Blade Runner

Blade Runner dan Film Cyberpunk Lain Memakai Budaya Asia, Tapi Sering Ga Ada Karakter Asianya

Kenapa malah kota-kota masa depan isinya bule melulu? Hmmm, ada yang salah nih (sambil terdengar bisikan..."whitewashing!!!")
12.10.17

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Dunia suram masa depan Blade Runner kembali menghiasi layar lebar. Sesuai judulnya, Blade Runner 2049 mengambil setting waktu beberapa dekade setelah berakhirnya film pertama—semacam setting post-post-apocalpyse yang lebih menyeramkan dan nyata dibanding teknologi sinematografi 1980'an yang digunakan Blade Runner versi orisinal.

Blade Runner 2049 masih berlokasi di Kota Los Angeles yang penuh radiasi dan menyedihkan. Dunia Blade Runner ditinggali manusia ampas-ampas peradaban, menjalani kutukan dosa nenek moyang mereka yang merusak planet Bumi. Replicant—android hasil bioteknologi—berada di tengah-tengah manusia normal. Ziggurat megalitik berada di pusat kota, menjadi markas besar kaum elit korporasi. Setiap adegan memiliki nilai seni yang tinggi. Sayang semua capaian positif Blade Runner 2049 ternodai oleh satu hal.

Iklan

Sama seperti film pertamanya, 2049 menggunakan elemen-elemen budaya Asia Timur dalam dunia masa depan yang dibayangkan tim produksi. Lucunya, di film ini nyaris tidak ada karakter berdarah Asia. Selain Dave Bautista, yang berdarah campuran Filipina memerankan sosok Replicant Sapper, tidak ada karakter Asia sama sekali lho sepanjang durasi cerita. Jadi kenapa sih di Los Angeles harus pakai aksara kanji, iklan berbahasa Jepang, dan suasana kayak Hong Kong di Abad 22? Setelah menonton film ini dua kali, menemukan satu dua orang aktor figuran berdarah Asia, saya tidak menemukan satupun karakter Asia yang diberi kesempatan ngomong sepanjang film.

Sumber gambar: Warner Bros.

Coba perhatikan latar 2049 lebih seksama: papan iklan neon dengan tulisan kanji, yukata yang dikenakan Neander Wallace, cheongsam dikenakan Joi, ada Pecinan yang ramai, dinding interaktif penuh app anime, kotak bento penuh nasi yang dimakan K, teks dwibahasa di mana-mana (Jepang dan Inggris). Semuanya menunjukkan sebuah kota multikultur, terutama dengan pengaruh Asia Timur, yang hidup, tapi entah kenapa semua penghuninya adalah warga berkulit putih.

Kalau dunia masa depan cyberpunk sangat kental dengan pengaruh Asia, orang-orang Asianya pada kemana?

Blade Runner asli ataupun versi 2049 adalah seni orientalis. Semuanya cantik, biarpun bias dengan interpretasi kultur "lain" yang seolah membenarkan kolonialisme. Hanya di masa depan buatan ini, para kolonis adalah korporasi raksasa yang tidak pernah terlihat sosoknya—perusahaan Jepang, Cina, Korea—yang kuilnya terlihat memenuhi Los Angeles. Alasan kenapa semua tanda dan rambu menggunakan dwibahasa adalah di masa depan yang aneh ini, bahasa Jepang sudah menjadi lingua franca. Kebanyakan penduduk ghetto hidup di bawah bayang-bayang gedung pencakar langit milik perusahaan Asia, dan populasi yang diperbudak, Replicants mayoritas berkulit putih.

Iklan

Sumber gambar: Warner Bros.

Subkultur Cyberpunk meraih popularitas, antara lain berkat Blade Runner dan Neuromancer, yang sangat terinspirasi oleh Jepang. Ini terjadi di 1980an ketika Jepang mengalami revolusi teknologi. Di saat itu, produksi komputer sedang berkembang menuju era informasi baru dan hendak mengambil alih dunia. Brand seperti Sony dan Nintendo menjadi sangat populer. Generasi muda AS dan juga banyak negara lain mulai ikut kecanduan anime. Ekonomi Jepang berkembang menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia di akhir abad 20.

Setelah mengunjungi Tokyo, Gibson, pernah mengatakan, "Jepang modern itu kurang lebih cyberpunk. Orang Jepang pun sadar dan menerima hal ini."

Memang beberapa kota di Asia terlihat futuristik bahkan sejak era 80'an. Tokyo, misalnya, dengan gang-gang yang penuh lampu neon. Elemen baru bercampur dengan elemen lama. Ada alasan kenapa hologram geisha sering sekali muncul di film-film cyberpunk.

Blade Runner

Ketakutan Perang Dingin, kita harus ingat, sering mengilhami topik sains fiksi Abad 20. Saat itu, perekonomian Jepang yang semakin menguat memicu ketakutan distopia dari negara Barat. Selain Soviet, Jepang jadi sumber ketakutan penduduk AS. Makanya, kita perlu ingat betapa premis Blade Runner terkait erat dengan kondisi sosial-politik dekade 1980a'n. Kekuasaan elit-elit korporat bukanlah hal yang tidak disengaja. Globalisasi adalah salah satu hal yang ditakuti AS pada masa itu.

Komunitas cyberpunk modern juga kerap menguatkan stereotip ini. Thread r/cyberpunk di Reddit seringkali penuh dengan estetik mirip dengan film-film ini. Memang ada juga yang berusaha menciptakan sesuatu yang baru—District 9 membantu mempopulerkan cyberpunk Afrika, misalnya—tapi genre ini memang sebagian besar masih satu dimensi.

Iklan

"Semenjak akhir 1970an, kultur sains-fiksi Barat melihat Jepang sebagai simbolisasi masa depan. Kultur Jepang yang 'nyentrik' menjadi simbol masa depan yang serba tidak pasti," begitulah pendapat esais Annalee Newitz perihal obsesi negara Barat akan keanehan budaya Jepang.

Namun sekarang, tidak ada lagi alasan untuk menampilkan dunia yang sangat homogen. Saya tidak akan menerima argumen yang mengatakan Blade Runner itu mayoritas berkulit putih karena manusia lainnya tinggal di koloni off-world. Ini argumen yang bego. Ingat, bahwa di film ini ada adegan hologram dan replicant berhubungan seks.

Situasi set Blade Runner.

Ketika orang non-kulit putih tidak pernah menyaksikan representasi ras mereka di masa depan spekulatif, ini mengeluarkan pesan yang negatif tentang kemajuan peradaban manusia. Memang, sekarang sudah banyak film sains-fiksi Hollywood yang mulai lebih inklusif dalam hal pemilihan aktor dengan latar belakang berbeda, tapi jalan menuju ekualitas masih terjal.

Bagi warga Asia-Amerika, mereka paham betul tentang diskriminasi ini. Mereka mungkin adalah demografik yang paling diabaikan dalam industri film. Dalam beberapa tahun terakhir, sering sekali mereka hanya diberikan peran-peran klise atau di-whitewashed.

Film Blade Runner dan 2049 mempersembahkan elemen terbaik film cyberpunk. Hanya saja, bayangkan betapa lebih baiknya kalau tim produksi menggunakan pilihan aktor yang sesuai dengan dunia nyata, entah sekarang atau di masa depan kelak.