Keputusan Trump Mengakui Yerusalem Sebagai Ibu Kota Israel Memicu Insiden Anti-Yahudi
Foto oleh Associated Press.
Palestina-Israel

Keputusan Trump Mengakui Yerusalem Sebagai Ibu Kota Israel Memicu Insiden Anti-Yahudi

Kekerasan bernuansa rasial terhadap penduduk berdarah Yahudi dilaporkan meningkat di Swedia, Jerman, Belanda, dan Britania Raya.

Segera setelah Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel pekan lalu, para pemimpin dunia segara mengingatkan Donald Trump akan respon penuh amarah yang muncul dari kawasan Timur Tengah dan komunitas Muslim global. Saat itu, tak ada yang menduga bakal muncul kericuhan yang dipicu keputusan Donald Trump di Benua Eropa. Kurang dari satu minggu setelah Trump mengumumkan keputusannya, serangkaian insiden anti-Yahudi dilaporkan meletus di Eropa. Di Swedia, sebuah sinagog di Gothenburg dan sebuah kapel pemakaman di sebuah pemakaman Yahudi jadi target bom akhir pekan lalu. Yel-yel anti-Yahudi terdengar dalam unjuk rasa anti-Yerusalem yang digelar di Jerman, Inggris serta Swedia. Sementara itu di Belanda, sebuah restoran kosher jadi sasaran aksi vandalisme.

Iklan

Insiden-insiden segera dikutuk oleh para politisi dan kelompok Yahudi—serta para pemuka agama Islam dan Kristen—mengindikasikan bahwa sikap anti-Yahudi masih subur di Benua Biru, bahkan setelah tujuh dekade berlalu sejak peristiwa Holocaust. Meski penganut agama Yahudi terbiasa mengalami persekusi selama beberapa abad, ada semacam kekhawatiran yang terus membesar di antara kelompok Yahudi, organisasi anti-rasisme dan para politisi bahwa kecenderungan gelombang baru sentimen anti-Yahudi yang dibawa serta oleh para imigran muslim belum cukup bisa diatasi oleh pihak berwenang di Eropa. Inilah yang menurut mereka menyebabkan merembetnya amarah terhadap kaum Yahudi mewujud menjadi tindakan anti-Yahudi ekstrem dan anjuran untuk melakukan serangan fisik terhadap seluruh warga Yahudi. “Saya percaya usaha yang dilakukan pihak berwenang di Eropa masih sangat terbatas,” ujar Rabbi Marvin Hier, ketua dan pendiri Simon Wiesenthal Center. “Jika kamu bertanya pada para pemuka agama Yahudi dan penganut Yahudi yang masih muda, mereka akan melihat serangkaian aksi anti-Yahudi ini sebagai awal dari akhir hidup mereka di Eropa. Ini jelas akan jadi tragedi besar.”

MASALAH LAMA DENGAN ELEMEN ANYAR

Di Swedia, sekelompok Jaksa tengah berusaha memahami kasus pengeboman sinagog, yang menurut dugaan mereka dipicu pengakuan Yerusalem sabagai ibukota Israel oleh Donald Trump.
Tiga pemuda—dua berasal dari Suriah dan satu lagi dari Palestina. Ketiganya bermigrasi ke Swedia beberapa tahun lalu—telah ditetapkan sebagai tersangka. Para jaksa yang menangani kasus ini menduga jumlah pelaku pemboman bisa mencapai puluhan. Pemboman terjadi setelah sebuah unjuk rasa anti-Israel terjadi di Malmö, Jum’at pekan lalu. Dalam unjuk rasa tersebut, peserta dilaporkan meneriakkan yel-yel penuh kebencian seperti “kami akan tembak orang Yahudi” atau “Orang Yahudi harus ingat bahwa tentara Muhammad akan segera kembali.” Pihak kepolisian setempat mengatakan bahwa menyanyikan yel-yel tersebut sebenarnya adalah pelanggaran hukum karena melontarkan ancaman terhadap kelompok minoritas. Jonathan Leman, seorang periset di Expo, majalah Swedia yang menyelidiki gerakan-gerakan rasis dan anti-Yahudi, berujar bahwa selain ancaman dari kelompok kanan ekstrem, komunitas Yahudi Swedia yang mempunyai anggota sekitar 20.000 orang juga menghadapi ancaman “sentimen anti-Yahudi yang ada hubungan dengan kondisi di Timur Tengah.” sentimen ini makin kelihatan jelas setiap kali hubungan Palestina dan Israel memanas, terutama di kota-kota yang kantung-kantung etnis Timur Tengah. Sentimen picik macam ini muncul sebagai turunan dari cara pandang yang menyamakan Komunitas Yahudi dan Israel. “Pemerintah Israel, warga Israel dan penganut agama Yahudi di seluruh dunia dipukul rata seenaknya,” kata Leman. Kenyatannya, begitulah yang terjadi Swedia. Di beberapa kota, kemarahan terhadap Israel sudah berkali-kali lewat batas. Bentuknya tak lagi kritik legal terhadap pendirian negara Yahudi, namun ujaran-ujaran dan ancaman anti-Yahudi. Begitu juga ketika ketegangan antara Israel-Palestina menghiasi halaman depan koran-koran di Swedia, kota-kota seperti Malmö bakal merasakan imbasnya lantaran banyaknya imigran asal Timur Tengah yang bermukim di kota itu, ujar Freddy Gellberg, juru bicara Komunitas Yahudi di Malmö, sebuah kota di Swedia yang mempunyai sejarah panjang ancaman dan serangan anti-Yahudi. “Kita sedang menghadapi varian baru sentimen anti-Yahudi yang dibawa oleh imigran dari Timur Tengah yang datang sekitar 10 atau 15 tahun yang lalu. Sentimen ini bisa berubah menjadi brutal,” ujar Gellberg.

Kecaman Politis

Para pemimpin Eropa makin mengambil sikap tegas terkait aksi-aksi anti-Yahudi di wilayah mereka. Setelah gelombang insiden yang terjadi belakangan, politisi di Swedia, Jerman dan Belanda mengeluarkan penolakan keras, yang menyatakan bahwa sentimen anti-Yahudi tak punya tempat dalam kehidupan masyarakat Eropa dan bahwa ekspresi anti-Yahudi beberapa hari ini tak bisa lagi digolongkan sebagai protes politik yang benar. “Saya benar-benar marah gara-gara serangan bom yang menyasar sebuah sinagog di Gotherburg dan yel-yel yang menganjurkan tindakan kekerasan terhadap kaum Yahudi yang diteriakkan dalam sebuah demonstrasi di Malmö,” kata Perdana Menteri Swedia Stefan Löfven hari Minggu lalu, saat mengumumkan peningkatan pengamanan di sekitar bangunan peribatan Yahudi. Sementara itu di Jerman, semua pejabat dari mulai konselir Angela Merkel telah mengecam demonstrasi anti-Yahudi di negara mereka. “Menganjurkan orang lain untuk membunuh penganut agama Yahudi bukanlah bentuk pelaksanaan kebebasan berpendapat,” ujar Stephan Mayer, seorang politisi dari partai Christian Social Union, kepada Die Welt, sementara di kesempatan lain, juru bicara pemerintah Jerman mengatakan pada hari Senin: “Kita harus malu jika kebencian akan kaum Yahudi dipertontonkan dengan tanpa tedeng aling-aling di kota-kota di Jerman.” Josef Janning, kepala kantor Dewan Eropa Urusan Hubungan Luar Negeri di Berlin, mengungkapkan insiden yang terjadi belakangan membuat pandangan politik komunitas imigran makin dicurigai.
Kendati Eropa memiliki warisan sentimen anti-Yahudi yang laten yang akhir-akhir ini dibangkitkan oleh meningkatnya populisme kanan ekstrem, unjuk rasa yang belakangan terjadi di Swedia dan Jerman kebanyakan diorganisasi oleh komunitas Muslim Arab, dengan dibantu oleh populasi warga Turki yang hidup di Jerman. Janning mengatakan bahwa dirinya percaya kritik bahwa pemerintah negara-negara Eropa tak cukup gigih memerangi sentimen anti-Yahudi yang dibawa serta oleh komunitas imigran daripada apa yang mereka lakukan pada sentimen serupa yang dilontarkan kelompok kanan ekstrem memang ada benarnya, “Otoritas di negara-negara Eropa cenderung lunak menanggapi masalah yang ada sangkut pautnya dengan pandangan politik yang dibawa oleh kelompok imigran. Salah satu alasannya adalah mereka tidak yakin jika kelompok imigran ini mengartikulasikannya dengan baik—padahal ini salah besar,” katanya.
“Saya sekarang masalah ini sepertinya bakal mendapatkan perhatian yang lebih, kendati sebagian orang berkata bahwa hanya sedikit tindakan yang bisa kita ambil terkait hal ini. Leman mengatakan bahwa masyarakat Swedia “satu suara dalam mengutuk” insiden anti-Yahudi yang baru ini terjadi. Respon ini menurutnya sangat menggembirakan terutama karena belakangan ada semacam tendensi di kelompok kiri di Swedia “untuk tak hanya menyepelekan masalah ini, namun juga menyalahkan korban dalam hal ini kaum Yahudi serta meminta mereka memiliki sedikit toleransi terhadap sentimen anti-Yahudi yang berkembang di Swedia.” Di sisi lain, Leman khawatir kaum kanan ekstrem di Swedia akan memanfaakan diskusi tentang gelombang baru sentimen anti-Yahudi untuk menyerang seluruh kelompok Muslim di Swedia. “Satu aksi kebebalan harusnya tak jadi justifikasi aksi kebebalan lainnya,” katanya. Perhatian berlebih pada insiden yang terjadi pekan lalu juga berpeluang mengaburkan ancaman terhadap kelompok Yahudi dari kaum kanan ekstrem. April lalu, pusat kegiatan Yahudi di Umea, kota di utara Swedia, terpaksa ditutup menyusul kampanye intimidasi dari kelompok Neo-Nazi. Apa yang dibutuhkan saat ini, kata Leman, adalah kecaman universal dari segala spektrum politik terhadap praktek anti-Yahudi dalam segala bentuknya dan disusul dengan usaha gigih memerangi prasangka buruk terhadap komunitas Yahudi sampai ke akar-akarnya. “Dalam jangka pendek, kita harus memastikan para pelaku insiden ini dipidanakan—karena terlalu banyak pelaku kejahatan kebencian yang bebas sampai saat ini—lalu kita butuh usaha dalam jangka panjang untuk mengatasi perilaku anti-Yahudi,” tutur Leman. “Kita perlu melihat sentimen anti-Yahudi sebagai masalah besar yang tak bisa dipahami hanya dengan melihat satu segmen masyarakat semata.”