Rohingya

14 Perempuan dan Anak-anak Rohingya Tenggelam Ketika Kabur Lewat Laut dari Myanmar

Sejak operasi pembersihan militer Myanmar akhir Agustus lalu, 460 ribu muslim Rohingya kabur lewat jalur darat dan laut. Dua-duanya mematikan.
Audy Bernadus
Diterjemahkan oleh Audy Bernadus
30.9.17
Belasan warga Rohingya naik perahu tiba tengah malam di Pesisir Shah Porir Dwip, Teknaf, Bangladesh pada 27 September lalu. Foto oleh: Rehman Asad/NurPhoto/ Associated Press.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Lebih dari 460.000 orang Rohingya sudah melarikan diri ke Bangladesh, sejak kekerasan mulai terjadi 25 Agustus lalu di Provinsi Rakhine, Myanmar. Mereka kabur lewat jalur darat maupun laut. Dua-duanya terbukti mematikan. Banyak warga Rohingya yang terkena ranjau darat di perbatasan. Sementara pelarian memakai perahu berisiko sama berbahayanya.

Setidaknya 14 perempuan dan anak-anak Rohingya tenggelam saat melarikan diri denganberlayar dari Rakhine, Myanmar. Perahu mereka terdampar di pantai Bangladesh.
Korban yang selamat, saat diwawancarai Kantor Berita AFP, mengaku perahu mereka menabrak sesuatu di tengah laut, kemudian terbalik.

Iklan

Polisi Bangladesh punya perkiraan lebih suram. Dia menduga lebih dari 100 umat Muslim Rohingya telah tenggelamsebelum mencapai daratan. Mereka semua kabur dari kekerasan militer yang sudah banyak merenggut nyawa selama sebulan terakhir. Kesalamatan mereka semakin terancam, mengingat perahu nelayan kecil yang mereka tumpangi tidak layak untuk mengarungi ganasnya ombak Teluk Bengal.

Insiden di laut ini diketahui publik setelah PBB mengumumkan sejak pekan lalu, bahwa diperkirakan 500,000 umat Muslim Rohingya sudah berlayar dari pesisir Myanmar menuju Bangladesh sejak akhir Agustus. Tepatnya setelah tentara Myanmar melancarkan operasi bumi hangus kepada kampung halaman etnis minoritas di negara mayoritas Buddha tersebut.

"Kejadian kali ini merupakan pengungsian paling besar di Asia Tenggara selama satu dekade terakhir," kata Wakil Juru Bicara PBB Farhan Haq, seperti dikutip kantor berita Associated Press.

Bangladesh sejauh ini menampung nyaris semua pengungsi dari Myanmar. Tragedi di Provinsi Rakhine disebut oleh PBB sudah masuk kategori pembersihan etnis. Tentara Myanmar, bersama milisi Buddha radikal, melakukan kekerasan terhadap etnis minoritas dengan dalih mengusir kelompok teroris muslim—klaim yang sejauh ini berlebihan.

Kantor PBB bagian Komisi Tinggi untuk Pengungsian menuntut adanya anggaran dana daruratuntuk merawat pelarian Rohingya. Hal ini dikarenakan populasi pengungsi yang sudah berlipat ganda dari jumlah awal.