Penerbangan

Penduduk Delhi Mengaku Jadi Korban Hujan Tinja dari Langit

Ternyata tinja-tinja itu berasal dari pesawat yang terbang di langit Delhi. Kejadian macam ini tak cuma dialami Ibu Kota India. Insiden serupa pernah terjadi di Amerika Serikat dan Inggris.
7.12.17

Warga yang tinggal di dekat Bandara Delhi, India mengaku mereka dihujani tai. Bukan tai burung yang kecil-kecil, tapi tai yang besar punya. Mereka curiga yang jatuh dari langit itu adalah tai manusia. Jum’at pekan lalu, pengadilan lingkungan hidup India, National Green Tribunal, menugaskan sebuah komite untuk menyelidikikan apakah tinja yang jatuh dari langit itu benar-benar feses manusia. Perintah itu turun setelah warga Delhi mengadu bahwa, lagi-lagi, rumah mereka dihujani tinja. Pengadilan lingkungan hidup ini menengarai bahwa yang jatuh dari langit itu bisa saja kotoran burung—musabab kenapa mereka berpikir demikian belum jelas sampai sekarang. Direktorat Penerbangan Sipil, Institut Penelitian Penerbangan dan Badan Pengendalian Polusi India akan mengumpulkan sampel kotoran yang jatuh di atas rumah penduduk Delhi, seperti yang dilansir oleh India Times. Namun, biang keladi masalah tinja dari langit sepertinya sangat jelas. Tahun lalu, penduduk dari kawasan yang sama mengeluh tentang pesawat yang mengosongkan tampungan kotorannya sembari terbang. Susah untuk memastikan bahwa kejadian “hujan tinja” ini paling sering terjadi di sekitar Bandara Delhi. Namun, yang jelas Bandara Internasional Salt Lake di Utah juga melaporkan insiden serupa. “Satwant Singh Dahiya, seorang penduduk yang tinggal di sekitar Bandara New Delhi, membuat pengaduan Oktober lalu. Dia mengatakan bahwa rumah-rumah di lingkungannya hancur karena tinja-tinja yang dibuang pesawar di malam hari,” demikian Bloomberg menulis pada Desember 2016.

Iklan

“Dalam insiden lainnya, perempuan baya berumur 60 tahun menderita cedera bahu Desember tahun lalu kemungkinan akibat tinja manusia yang jatuh dari langit,” tulis Bloomberg.
Kasus yang menimpa perempuan 60 tahun bernama Rajrani Gaud melibatkan es beku yang mengandung urin dan feses manusia. Gaud mengaku pada Times of India bahwa potongan sebesar bola jatuh menembus atap rumahnya dan mengenai kepalanya. Menanggapi laporan-laporan ini, National Green Tribunal memerintahkan Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil untuk melarang pesawat terbang melepaskan wadah penampung kotoran manusia ketika sedang terbang. Jika penampung toilet kosong setelah mendarat, maskapai pemilik pesawat tersebut bakal dikenai denda sebesar 50.000 rupee. Sebenarnya, pesawat terbang tak bisa membuka tanki penampung kotorannya saat terbang. Kru pesawat hanya bisa membuka tangki penampung kotoran dari katup di luar pesawat, menurut Federal Aviation Administration. Jadi apa yang sebenarnya terjadi? Jika sistem penampungan kotoran pesawat bermasalah, benda yang disebut “blue ice”—feses, air kencing dan deodoran toilet yang disebut Anotec—bisa bocor ke permukaan luar pesawat. Begitu terpapar tekanan udara yang besar, kotoran ini membeku. Ketika pesawat melakukan pendaratan, campuran kotoran yang membeku ini pecah dan terlepas dari pesawat.
Dalam beberapa dekade terakhir, beberapa kali kasus blue ice terjadi di Amerika Serikat. Yang paling banyak menarik perhatian adalah kasus kotoran beku yang menjebol atap rumah sepasang sejoli di California pada 2006. Kejadian serupa juga dilaporkan terjadi Inggris, Belanda dan Cina. Tahun lalu, Badan Pengendalian Polusi India menduga bahwa feses yang jatuh dari langit adalah kotoran burungnya. Padahal, analisis kimia terhadap kotoran tersebut memastikan bahwa yang jatuh dari langit adalah tinja manusia.