Alasan Puing Tembok Berlin Berdiri Tegap Dekat Skatepark Kalijodo
Selama 27 tahun, pecahan tembok saksi Perang Dingin teronggok di studio seniman Teguh Ostenrik. Kini, dia meletakkan tembok itu lagi di ruang publik sebagai simbol keterpisahan masyarakat akibat sengitnya Pilkada DKI.
Teguh Ostenrik menempuh pendidikan sebagai mahasiswa di Jerman Barat, ketika tembok pemisah dua sisi Kota Berlin runtuh. Dua puluh tujuh tahun kemudian, dia memandang ke sekeliling Indonesia dan melihat masih banyak tembok-tembok imajiner memisahkan satu sama lain.
"Ada banyak 'tembok' di tengah masyarakat pluralistik kita, memisahkan kita dalam kelompok-kelompok seperti ras, agama, dan etnis," ujarnya pada VICE Indonesia. "Ide tersebut sesuai pesan yang diresonasi oleh Tembok Berlin."
Pada November 1989 itulah, Teguh menyaksikan Tembok Berlin runtuh. Hal tersebut menandai berakhirnya Perang Dingin, perang ideologis senyap antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, memicu bermacam konflik di wilayah-wilayah satelit kedua negara, serta menyebabkan luka sosial mendalam sepanjang Asia dan Amerika Latin.
Sejak runtuhnya tembok ini, Teguh sangat tertarik untuk menyimpan bongkahan sejarah tersebut. Setahun kemudian, dengan bantuan pemerintah Indonesia, empat bongkahan Tembok Berlin tiba di Indonesia.
"Saya terpikir membuat sesuatu dari tembok itu," kata Teguh.
Setiap bongkahannya memiliki tinggi 3,6 meter serta lebar 1,2 meter. Kini, bongkahan-bongkahan tembok tersebut ditaksir bernilai 4 juta Euro—atau setara Rp6,2 triliun—dalam jika dilelang. Sebagai seniman, aktivis lingkungan hidup, dan kolektor sampah (menurut klaimnya), Teguh ingin bongkahan-bongkahan ini dipamerkan di Jakarta.
Gubernur DKI yang menjabat pada 1991, Wiyogo Atmodarmito, tertarik memasang tembok tersebut di Jakarta sebagai karya seni publik. Namun proyek tersebut mangkrak ketika Teguh dan pemerintahan saat itu tidak kunjung bersepakat soal lokasi pameran tersebut.
Selama bertahun-tahun, proyek tersebut mangkrak. Harapan Teguh sekadar angan-angan. Bongkahan-bongkahan Tembok Berlin nangkring di studionya, sampai akhirnya dia berhenti ngotot mencari tempat memajang bongkahan bersejarah itu.
Iklan
Teguh di studionya saat menggarap ulang puing tembok Berlin menjadi instalasi seni. Foto oleh Gino Franki Hadi.
Teguh teringat kembali pada bongkarah tembok era Perang Dingin itu, gara-gara pemilihan gubernur Jakarta tahun ini. Sengitnya pilkada, termasuk adanya sentimen agama dalam proses kampanye, mengingatkannya bahwa bangsa ini sebetulnya sedang terpecah belah. Indonesia menjunjung tinggi slogan "Bhineka Tunggal Ika", namun nyatanya masyarakat terus tercerai berai akibat perbedaan agama, ras, dan etnis. Saat mantan gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berakhir di penjara atas dakwaan penistaan agama, Teguh dibantu kawannya Yoris Antar, seorang arsitek, bergegas melanjutkan proyek tersebut.
Mereka berdua mendekati mantan wakil Ahok, Djarot Saiful Hidayat yang kini resmi menjabat sebagai Gubernur DKI. Mereka membawa proposal. Djarot tertarik dan berjanji akan memasang bongkahan Tembok Berlin sebelum akhir masa jabatannya.
Seorang dermawan yang tak ingin namanya disebut, mengongkosi biaya pemasangan bongkahan tembok tersebut di Taman Kalijodo, Jakarta. Taman tersebut tadinya adalah kawasan lampu merah, yang kini telah menjadi ruang publik dan taman skate untuk anak muda.
"Sebut saja [donatur kami] memiliki selera seni yang tinggi dan uangnya banyak, haha," kata Teguh tergelak.
Dia sadar ada risiko bongkahan tembok tersebut menjadi sasaran vandalisme, saat nanti diletakkan di ruang publik. Sekarang adalah era selife tidak bertanggung jawab dapat mengakibatkan kerusakan senilai $200,000 USD pada sebuah karya seni. Tapi Teguh tak keberatan. Baginya, itulah risiko mengusung seni publik.
"Kalau ada orang yang ngecat di atas mural yang aku buat, biarkan," katanya. "Segmen-segmen Tembok Berlin yang tersebar di seluruh dunia itu adanya di ruang publik. Saya hanya mau instalasi ini berada di tempat yang seharusnya. Di tengah masyarakat."
Teguh mengenakan terusan oranye saat saya temui di studionya. Dia sedang melukis bongkahan-bongkahan tembok tersebut supaya terlihat otentik, seperti saat masih berdiri tegak pada akhir era 1980'an. Dia menamai instalasi ini "Patung Menembus Batas." Instalasi ini menampilkan keempat bongkahan Tembok Berlin, sekaligus 14 patung manusia (dari rencana awal 29) yang akan diletakkan di sekitar bongkahan tersebut.
"Manusia itu bisa sekeras baja," ujar Teguh. "Namun dengan keinginan yang kuat, kita bisa mematahkan "dinding" di antara kira yang timbul dari perbedaan yang memisahkan kita satu sama lain."