Sisi Gelap Bisnis Jamu

Kita Tak Boleh Mendiamkan Iklan Jamu Lebay Mengaku Bisa Sembuhkan Gangguan Mental

Goop yang dipromosikan Gwyneth Paltrow banyak dikritik lantaran menawarkan pseudosains, padahal jamu serupa di Indonesia marak sekali. Penderita gangguan mental termasuk yang dirugikan jamu-jamu lebay tersebut.
8.8.18
Ilustrasi jamu dengan khasiat lebay oleh Dini Lestari.

Saat ini ada satu merek 'pengobatan alternatif' yang sedang dibicarakan banyak orang: Goop. Merek yang menjual jus kesehatan dan banyak produk detoks lainnya itu dimiliki aktris Gwyneth Paltrow. Kendati perusahaan tersebut diklaim bernilai setara Rp3,6 triliun, namun kritik dari kalangan kesehatan sudah menggunung. Lucunya lagi, klaim produk-produk Goop ternyata mirip belaka dengan jamu ataupun 'obat' herbal yang banyak dijual di Indonesia. Kalian pasti merasakan kemiripannya. Ingin minuman kesehatan yang bisa memaksimalkan kerja otak? Ada juga dong di Tanah Air. Atau meningkatkan 'ketenangan batin'? Tenang, versi Indonesianya sudah tersedia pula.

Iklan

Di Indonesia, konsumen gampang memilih satu dari segambreng produk jamu yang menawarkan khasiat serupa. Sayangnya, inilah yang membuat industri obat alternatif begitu sukses—sekaligus berbahaya—di negara ini.

Jamu sejatinya adalah obat herbal populer yang diracik akar-akaran dan kulit pepohonan. Sekian abad lalu, jamu hanya boleh dan disuguhkan untuk keluarga kerajaan. Sekarang, kalian cukup membuka gawai, menggunakan pencarian seperlunya serta memesannya dan jamu yang kamu incar segera dikirimkan ke tempatmu.

Umumnya jamu dikonsumsi untuk mengobati gangguan kesehatan umum seperti hilangnya nafsu makan dan pegal-pegal. Dalam kasus tertentu, jamu memang ampuh kok menangani masalah-masalah kesehatan sepele seperti ini. Banyak orang di Indonesia selalu menyediakan merek macam tolak angin atau antangin di kotak obat rumahnya. Kalau ada yang meragukan khasiat jamu tadi melawan gejala masuk angin, mending kita berantem aja deh.

Masalahnya saya tidak sedang membahas jamu-jamu tradisional yang bahkan sudah terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Tulisan ini lebih mengulas tren penjualan jamu-jamu yang khasiatnya lebay banget.

Beberapa distributor jamu, baik itu yang menjajakan produknya di dunia daring atau yang memiliki kios jamu tradisional, mulai menjual obat tradisional yang diklaim dapat menjadi obat berbagai penyakit serius seperti batu ginjal, kista, kanker, hingga gangguan mental. Sejumlah distributor malah dengan terang-terangan mempromosikan khasiat mistis produk mereka. Jelas banget, distributor ini punya satu jalan pikir yang sederhana: semakin konsumen percaya khasiat satu produk jamu—semustahil apapun itu, semakin laku pulalah barang dagangan mereka.

Iklan

Seiring penetrasi internet yang makin tak terbendung, siapapun terkesan bebas menjual apapun. Minimnya regulasi terkait jamu memaksa konsumen memilah sendiri mana produk yang bisa dan mana yang tidak. Parahnya, perbedaan antara keduanya kadang tak begitu kentara. Okelah, konsumen dapat sedikit bantuan, seperti saat BPOM mengeluarkan pernyataan resmi menampik klaim sejumlah jamu ampuh mengobati kanker. Tapi sebagian jamu dengan khasiat lebay lain jarang kena sorotan.

Salah satu merek obat-obatan alternatif online paling terkenal, De Nature, mengklaim punya solusi untuk segala macam penyakit, dari wasir hingga depresi. Bio Aura, produk De Nature yang paling kesohor, konon bisa membuka cakra, menciptakan ketenangan batin, menggenjot karisma atau bahkan membuat paras siapapun yang mengonsumsi obat kelihatan jauh lebih menarik.

Semua khasiat ini otomatis bikin (produk-produk) Gwyneth Paltrow kelihatan remeh. Pastinya, obat seampuh ini tak akan nampol tanpa kalimat iklan yang sama dahsyatnya, "Ini adalah solusi untuk anda yang mengalami gangguan mental. Entah itu depresi, stres, dan problem lainnya yang membuat hari-hari anda menjadi tidak menyenangkan. Terkadang orang yang dangkal mengira jalan keluar hidup adalah bunuh diri. Bodoh sekali memang jika kita mengambil jalan yang seperti itu."

Ckckckck…


Tonton dokumenter VICE soal pembuatan jamu betulan, yang khasiatnya tidak lebay, hasil warisan resep nenek moyang kita:


Konyol ya iklannya? Memang. Tapi, produk-produk macam ini dan popularitasnya menegaskan separah apa terdistorsinya pemahaman publik jika sudah menyangkut gangguan mental. Inilah alasan kenapa penderita gangguan mental masih dipasung di Indonesia dan orang masih malas melaporkan pada pihak berwajib bila salah satu kerabatnya tewas bunuh diri.

Membeli obat-obatan lewat penjaja online menguntungkan konsumen dalam dua hal: identitas mereka terjaga dan harganya cenderung bersahabat dengan dompet. Daripada membayar Rp800.000 untuk satu sesi terapi psikologi, banyak yang memilih "jalan pintas" mengobati segala macam masalah mereka, dari rasa rendah diri hingga depresi.

Iklan

"Dulu saya tidak percaya diri mendekati wanita. Selalu merasa rendah diri dan gak pinter omong," seperti dikutip dari testimoni salah satu konsumen yang puas di website penjual produk mirip Bio Aura. "Kemudian saya coba konsumsi Kapsul Aktivasi Pesona Arjuna. Luar biasa, saya seperti mendapat suntikan energi baru. Muncul perasaan bangga dan lebih menghargai diri sendiri."

Bisa jadi, pil yang dikonsumsi memang manjur. Atau bisa juga, ini cuma contoh efek placebo. Masalahnya, ada risiko menyeramkan kalau kita mempercayai khasiat obat herbal yang membabi-buta tanpa memeriksanya kembali. Contohnya, bagaimana konsumen bisa membedakan jamu yang sudah dikonsumsi berabad-abad sebagai obat-obatan dari produk bermasalah dari perusahaan yang cuma ingin mengambil untung dari buruknya literasi tentang gangguan mental di Indonesia?

Bagus Utomo, pendiri Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI), tahu betul bahaya yang bisa ditimbulkan oleh obat alternatif seperti Madness Healthscope, merek obat yang lebih sering disebut, "obat sakit jiwa."

"Sudah banyak korban informasi menyesatkan dari madness healthscope, dan juga produk NASA dari produsen obat alternatif di yogya kalau enggak salah," kata Utomo kepada VICE. "Produknya Natural Brain Power yang mengklaim bisa menyembuhkan skizofrenia."

Utomo pernah mengalami sendiri ditipu obat-obatan herbal yang katanya bisa menyembuhkan penyakit jiwa. Kakaknya, Bayu, mulai menunjukkan gejala skizofrenia sekitar 20 tahun lalu. Hanya saja dia sekeluarga tidak tahu apa penyakitnya. Mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya dialami oleh Bayu. Keluarganya mulai memahami penyakitnya setelah mencari gejalanya di internet. Mereka sempat mengandalkan obat-obatan alternatif, berharap bisa menyembuhkan Bayu. Sayangnya, yang terjadi malah sebaliknya. Kondisi kesehatannya semakin memburuk.

Iklan

Sekarang, Utomo sudah memahami penyakit skizofrenia. Kakaknya juga sudah mendapatkan pengobatan yang dia butuhkan. Pengalaman kakaknya ini lah yang mendasari motivasi Utomo untuk mendirikan KPSI, salah satu komunitas pertama bagi orang Indonesia yang ingin berbagi informasi dan dukungan emosional kepada sesama pengidap skizofrenia.

Kisahnya sangat ironis memang. Internet berhasil menyelamatkan Bayu, tapi juga bisa menyesatkan keluarga lain yang putus asa pada saat bersamaan. Bagaimana kalau mereka memercayai obat alternatif tersebut tanpa tahu yang sebenarnya?

"Orang ditakut-takuti sama obat kimia dari farmasi, kemudian ditawarkan produk yang klaimnya herbal dan natural," ungkap Utomo. "Akibatnya orang jadi anti obat. [Mereka] enggak mau berobat ke layanan kesehatan. Padahal obat-obatan herbal dan suplemen-suplemen itu nggak ada uji klinis."

Melalui komunitas daring ini, yang mayoritas anggotanya berkumpul di Facebook, Utomo memperingatkan mereka akan bahaya obat alternatif dan menghibur keluarga yang saudaranya pernah menjadi korban.

"Pesan saya sih di era jaminan kesehatan nasional ini, masyarakat mesti memahami pentingnya layanan kesehatan berbasis fakta ilmiah, agar tidak mudah percaya pada klaim-klaim bombastis, dan percaya pada pemerintah yang telah memilih terapi dan obat-obatan terbaik sesuai hasil riset yang terbaik" ujarnya.

Kamu mungkin bertanya-tanya mengapa orang bisa dengan mudah percaya dengan pengobatan yang belum terbukti manfaatnya, tapi obat alternatif ini punya daya tarik sendiri bagi mereka yang tak ada jalan lain. Siapa juga yang tidak mau sembuh dari depresi hanya dengan minum obat alternatif yang diklaim bebas bahan kimia?

Tapi, dari pengalaman Utomo, kita bisa belajar satu hal. Jamu atau 'obat' alternatif akan terus ada. Maka, sebelum kalian memutuskan beli, pikirkan satu hal ini: yakin mau mempercayai saran medis dan klaim penyembuhan penyakit berat dari medsos yang biasanya kamu pakai mengunggah foto kucing dan anjingmu? Kalau kami sih ogah.