Kecanduan Trolling di Internet Sangat Mungkin Terjadi
Ilustrasi oleh Che Saitta-Zelterman.
Kecanduan Akut

Kecanduan Trolling di Internet Sangat Mungkin Terjadi

Bagi sebagian orang, ngasih komentar brengsek atau nge-bully pengguna Internet lain bukan sekadar perbuatan iseng.
7.9.17

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Setelah beberapa teman memutus hubungan pertemanan dengannya, Dave* menyadari dia punya masalah kecanduan trolling.

Selama beberapa tahun, Dave memiliki dorongan untuk beradu argumen "dengan setiap orang tentang apapun" di dunia maya. Entah itu topik serius macam hukum kepemilikan senjata api, atau sekedar akurasi nukilan dari film Top Gun. Dia pernah ngetroll menggunakan nama asli dan juga secara anonim di berbagai message board dan seksi komen. Dia hobi mengecek perkembangan pertikaian online yang dia mulai ketika seharusnya bekerja. Dia sempat diperingatkan oleh seorang bos tentang perilaku onlinenya yang sulit dikendalikan. Dia juga sempat terlibat dalam pertikaian kisruh di sebuah message board surat kabar lokal. Saking kisruhnya, message board itu ditutup oleh surat kabar selamanya.

Iklan

Dalam sebuah insiden yang paling dia sesali, Dave mengamuk ke seorang teman lama di Facebook yang mengunggah artikel "super Islamofobik" yang dia anggap ofensif. Bukan hanya marah dengan si teman yang mengunggah artikel, dia juga mengamuk, beradu argumen seharian, dan mengatakan si teman adalah seorang rasis dan individu yang jahat. Dan ketika adik teman Dave lainnya ikut berargumen melawan Dave, dia merespond, "fuck you, too!"

Tidak lama kemudian, teman Dave mengirimkan pesan. "Gue udah kenal elo dari kelas 1 SMA dan elo salah satu temen baik gue, tapi elo gak bisa lagi jadi bagian dari hidup gue." Mereka berdua belum pernah berbicara semenjak itu. Dave mengaku dia merasa bersalah. Tapi dia juga mengatakan, "Di saat itu, saya berpikir, 'Ah masa bodo!'"

Kurangnya kesadaran akan konsekuensi dari tindakan yang diambil (biarpun ketika secara moral, dia benar), adalah salah satu faktor yang menjadikannya seorang troll internet, menurut Dave yang kini bekerja sebagai produser konten digital di Southern California. Dave setuju berbicara dengan Motherboard selama identitas aslinya dirahasiakan. Dia khawatir akan dipermalukan apabila identitasnya sebagai tukang ngetroll terungkap.

"Ada semacam sensasi ketika anda terbukti 'benar' di internet, dan tukang ngetroll mencari sensasi itu," kata Dave, sekarang berumur 40 tahun. "Tapi tidak ada rasa 'puas' ketika anda merasa bertanggung jawab membenarkan dan mengedukasi lawan bicara."

Iklan

Tukang troll internet kerap digambarkan sebagai sosok yang jahat, tertawa terbahak-bahak sambil sibuk mengetik ejekan dan hinaan di atas keyboard. Namun kini semakin jelas bahwa, bagi beberapa orang, trolling bukan lagi sekedar berlagak ngehek di internet. Tidak hanya merugikan target dan korban, trolling juga menjadi kebiasaan yang tidak sehat bagi pelaku, seperti Dave, yang tidak bisa mengontrol diri.

"Kalau orang sampai marah atau terluka gara-gara trolling, siapa yang peduli bahwa kalian niatnya cuma bercanda?"

Beberapa tukang ngetroll mengaku kebiasaan menyerang orang di dunia maya bisa menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan. "Kalau anda tidak bisa mengendalikan trolling, berarti anda kecanduan," kata HanAholeSolo, editor forum online Reddit yang terkenal sering mengunggah postingan rasis dan anti-semit. Dia sempat menulis ke rekan-rekannya di Reddit, "jangan malu-malu mencari bantuan."

Sama seperti HanAholeSolo, Dave mengaku melihat kemiripan antara hobinya ngetroll dengan gejala kecanduan seperti dijabarkan American Psychiatric Asssociation's Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Kecanduan ini disebut sebagai "use disorder." DSM-5 mendefinisikan gangguan-gangguan ini sebagai pemakaian substansi berulang kali, entah alkohol atau kokain, yang "menyebabkan penurunan fungsi sebagai seorang manusia."

Di saat yang sama, Dave tidak pernah memiliki masalah penyalahgunaan substansi. Jadi basis dari perbandingan antara adiksi fisik macam ini dengan trolling berlebihan tidak dibuat berdasarkan pengalaman pribadi di kehidupan nyata.

Iklan

Apapun itu, mungkin istilah yang lebih akurat daripada "use disorder" untuk mendeskripsikan trolling berlebihan adalah "impulse control disorder"—istilah yang mencakup kleptomania, piromania, dan berjudi—"di mana mereka memiliki dorongan untuk melakukan sesuatu dan tidak bisa menahan diri, biarpun berkosekuensi buruk," jelas Dr. Ramani Durvasula, seorang psikolog klinis berlisensi, seorang profesor di California State University, dan penulis buku Surviving Narcissists.

Beberapa psikolog dan sarjana yang pernah meneliti kebiasaan trolling online menyadari persamaan antara trolling berlebihan dengan use disorder, biarpun tidak sepenuhnya. Mereka mengatakan ini seperti lingkaran setan: Biarpun trolling adalah masalah serius dan seharusnya ditangani oleh psikolog profesional, banyak tukang nge-troll sudah pasti tidak akan mencari bantuan.

Kemungkinan perawatan psikolog bisa membantu juga kecil.

Tantangan 'mengobati' troll garis keras adalah ketiadaan definisi soal apa itu trolling

Akhir 1980an dan awal 90an, "trolling" umumnya mengacu pada semacam lelucon online. Sekarang orang menyebut ini sebagai "trolling klasik," kata Dr. Patricia Wallace, penulis The Psychology of the Internet.

"Tujuannya adalah untuk ngerjain orang dan membuat mereka merespon dan berdebat tentang sebuah masalah, dan kemudian membuat mereka mengatakan 'Elo gila ya,' semacem itulah," ungkap Wallace, mantan direktur senior Center for Talented Youths di Johns Hopkins University dan kini seorang profesor di University of Maryland University College Graduate School. "Namun seiring waktu, trolling diasosiasikan dengan hal-hal yang lebih negatif—ujaran kebencian, pelecehan, dan cyberbullying—jadi apa yang disebut media sebagai 'trolling' sekarang sudah campur-campur.

Iklan

Istilah "troll," faktanya, telah hilang maknanya akibat terlalu sering digunakan, jelas Whitney Phillips, seorang peneliti troll dan penulis This is Why We Can't Have Nice Things: Mapping the Relationship between Online Trolling and Mainstream Culture. Biarpun sempat menulis buku tentang troll, Phillips mengaku membenci istilah ini, dan mengatakan bagaimana istilah ini sekarang digunakan dengan tidak tepat. (Keterangan: Phillips pernah menulis untuk situs ini.)

"Tapi istilah ini juga memiliki problema karena dipolitisir," tambahnya. "Misalnya, ketika 'trolling' digunakan untuk membanggakan supremasi ras kulit putih, istilah ini seakan meminimalisasi ujaran kebencian para bigot. Istilah ini tidak menggambarkan perilaku berdasarkan dampaknya, tapi dalam asumsi bahwa ada semacam motif bercanda. Dan ini sebetulnya tidak penting. Kalau orang marah karena tindakan 'trolling', emangnya ngaruh kalau itu sebetulnya cuma becanda?

Ilustrasi oleh: Che Saitta-Zelterman

Erin Buckles, seorang kandidat doktoral dalam bidang psikologi di University of British Columbia dan kepala penelitian 2014 berjudul "Trolls Just Want to Have Fun" setuju bahwa definisi trolling memang tidak ajig.

"Orang yang berbeda menggambarkan perilaku yang sama dengan cara yang berbeda," jelas Buckels. "Biarpun sudah ada teori tentang beberapa 'tipe' troll yang berbeda, saat ini tidak ada bukti ilmiah bahwa teori ini benar. Namun, ada banyak penelitian tentang dimensi kepribadian yang menjadi penyebab perilaku trolling."

Iklan

Di saat yang sama, ketertarikan akan penelitian perihal trolling semakin meningkat, terutama karena adiksi digital semakin sering terlihat dan diakui sebagai isu serius, menurut Brenda K. Wiederhold, presiden Virtual Reality Media Center dan editor jurnal CyberPsyhology, Behavior & Social Networking. Masalahnya sejauh ini, penelitian seputar trolling masih berada di tahap bayi; sejauh ini, semuanya masih ditulis berdasarkan anekdot dan data pribadi.

Ketika para peneliti berinteraksi dengan para troll, jelas Phillips, informasi demografik tentang mereka hanya bisa diduga berdasarkan postingan mereka. Misalnya, seseorang yang mengunggah postingan misoginis kemungkinan besar adalah lelaki, dan seseorang yang menggunakan istilah rasial biasanya berkulit putih. Tapi berhubung kita ngomongin tukang ngetroll disini, kemungkinan besar informasi yang mereka berikan ke anda juga tidak benar. Ya namanya juga troll.

Menurut Wiederhold, peneliti yang mempelajari trolling mulai menyadari perbedaan antara trolling dengan viktimisasi cyber. "Di masa depan, kita akan melihat penelitian yang berbeda untuk kedua hal ini," jelasnya.

Definisi luas istilah trolling yang bisa digunakan diberikan oleh Vijay Sinh, seorang psikolog klinik di New York. Internet trolling, jelas Sinh, "mencakup membuntuti seseorang online dan berkomunikasi dan merespon mereka secara disruptif, kasar, dan kadang penuh kebencian, dengan maksud membuat mereka marah atau menimbulkan reaksi yang negatif."

Iklan

Apapun definisinya, tetap saja troll adalah penganggu dunia maya, dan kadang bahkan bisa menyebabkan trauma bagi korban. Pertanyaannya, apakah troll seseorang yang benar-benar memiliki isu psikologis atau cuma orang brengsek?

Alasan trolling mirip gejala kecanduan

Di luar sana, jelas ada orang-orang seperti HanAholeSolo dan Dave yang sulit menahan dorongan untuk trolling.

"Ada orang yang bisa berdebat, nyolot, tapi terus berhenti begitu saja," jelas Dave. "Tapi ada yang melakukannya sekali dan merasa 'Wah, kok seru ya?' kemudian ingin merasakan sensasi yang sama terus menerus."

Bagi beberapa orang, trolling bisa terasa seperti adiksi akan kekuatan dan dominasi, menurut Dr. Perpetua Neo, seorang psikolog klinik di Brighton dan Hove di Inggris.

"Trolling memberikan seseorang dengan kepribadian negatif kepuasan yang sempurna," jelas Neo. "Mereka menyaksikan efek perbuatan mereka…dan setiap kali ini terjadi, dopamin memenuhi syaraf otak, dan menyalakan sirkuit otak tertentu. Ini adalah motivasi yang sempurna untuk mengulang kebiasaan ini."

Trolling bisa terasa mengasikkan di fase awal, sama seperti alkohol dan berjudi, kata Durvasula. Tapi di saat yang sama, seiring waktu, kebiasaan ini akan semakin sulit dikontrol. Namun para ahli belum bisa menggolongkan trolling ke dalam kategori yang sama dengan gangguan lain macam alkoholisme atau penyalahgunaan narkoba. Menurut Durvasula, motivasi "trolls" bisa bermacam-macam dan tidak selalu mengindikasikan gangguan psikologis.

"Apakah keseringan trolling harus ditangani psikiater? Tentu saja. Tapi apa kita bisa menyebutnya sebagai kecanduan? Kayaknya belum deh."

Untuk bisa disebut sebuah "adiksi," perilaku yang dimaksud harus melalui berbagai perubahan fisiologis yang kita asosiasikan dengan use disorder: dopamin dan zat otak yang berhubungan dengan kenikmatan lainnya diproduksi karena perilaku tersebut dinilai menguntungkan. Untuk mendapatkan efek yang sama, individu kemudian mengulang perilaku tersebut, kata Dr. Hillarie Cash, direktur klinik reSTART, sebuah fasilitas rehabilitas di sebuah hutan di luar Seattle yang menangani orang dewasa dan remaja mengidap kecanduan game internet.

"Bisakah seorang troll ngetroll sering banget hingga perubahan tersebut terjadi di dalam otak? Bisa saja. Tapi saya belum pernah bertemu pasien yang mengaku kebiasaan trolling mereka adalah sebuah adiksi," kata Cash, sambil menambahkan, "Tapi saya pernah menangani klien yang hobi ngetroll sebagai bagian dari adiksi internet mereka yang lebih besar."

Iklan

Biarpun trolling saat ini tidak sesuai dengan definisi klinis use disorder, banyak ahli mengatakan kebiasaan ini jelas tidak sehat dan membutuhkan perawatan terapi.

"Haruskah tukang ngetroll menerima perawatan?" tanya Wiederhold. "Sudah pasti. Tapi apakah ini adiksi? Kayaknya kita belum bisa memastikan. Saya perlu melihat lebih banyak penelitian."

Beberapa Troll memang ngeselin dan enggak bisa dinasehati

Di sebuah penelitian di 2014, Buckels dan rekannya menemukan asosiasi kuat antara mereka yang hobi ngetroll dengan sifat jahat, terutama Machiavellianisme, narsisisme, psikopat, dan sadisme, jelasnya. Semua sifat ini disebut sebagai "Dark Tetrad," dalam dunia psikologi.

Mereka yang mencetak nilai tinggi dalam sifat kepribadian "gelap" ingin berdampak ke dunia dan sangat kompetitif, menurut Buckels. "Mereka ingin selalu menang," kata Buckels, "apapun definisi mereka tentang kemenangan."

Mereka bisa berlaku tidak jujur selama ini membantu mereka 'menang', sombong dan kurang memiliki empati untuk orang lain, tambahnya. Mereka dengan kepribadian "gelap" tidak akan mencari perawatan psikologis kecuali mereka dipaksa, kata Buckels, "Mereka menganggap mereka menjadi diri sendiri, dan orang lainlah masalahnya."

Jenis pribadi "gelap" ini cenderung sulit mengembangkan empati, jelas Neo, yang tidak terlibat dengan penelitian 2014 Buckels. "Jadi kalaupun mereka ingin 'mengobati' masalah mereka, biasanya ini karena mereka mengalami masalah atau diberikan ultimatum oleh seseorang," ujarnya. "Akibatnya, semua perawatan hanya bersifat permukaan saja. Mereka lihai berpura-pura menunjukkan rasa bersalah biarpun tidak ada motivasi sesungguhnya untuk berubah."

Iklan

Selain memalsukan reaksi terhadap perawatan terapi, tantangan lainnya adalah kurangnya kemawasan diri dalam individu dengan kepribadian "gelap" macam ini, jelas Sinh. Salah satu pasiennya adalah seorang guru SMA yang menghabiskan banyak waktu membenarkan tatabahasa orang lain di forum internet dan blog. Namun sesungguhnya, alasan pasien mengikuti terapi adalah pernikahannya yang gagal, hubungannya yang retak dengan anak-anaknya, dan sejarah konflik antar pribadi di lingkup kerja.

"Ketika kami membicarakan bagaimana dia menghabiskan waktu dan kegiatan yang dia suka lakukan, ternyata banyak waktu, usaha dan energi dihabiskan dalam dunia maya, tanpa dia sadar bahwa perilaku ini sesungguhnya berhubungan dengan isunya dengan orang-orang 'di dunia nyata,'" ungkap Sinh.

Sinh menceritakan tentang klien lainnya, seorang model yang ambisius tapi insecure, yang mengaku sering mengepost komentar bernada "meremehkan dan mempermalukan" orang lain secara anonim di berbagai blog dan vlog kecantikan.

"Menurutnya, individu-individu dalam industrinya memang harus siap dicaci maki seperti ini dan berkulit tebal," kata Sinh. "Menulis komentar jahat di blog orang lain adalah caranya membalas apa yang dulu dia rasakan."

Selain kurangnya rasa penyesalan, tukang ngetroll juga cenderung dingin dan impulsif, akibatnya sulit melihat perilaku trolling mereka sebagai masalah. Menurut kata-kata Sinh, "Semua salah korban mereka yang mengatakan atau melakukan sesuatu duluan."

Iklan

Ambil contoh troll RIP, misalnya, yang sering menilai ucapan belasungkawa seseorang tidak tulus dan hipokritikal ketika mereka mengacu kepada orang yang tidak mereka kenal, menurut Jonathan Bishop, "peneliti" troll dari Wales yang mengaku juga sering ngetroll orang lain. Di salah satu blognya, Bishop menjelaskan bagaimana dia berargumen di Facebook bahwa beberapa bagian dari pidato Barack Obama dan mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair "hampir sama" dengan pidato Adolf Hitler.

"Aku merasa trolling seperti permainan catur, tapi melibatkan orang beneran."

Bishop, yang hobi ngetroll untuk kepuasan pribadi dan tidak bekerja untuk institusi manapun menerbitkan jurnal yang didedikasikan untuk trolling. Dia juga mengatakan dia memiliki "museum trolling" di rumahnya, dan dengan bangga mencatat daftar orang-orang yang telah ngeblok dia di media sosial. Dia juga menjalankan beberapa situs yang ngetroll pengunjung. Salah satu situsnya menjabarkan semua aksi trollingnya. Ada juga situs yang bertujuan mengejek individu lain yang juga bernama Bishop hanya karena dia merasa inferior. Dia juga mengatakan bahwa publik figur "layak" ditroll: dia pernah melecehkan politisi lokal Wales, penulis Richard Dawkins, komedian Russell Brand dan Ricky Gervais. Ricky Gervais, sombong Bishop, sampe ngeblok dia di Twitter.

Menurut Wallace, penulis The Psychology of the Internet, beberapa orang bangga menyebut diri mereka troll karena menganggap diri mereka sebagai pembela keadilan. Bishop sering tertawa ketika menggambarkan ulah trollingnya ke saya lewat sebuah interview Skype, tapi ketika didesak, dia tidak bisa mengartikulasikan kenapa dia sangat niat "membuktikan" opini orang lain salah soal topik tertentu, bahkan ketika argumennya sendiri tidak didasarkan oleh fakta. Tidak mampu berintrospeksi sendiri, dia tidak bisa menjelaskan perasaan apa yang dia raih setelah sukses ngetroll orang.

Iklan

"Mungkin saya orang yang terlalu pintar dan kebanyakan waktu kosong," kata Bishop. "Rasanya seperti main catur, tapi pionnya adalah orang lain."

Bishop mengatakan dia sanggup menaruh orang lain dalam situasi yang "membantu mereka menyadari kesalahan mereka sendiri" karena dia sangat mengerti kepribadian orang lain. Dia menyebut dirinya sendiri sebagai seorang "troll edukasional."

Ilustrasi oleh Che Saitta-Zelterman.

Ini memunculkan isu lain yang membuat diagnosa sulit: dalam DSM-5, gangguan didiagnosa berdasarkan apabila individu dengan gangguan mengalami "penurunan, kesengsaraan, atau keduanya." Ini menjadi masalah ketika kita berusaha mendiagnosa tukang ngetroll yang problematik. Tapi hanya karena mereka tidak mau dibantu, bukan berarti mereka tidak butuh bantuan.

"Wajar untuk tidak setuju dengan opini seseorang di dunia maya, atau ngepost komentar yang melambangkan pandangan sosial atau politikal kita," ungkap Sinh. "Tapi ketika anda mulai mendapatkan kenikmatan dari merendahkan orang lain atau membuat hidup orang lain sengsara, bersembunyi secara anonim dan terlindungi dari konsekuensi, dan terus mengulang tabiat seperti ini, maka perilaku anda tidak lagi sekedar iseng dan perlu diperhatikan."

Menyadari gejala kecanduan trolling sangat penting

Ketika membicarakan tukang ngetroll, "sulit untuk tahu kapan mereka sedang bersandiwara dan kapan ketika kepribadian sesungguhnya keluar," kata Phillips. "Bukan berarti mereka sosiopath, tapi sayangnya mereka tidak perlu melihat dampak emosional dari kelakuan mereka selain sejauh mana itu menghibur mereka sendiri. Mereka hanya berfokus di kepuasan sendiri."

Tukang ngetroll yang memiliki kepribadian gelap masih bisa ditangani, biarpun ini masih tergantung. Sadisme tidak bisa ditangani, menurut Buckles, tapi menambahkan, "Dokter masih bisa mengobati aspek kompulsif dari perilaku dan mungkin mengarahkan tendensi sadis ke arah yang masih bisa diterima secara sosial."

Selain itu, ada harapan bahwa tukang ngetroll baru masih bisa ditangani, mengingat perilaku mereka belum tertanam sebegitu dalamnya, kata Durvasula, yang menambahkan bahwa beberapa murid kelas psikologinya mengaku pernah ngetroll dalam konferensi guru-murid. Tindakan trolling ini merefleksikan kemampuan menilai orang muda yang kerap buruk dan tidak memikirkan konsekuensi, namun tidak masuk definisi gangguan psikologis.

"Mereka sadar setelahnya bahwa perilaku mereka tidak baik," ujarnya. "Tapi karena sifatnya anonim dan dilakukan semua orang, mereka tidak segitu menyesalnya."

Namun ketika mereka diingatkan potensi bahaya tindakannya, Durvasula mengatakan murid mereka terlihat mampu merefleksi diri dan menunjukkan sedikit rasa bersalah.

"Lebih mudah melatih orang muda untuk berempati, membantu mereka bertambah dewasa, dan mempelajari skill hidup yang membuat mereka menghindari tindakan trolling," kata Durvasula. Dengan terapi intensif yang mencakup sosialisasi, seorang pasien remaja bisa diajarkan tentang konsekuensi dari tindakan trolling mereka dan didorong refleksi diri.

Memasuki kedewasaan, Dave mengatakan dia mulai bisa mengatasi masalah trollingnya perlahan-lahan, dengan bantuan seorang terapis, setelah dia mulai kehilangan rasa hormat orang-orang yang dia sayangi karena aksi marah-marah onlinenya. Namun baru-baru ini dia "kambuh" lagi ketika seorang teman dekat dari zaman kampus mengunggah sesuatu tentang hubungan Trump dengan Russia. Dave tidak bisa melawan hasrat untuk beradu argumen dengan teman-temannya yang religius.

"Orang ini adalah teman dekat saya, tapi saya berpikir, 'Wah, pendapat segini begonya gak boleh dibiarkan begitu saja,'" jelasnya. "Biarpun gue sadar banget apa yang akan terjadi begitu gue mulai."