Sejarah Musik

Subkultur Emo Berjasa Buat Anak Muda 2000-an, Kalau Ada yang Menghina Wajib Dilawan

Walau sering disalahpahami dan difitnah, emo sukses mendefinisikan satu generasi anak-anak perkotaan yang tumbuh besar di awal permulaan medsos.
Hannah Ewens
London, GB
18.3.19
​Foto ilustrasi gaya khas anak emo awal 2000-an
Foto ilustrasi anak emo awal 2000-an dari akun Flickr/ CC 2.0

Kalau kamu termasuk milenial dan memilih membaca artikel ini, biasanya kamu pernah punya teman baik yang menjalani fase 'emo'. Generasi yang besar di awal 2000-an pasti sempat berteman dengan orang kayak gitu. Dia biasanya punya Myspace dan Friendster. Si anak emo itu adalah “teman” pertamamu di Myspace ketika pertama kali bikin profil. Sebab, komunitas emo adalah pengguna medsos di awal-awal kejayaannya. Ini subkultur organik yang tumbuh di awal Abad 21, di berbagai negara.

Iklan

Sepanjang kurun 2003 hingga 2008, emo menembus jutaan layar komputer anak muda, dianggap sebagai simbol kegelisahan remaja, memicu kecemasan dan keinginan memberontak pada dunia, serta mempengaruhi berbagai aspek kehidupan.

Bagi banyak orang yang kini usianya pertengahan 20-an, emo bukan hanya identik sama ikat pinggang hitam, lirik lagu yang bikin kalian kepincut pakai eyeliner, lalu berpakaian serba merah-hitam. Kamu pasti teringat gaya hidup waktu itu. Sebuah periode dalam masa mudamu yang naif tapi penuh warna. Kalian mungkin ketawa membayangkannya sekarang. Tapi, jangan salah, belum ada subkultur di manapun yang terasa sangat mencolok dan pengaruhnya menyebar luas seperti saat emo menjangkiti anak muda di berbagai benua.

Semuanya dimulai lewat musik. Emo lahir dari kancah punk hardcore dekade 80-an di sekitar Washington D.C, Amerika Serikat. Jejaknya bisa dilacak hingga band-band midwestern layaknya Mineral dan American Football, lewat energi sound gitarnya yang gahar sekaligus mendayu.

Di awal 2000-an, musik pop menyatu bersama genre hardcore emosional dan emo Midwestern. Hasilnya adalah tren musik yang laku, ramah-MTV, sekaligus menghadirkan soundtrack kepada subkultur ini: Taking Back Sunday, Brand New, Hawthorne Heights, My Chemical Romance, Fall Out Boy dll.

Pengaruh subkultur ini begitu luas bukan hanya karena musik emo populer di radio. Perkembangan teknologi turut berjasa membesarkannya. Kondisi paruh awal 2000-an amat sempurna untuk fenomena ini berkembang pesat. Inilah masa banyak media sosial diciptakan. Untuk pertama kalinya, tanpa harus meninggalkan rumah, anak muda bisa berinteraksi langsung dengan personel band-band kesayangan mereka.

Para artis juga menyambut kehadiran medsos, karena membuat mereka tampak lebih manusiawi. Di titik ini, banyak remaja perkotaan siap mengkonsumsi semua karya yang dapat disediakan internet. Karya yang dominan pada periode tersebut adalah emo.

Iklan

Dengan teknologi medsos, kita dipengaruhi karakter sound tertentu, gaya busana khas, dan banyak hal lain tanpa harus datang ke satu skena. Lebih penting lagi, Myspace mengizinkan kita menciptakan identitas palsu di dunia online. Kamu bisa belajar HTML sederhana dan membuat profilmu sesuai keinginanmu.

Selfie juga menjadi sangat populer di fase ini. Kalian tentu ingat tren pasang filter yang membuat wajahmu ketutupan efek komputer. Namamu di Internet bisa diubah menjadi apapun yang kamu inginkan – biasanya ditambahin kata “Morfin,” “Switchblade,” atau istilah khas hardcore lainnya. (Butuh inspirasi? Coba generator nama scene ini).

Emo dan budaya Internet berkembang ketika banyak anak muda berusaha memahami jati dirinya. Berkat emo, kita bertemu jutaan teman-teman virtual yang melakukan hal serupa. Kita merasa jadi anggota keluarga besar yang sama. Keluarga besar emo global.

Gaya emo pop awal 2000-an emang istimewa banget. Kamu rela memotong sebagian besar rambutmu supaya punya poni lempar. Makeup tak lagi tabu dipakai lelaki, sejak Pete Wentz mendandani matanya pakai eyeliner tebal dan Gerard Way melapisi matanya dengan eyeshadow pink walaupun sekilas dandangan itu membuatnya tak beda dari pengisap lem aibon. Perempuan beramai-ramai mengenakan skinny jeans, cat kuku, cat rambut, dan kaos band yang saking ketatnya bikin susah nafas. Nma-nama band ditip-ex atau ditulis pakai spidol di tas ransel.

Konsep gender tak ada artinya, karena semua orang berpakaian sama. Gaya emo amat universal. Laki perempuan sama-sama berhak mengadopsinya.

Iklan

Dampak emo jauh berbeda dibanding subkultur sebelumnya, bahkan jika dibandingkan punk. Barangkali karena emo merupakan subkultur pertama yang lahir ketika internet terjangkau banyak orang. Hasilnya, selain marah-marah sama dunia, kemarahan anak muda tersebut diinternalisasikan dalam gaya yang seragam.

Seperti yang sering diceritakan lirik lagu emo, hubungan antar manusia sebenarnya penting tapi juga mustahil bisa dipertahankan; hubungan adalah segalanya sekaligus tidak ada artinya. Orang lain itu—mulai dari sahabat, kekasih, atau keluarga—adalah simbol pengkhianatan, dan kemungkinan besar kamu sendiri akan mengkhianati dirimu. Emo dengan tegas melawan "label" dan anak-anak emo manapun pasti menolak dipanggil emo. Padahal, nyatanya, sikap melawan labelisasi begitu membuatmua semakin merasa sah menjadi anggota komunitas emo.

Lambat laun, emo mencapai puncaknya hingga akhirnya jadi parodi dirinya sendiri. Emo mulai dilirik petinggi perusahaan gaya hidup yang menyadarkan daya beli para remaja. Mereka mengemas ulang gaya emo untuk H&M. Topman di awal 2008 bahkan mulai menjual baju gaya emo. Mulai banyak toko di mal menjual hoodie resleting. Skinny jeans menjadi tersedia untuk semua orang. Hasilnya, remaja-remaja yang sebelumnya tidak ikutan jadi tertarik dengan estetika emo.

Maka, bisa dipahami jika emo akhirnya mati pada 2010. Seperti semua subkultur-subkultur lainnya yang menjadi mainstream. Namun, yang paling mempercepat kematian emo adalah migrasinya ke Facebook. Popularitas soundtrack emo dari band-band seperti My Chemical Romance dan Fall Out Boy hanya memperparah gelombang arus utama tersebut.

Iklan

Emo mati ketika budaya serba update mulai menjangkiti pengguna medsos. Wall Facebook dan timeline Twitter dimanfaatkan sebagai tempat melampiaskan kegelisahan, dan hubungan percintaan disulap jadi sekadar selfie, dan ajang pamer di internet.

Medsos perlahan berfungsi untuk membentuk citra diri. Kita semua haus perhatian follower. Kita ingin disukai. Saat gerakan emo mati, itu periode awal kemunculan meme, pesan-pesan motivasi, dan budaya Tumblr.

Lahir dan matinya subkultur emo menunjukkan betapa kuat peran media sosial dalam mengendalikan gaya anak muda. Para eksekutif bisnis dan dunia teknologi mempelajari popularitas emo, dan mengubahnya jadi strategi pengembangan Twitter dan jejaring sosial lainnya. Selain itu, pola konsumsi medsos di era kejayaan emo juga menekankan betapa pentingnya interaksi antara selebritas dan penggemarnya.

Tapi emo memang tak sepenuhnya mati. Bisa dibilang orang-orang yang tumbuh besar pada masa itu menjadi generasi yang lebih terbuka terhadap gaya alternatif. Banyak merek dan produk fesyen yang tak pernah pudar ketenarannya, seperti kacamata berbingkai tebal, jaket kulit, skinny jeans dan Vans. Tren internet seperti cyberpunk dan fesyen ala Dollskill/Tumblr jelas terpengaruh gerakan emo lebih dari sepuluh tahun lalu.

Pendek kata, ledakan awal internet adalah alasan sebenarnya emo yang dicampur pop menyebar luas. Di sisi lain, internet jugalah yang memastikan subkultur itu segera ketinggalan zaman. Emo bisa saja menjadi subkultur pertama dan terakhir di era digital. Namun, setelah melihat bagaimana budaya emo memengaruhi kehidupan kita sekarang, bisa dibilang subkultur yang identik dengan kegalauan anak muda ini tidak akan sepenuhnya terlupakan.

Artikel ini pertama kali tayang di i-D