Marawi

Filipina Yakin Tak Butuh Bantuan Negara Lain Untuk Kalahkan Militan ISIS

Pejabat militer Filipina optimis tanpa AS, mereka masih mampu memukul mundur Klan Maute dari Kota Marawi kendati baku tembak sudah berlangsung tiga bulan.
9.8.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Pemerintah Filipina menyanggah informasi yang beredar di media bahwa mereka meminta bantuan Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke kantong militan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) di pinggiran Kota Marawi. Di sisi lain, laporan NBC yang dirilis awal pekan ini menyiratkan Pentagon mempertimbangkan opsi bantuan militer sebagai upaya melindungi sekutu mereka di Asia Tenggara.

Iklan

Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana berkata pemerintahnya "tidak melakukan diskusi" untuk melancarkan serangan udara pada lokasi-lokasi ISIS dengan negara lain. Dia pun menambahkan bahwa intervensi militer negara lain "tidak dibutuhkan". Pernyataan ini diulang oleh Salvador Panelo, kepala penasehat hukum Presiden Rodrigo Duterte, yang berkata Filipina tidak meminta bantuan AS.

Sejak Mei lalu, Presiden Duterte mengumumkan status darurat militer untuk memberantas kelompok pemberontak dan militan Islamis yang menyatakan kesetiaannya pada ISIS. Gerombolan militan itu menyerbu di kota Marawi, menyandera warga sipil, mengubah wilayah tersebut menjadi medan perang kota yang tidak biasa dihadapi tentara Filipina. Sampai hari ini, pertempuran belum berakhir untuk membebaskan Marawi. Pengamat intelijen khawatir bahwa ISIS mengirim sumber daya manusia dan dana mendukung Klan Maute serta Abu Sayyaf di selatan Filipina. Mereka hendak menjadikan Marawi sebagai pusat markas militan di Asia Tenggara. Kemungkinan itu membuat negara-negara dalam kawasan, termasuk Indonesia, waspada.

Berdasarkan pernyataan tertulis kemenetrian pertahanan Filipina, intervensi militer dari negara lain hanya diizinkan selama "invasi asing sesungguhnya oleh negara lain" dan gerakan apapun di luar hal tersebut harus mendapatkan izin oleh "pejabat tertinggi di negara kami."


Baca juga liputan VICE Indonesia mengenai perkembangan terkini dari krisis Marawi:

NBC melaporkan pemerintah AS sedang mempertimbangkan rencana melancarkan serangan udara ke Marawi, mengutip dua pejabat pertahanan anonim. Tindakan tersebut dirumuskan sebagai bagian dari operasi gabungan pertahanan diri, di mana AS melindungi sekutu mereka di Asia Tenggara.

AS sejak terjadinya krisis Marawi telah membantu Filipina melalui "pertukaran data intelijen," menurut keterangan Menteri Dalam Negeri Rex Tillerson. Negeri Paman Sam tetap mendukung Filipina, sekalipun kedua negara sedang bersitegang ketika di era Presiden Barack Obama, AS mengkritik kebijakan Presiden Rodrigo Duterte mengobarkan perang narkoba yang menewaskan lebih dari 7 ribu orang tanpa peradilan.

"Saya tidak melihat konflik apapun dalam cara negara kami membantu Filipina [dalam krisis Marawi]. Kami menghormati cara Filipina menanggulangi permasalahan narkotika," kata Tillerson.