Gangguan Mental

Kita Semua Butuh Kecemasan Untuk Bertahan Hidup

Otak kita merespon stres dengan cara yang cerdas. Bahkan mampu mewariskan ingatan semata-mata untuk membuat anak-cucu lebih waspada.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Sebagai seorang bukan-penulis dan tukang menunda-nunda yang enggak mahir mengikuti tenggat, saya membutuhkan waktu tiga hari untuk meredakan kegelisahan saya sampai akhirnya bisa duduk dan menulis artikel ini. Saya hanya disuruh menulis sekitar 500 kata, tapi saya jadi tegang nyerempet ketakutan, semacam ketakutan yang dialami nenek moyang kita dulu saat tiba-tiba ketemu harimau tatkala sedang menjelajah hutan mengumpulkan makanan. Hal ini bikin saya malu sendiri. Dan jadi bertanya-tanya soal asal mula evolusi dari perasaan cemas yang melanda banyak sekali anak muda di era modern ini. Terkadang, merefleksikan hal-hal berikut membantu kita memahami kondisi ini: a) kenapa perasaan ini bisa muncul, dan b) apa manfaat kecemasan dalam hidup ini. Ada tiga jenis kecemasan yang terhubung pada struktur otak kita. Yang pertama dikenal dengan sebutan preconscious anxiety, yang berkorelasi secara langsung pada objek yang dianggap berbahaya. Misalnya, saat seseorang melihat sesuatu, seperti ular berbisa, sinyal neuronal ditransimisi ke area otak yang bernama amigdala. amigdala pada dasarnya berfungsi sebagai sistem alarm otak, yang merespon dan memberi sinyal langsung dari pusat kendali. Itulah sebabnya saat kita cemas, tubuh langsung bereaksi tanpa kita atur: pupil melebar, jantung jadi lebih cepat, dan peredaran darah ke otot lebih lancar jadi membuat kita bisa kabur secepat mungkin. Pada dasarnya, amigdala merespon lebih cepat, jauh sebelum kita sadar akan apa yang terjadi di sekitar. Kecemasan 'pra-sadar' semacam itu membuat kita tanggap terhadap bahaya yang mengancam nyawa. Jenis kecemasan yang kedua lebih berjarak dari objek berbahaya. Kita menyebutnyaanticipatory anxiety. Siapapun yang enggak bisa diam mengkhawatirkan soal rapat penting di esok hari pasti ngerti soal kecemasan seperti ini. Dengan kecemasan antisipatoris, kita mengalami kecemasan di tingkatan sadar sembari memikirkan tentang peristiwa yang akan datang. Kecemasan yang timbul pada saat-saat seperti itu mengaktivasi amigdala dan korteks, bagian tengah otak yang lebih kompleks. Kedua bagian otak ini seperti saling berdebat, di mana amigdala memberi sinyal rasa takut ( "Rapat besok bakal kacau!") sementara korteks mencoba merasionalkan ketakutan yang tak berlandasan itu ( "Tapi kan aku udah berpengalaman memimpin rapat…"). Meski permainan ping-pong psikologis ini tidak terasa menyenangkan bagi yang menjalani, kecemasan antisipatoris bisa bermanfaat karena hal ini bisa memperbaiki performa kita. Yang menarik adalah, kecemasan kita seputar peristiwa tertentu berhubungan dengan evolusi leluhur kita. Hal ini disebut evolutionary anxiety. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa imej ular dan laba-laba, misalnya, menimbulkan rasa takut universal yang lebih besar dibandingkan imej lain. Salah satu penyebabnya adalah, amigdala menyimpan banyak ingatan evolusioner seputar penyebab kematian nenek moyang kita. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa manusia lebih awas terhadap ular. Kondisi tersebut mengafirmasi kesimpulan bahwa amigdala menyimpan ingatan sampai mempengaruhi evolusi kecemasan Supaya lebih kebayang, penelitian lain menunjukkan bahwa orang-orang dapat lebih cepat mendeteksi wajah marah ketimbang wajah gembira dalam kerumunan. Kecemasan evolusioner membuat kita mampu mengambil sikap dan tindakan yang benar dengan maksud menyelamatkan diri. Yang merasakan manfaat dari semua ini tentu diri kita sendiri. Kecemasan seringkali tampak merugikan dan bahkan bisa melumpuhkan. Namun memahami mekanisme dan asal mula perasaan ini membantu kita lebih sadar soal fungsi kecemasan. Moga-moga dengan menyadari bahwa kecemasan bisa bermanfaat, kita jadi lebih bisa menerima kecemasan dan rasa takut kita sendiri. Bagi saya, manfaatnya adalah saya bisa jadi lebih tenang, lebih anteng, dan bisa menulis sekian ratus kata jauh sebelum tenggat.

Anita Rao, MD, adalah psikiater di Northwestwen University Feinberg School of Medicine.