Seberapa Jorok Sih Tidur Pakai Matras Bekas Orang Lain di Kos-Kosan?

Bisakah kita sakit gara-gara kasur yang sudah ditiduri banyak orang? Begini penjelasan pakar.
1.12.19
Gambar ilustrasi tempat tidur bekas pakai di kos-kosan
Ilustrasi oleh Lia Kantrowitz 

Ceritanya kamu habis pindah kosan, dan di tempat barumu sudah disediakan kasur yang terlihat bersih dan layak ditiduri. Tapi, apakah memang sebersih itu? Bagaimana kalau penghuni sebelumnya sering ngiler atau keringetan pas tidur? Atau bayangkan sel-sel kulit mati yang terkelupas dan menumpuk di dalam matras. Kamu takkan pernah tahu mikroba apa yang kamu hirup setiap harinya di kamar. Kedengarannya mungkin berlebihan atau terlalu paranoid, tapi ini tidak mengada-ada lho.

Matras bekas di kosan sudah ditiduri banyak orang, meski tidak sebanyak tempat tidur di hotel. Akan tetapi, tak menutup kemungkinan kasurnya membawa penyakit. Jadi, wajar dong kalau kita mempertanyakan seberapa bersih kasurnya?

Matrasnya dapat mengandung banyak hal, seperti sel kulit mati. “Sel kulit mati mengelupas di mana saja kita berada,” kata Phillip Tierno, dosen besar mikrobiologi dan patologi di NYU Langone Health. Tungau debu memakan serpihan kulit mati kita, dan kemudian membuang kotoran di kasur. Tierno menyebutkan potongan tubuh serangga, cairan tubuh, spora jamur dan bakteri bisa saja menghuni tempat tidur. Mau tahu ada apa lagi? Bahan kimia, debu, bulu halus, remah-remah makanan, serbuk sari, tanah, dan makeup.

“Lingkungan bisa berubah menjadi kebun binatang mikroba seiring berjalannya waktu,” ujar Tierno. (Tenang, berat ranjang hampir tidak mungkin bertambah dua kali lipat karena menumpuknya sel kulit mati dan tungau debu.) Menurutnya, alergen menjadi faktor pemicu yang paling mungkin. Segala jenis partikel yang hinggap di matras dan bantal dapat menyebabkan bersin-bersin dan flu.

Dalam kasus paling langka, kasur kotor bisa menyebarkan infeksi melalui luka terbuka. Namun, hal itu sangat tidak mungkin terjadi, sebagian karena kebanyakan virus tidak hidup selama itu. “Alergi menjadi kemungkinan yang paling masuk akal,” lanjutnya.

Topper matras atau seprai saja belum cukup untuk mencegah alergi. Kalau memang ingin menghindarinya, Tierno menyarankan penutup antibakteri dengan ritsleting yang dapat menutup keseluruhan kasur. Kamu juga bisa menyelimuti bantal dengan lapisan itu. Masalahnya, topper antibakteri tidak tersedia secara luas sehingga susah untuk diperoleh.

Kamu sebenarnya tidak perlu terlalu mengkhawatirkan tungau debu atau serpihan sel kulit mati. Mudahnya begini, pernahkah kamu sakit karena tidur di kasur sendiri yang hampir tidak pernah diganti? Emily Martin, assistant professor epidemiologi di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Michigan, berujar tidak ada salahnya mencuci atau membersihkan matras dengan disinfektan. Yang terpenting tempat tidurnya selalu dipasang seprai, ya!

Dia menambahkan selalu ada mikroba di sekeliling kita. Sejumlah penelitian menunjukkan lingkungan penuh mikroba mewakili orang-orang yang menghuninya. Itu berarti mikroba lama di dalam kamar kosan akan segera diganti dengan yang kamu bawa.

Hanya segelintir tempat yang benar-benar steril, jadi kita tidak perlu khawatir bakalan sakit akibat lingkungan kotor—khususnya kalau kamu sehat sentosa. “Kita harus mengakui lingkungan sangat kotor,” tutur Martin. “Tubuh kita dilengkapi pertahanan kuat untuk menanganinya.”

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US