rumah Lembang juga menjadi tempat pengumpulan donasi dari warga untuk kampanye Ahok. Saat saya berada di sana, sudah terkumpul Rp101 juta, sumbangan tertinggi dalam sehari menurut anggota tim kampanye.

Di panggung Rumah Lembang, hanya Ahok sendiri yang menyinggung soal penistaan agama. Sisa tokoh dan juru kampanye yang muncul melontarkan puja-puji bagi sang gubernur.

Di tengah pendukungnya, di tengah puja-puji, Ahok masih merasa cemas. Kepada orang-orang terdekatnya, dia mengaku kampanye ini melelahkan. "Dia ini lelah dituding," ungkap Bambang.

Tim kampanye Ahok sebetulnya sejak awal mempersiapkan diri. Serangan terhadap identitas dan agama Ahok, sudah diperkirakan bakal muncul. "Tentu dengan posisi Pak Ahok sekarang sebagai double minority ya beliau non-muslim dan beliau Chinese, memang selalu dikapitalisasi sebagai alat," kata Sekretaris Tim Pemenangan Ahok-Djarot, Ace Hasan Syadzily.

Serangan dari kalangan Islam garis keras pada Ahok, bagaimanapun, skalanya ternyata lebih besar dari perkiraan awal. Perdebatan publik yang muncul, termasuk di media massa, tercurah pada identitas Ahok dan ucapannya yang kontroversial soal Surat Al Maidah.

Tekanan akibat isu penistaan agama, mengubah strategi kampanye Ahok secara keseluruhan. Penolakan muncul di beberapa keluharan dan kampung-kampung Jakarta, yang akan didatangi tim Ahok dan Wakil Gubernur Djarot Syaiful Hidayat. Salah satu reporter televisi yang sebulan terakhir mengikuti langsung kampanye Ahok, melihat sendiri enam penolakan yang terjadi, misalnya di Kembangan, Kebon Jeruk, Ciracas, dan Pasar Bangka.

Pada 2012 lalu, saat manjadi wakil menemani calon Gubernur Joko Widodo, Ahok rajin blusukan seputar Jakarta. Momen kampanye sekarang, Ahok lebih banyak berdiam di Rumah Lembang, sementara Djarot yang diminta lebih sering blusukan. Menurut salah satu staf media Djarot, terhitung sejak 26 Oktober awal masa kampanye hingga 30 November, sang wagub pergi blusukan 27 kali. Calon petahana itu bersiasat dengan berbagi peran.

Sekretaris Tim Pemenangan Ahok, Hasan Syadzily, membantah jika minimnya jadwal blusukan Ahok dipicu penolakan sebagian masyarakat Jakarta. "Yang ada adalah adanya aktor yang menggerakkan massa dan bukan dari wilayah tersebut."

Foto oleh penulis

Lalu tibalah hari besar itu, 23 November. Ahok memutuskan kembali blusukan. Pertama kalinya sejak ditetapkan sebagai tersangka kasus penistaan agama. Ahok menuju Pulo Gadung di Jakarta Timur. Tepat 500 meter sebelum tempat Ahok turun dari kendaraan, ratusan personel polisi dan TNI berjaga-jaga. Kepolisian Pulo Gadung menyatakan jumlah aparat yang diturunkan terdiri atas 320 personel polisi dan 7 personel TNI.

Beberapa ratus meter saat hendak melewati Rumah Sakit OMNI, Ahok yang berjalan kaki disambut riuh. Banyak orang mengerumuni, memintanya berfoto bersama. Berlawanan dari prediksi saya, tak ada penolakan. Di Kelurahan Kayu Putih, Pulo Gadung, Ahok disambut semarak, bersemangat, ada pula suasana haru yang terlihat ketika berhasil berdekatan dengan orang yang dianggap idola. Bahkan untuk berjalan 100 meter saja, Ahok menghabiskan waktu dua jam, dengan total perjalanan blusukan sekitar 300 meter saja.

Ahok dan timnya berjalan terus melewati area perkampungan dan perumahan penduduk. Setelah berjalan dua jam, Ahok terlihat lelah. Dia menepi dan duduk di bawah pohon mangga yang tidak rimbun, sambil duduk mengistirahatkan kakinya di depan halaman rumah warga setempat. Menurut wartawan yang sehari-hari mengikuti kegiatan Ahok, ini adalah blusukan terjauh yang Ahok lakukan. "Biasanya cuma masuk gang aja sedikit paling jauh 100 meter."

Hasan Syadzily mengklaim tim kampanye tidak akan membawa Ahok mendatangi tempat yang telah menjadi basis pendukungnya. "Karena itu tidak memiliki nilai tambah bagi kami. Kami justru mendatangi daerah-daerah yang tingkat elektabilitas Pak Ahok dan kinerja Pak Ahok sebagai gubernur sangat lemah."

Klaim Hasan berlawanan dengan pernyataan Bobi Fernando, salah satu tokoh warga Kayu Putih. Dia menyatakan di wilayahnya, pada pilkada 2012, kemenangan hampir mutlak diraih pasangan Jokowi-Ahok. "Dari dulu di sini basis dukungannya cukup banyak [untuk Ahok]."

Foto oleh penulis.

Ahok mengaku kelelahan. Blusukan kali ini lebih berat dibanding biasanya. "Saya pikir tadi saya bilang sama beberapa staf, kalau ini kan pasti lebih padat. Kita ke kawinan saja ada yang suka ada yang nggak suka aja, kadang 45 menit baru keluar," kata Ahok, di sela-sela rehat itu, sambil mengajak bicara wartawan yang mengikutinya. Dia berniat kembali menemui warga. Tak lagi bertahan di Rumah Lembang yang aman, yang penuh puja-puji baginya.

"Lihat orang sudah teriak-teriak begitu masa kita engga turun. Engga enak juga kan."

Kepada para jurnalis, Ahok menunjukkan sisinya yang rapuh, seperti diucapkan Bambang. Berulang kali dia membahas video di Kepulauan Seribu, video yang membuat posisinya tersudut.

"Saya yakin kalau semua menyaksikan dengan adil, tidak ada sama sekali saya menista agama. Tidak ada sama sekali," kata Ahok. "Dan saya sudah minta maaf juga kegaduhan ini. Karena kesalahpahaman terjadi."