Politik Internasional

“Kami Dicuci Otak”: Pengakuan Para Perempuan Yang Melarikan Diri dari Korea Utara

Perasaan bersalah, paranoid, dan beban mempertaruhkan nyawa keluarga adalah harga yang perlu dibayar orang-orang yang melarikan diri dari Korea Utara.
26 Februari 2018, 11:41am
Mantan warga negara Korut, Eiko Kawasaki, kini tinggal di Jepang. Semua foto oleh Tanja Houwerzijl

Di Jepang, perahu nelayan Korea Utara dikenal dengan sebutan ghost ships atau kapal hantu.

Pada 2017, 104 kapal hantu terdampar di pantai barat Jepang. Dua tahun lalu, 66 perahu ditemukan, menurut penjaga pantai Jepang. Seringkali, mereka menemukan mayat-mayat berkewarganegaraan Korea Utara di dalam atau di sekitar perahu-perahu.

Para analis berkata bahwa peningkatan perahu Korea Utara yang terdampar adalah akibat langsung dari kurangnya makanan di Korea Utara, yang diakibatkan oleh sanksi-sanksi di Korea Utara selama beberapa tahun belakangan.

Eiko Kawasaki menunjuk lokasi di mana ia dulu tinggal. Keluarganya masih di sana.

Kapal-kapal hantu ini, dan sejumlah rudal yang dilancarkan pada wilayah Korea Utara, tidak sesuai dengan diplomasi yang dikoreografi Korea Utara dan Korea Selatan selama upacara pembukaan 2018 Pyeongchang Winter Olympics, di mana saudara perempuan Kim Jong-un, Kim Yo-jong duduk hanya beberapa meter dari presiden Korea Selatan Moon Jae-in.

Pembelot Korea Utara yang tinggal di Jepang tidak percaya dengan “ diplomasi senyum,” dan kisah-kisah baru soal kapal-kapal hantu membawa kembali ingatan menyakitkan soal kelangkaan makanan dan kerasnya hidup.

Saya berjumpa dengan Eiko Kawasaki, 75 tahun, di sebuah mal di daerah suburban Tokyo. Dia tidak pernah tahu ada tempat seperti ini sampai akhirnya dia terbang ke Jepang lebih dari satu dekade silam.

Kisah Kawasaki berakhir layaknya thriller Orwellian. Pada 1942, dia dilahirkan oleh dua orang tua asal Korea yang tiba di Jepang pada era penjajahan Korea (yang saat itu masih bersatu). “Pas setelah perang, ekonomi Jepang tidak amblas, dan kami para zainichi [etnis Korea yang tinggal di Jepang] punya posisi yang paling tidak menguntungkan di masyarakat,” ujarnya.

Setelah perang memisahkan Korea menjadi dua, kepemimpinan utara meluncurkan sebuah kampanye reparasi untuk memancing warga Korea yang tinggal di negara-negara Asia. “Saya hanya tahu soal komunisme dari buku pelajaran,” ujar Kawasaki. “Jepang sangat miskin pada saat itu, jadi tampaknya ada kesempatan untuk mengenal komunisme secara langsung.” Yang paling penting, pemerintah Korea Utara menjanjikan bahwa pendidikan, tempat tinggal, layanan kesehatan, dan bahkan pakaian akan digratiskan. “Saya pergi sendirian, nanti keluarga saya menyusul.”

Kawasaki pergi dengan kapal—sekitar 93,000 zainichi akan melalui perjalanan yang sama—dan ingat tiba di dok. “Orang-orang berteriak pada kami, berkata bahwa makanan gratis dan layanan kesehatan gratis adalah kebohongan. ‘Balik aja sana,’ ujar mereka. Tapi ya kami tidak bisa kembali.”

Yang paling parah adalah fakta bahwa Kawasaki tidak bisa kembali ke Jepang—pemerintah Korea Utara tidak akan mengizinkannya. Dia kini adalah tawanan diktator Korea Utara.

Kawasaki memutuskan untuk mencoba menjalani kehidupan normal sebaik mungkin. Dia berupaya keras di sekolah dan mendapatkan ijazah teknik, pekerjaan baik, menikahi laki-laki Korea Utara, dan memiliki lima anak.

Anak sekolah memandang turis dengan penuh curiga. Mereka sedang menuju ke sebuah lapangan untuk menghormati pimpinan tertinggi Korut

Itulah saat kesulitan hidup melanda. “Saya tidak bisa menyampaikan pada keluarga saya bahwa hidup di luar jauh lebih baik. Mereka bisa saja melaporkan saya ke pemerintah, karena membicarakan hal buruk tentang pemerintah bisa membuat saya dipenjara. Dan saya tidak tahu apa yang anak-anak saya pikirkan, tapi saya tahu otak mereka dicuci di sekolah.”

Anak-anaknya tumbuh besar tidak percaya pada semua orang kecuali Partai dan Pemimpin Agung Kim Jong-il. “Saya tidak berani bercerita pada mereka soal hidup saya di Jepang, atau keinginan saya untuk meninggalkan Korea Utara. Suatu hari saya sadar harus kabur. Suami saya sudah meninggal, dan saya mending mati di Korea Utara daripada harus hidup di sana.”

Dia tidak menceritakan rencananya pada anak-anaknya. “Kalau saya cerita, saya berisiko dikhianati, atau membuat mereka terlibat dalam tindak kriminal saya. Itu bukan soal kepercayaan, atau alpanya kepercayaan, tapi saya harus mengantisipasi skenario teburuk.”

Hanya satu dari lima anak mereka membuat keputusan yang sama untuk meninggalkan Korea Utara. “Sekarang kita tetanggaan di Tokyo,” ujarnya dengan senyum lebar. “Tapi saya khawatir dengan empat anak-anakku. Sampai November 2017 saya masih belum bisa mengontak mereka selama lebih dari satu tahun. Saya senang banget pas dapat surat dari mereka pada bulan November, katanya kabar mereka baik.”

Mitsuko (bukan nama asli) memilih untuk tetap anonimus, karena ia khawatir akan balasan yang dilancarkan pemerintah Korea Utara pada keluarganya.

Di sebuah kawasan tenang di Tokyo, saya bertemu dengan seorang perempuan Korea Utara bernama Mitsuko, dengan pekerja LSM Jepang bernama Hiroshi Kato yang menyediakan dukungan bagi para pembelot perempuan untuk organisasi bernama Life Funds for North Korean Refugees.

Nama Mitsuko telah diubah untuk melindungi privasinya. Perempuan berusia 47 tahun ini melarikan diri ke Jepang pada 2011, dan tak seperti Kawasaki, dia langsung menyadari bahwa kepergiannya mendatangkan konsekuensi tersendiri bagi orang-orang yang ditinggalkannya. “Saat saya kabur, adik ipar saya ditangkap, disiksa, dan dibunuh di dalam penjara. Adik ipar yang lainnya kehilangan posisinya sebagai pemimpin rumah sakit besar.”

Di samping Mitsuko, Kato mengangguk. “Kamu harus paham bahwa rezim Korea Utara memiliki obsesi untuk menguasai rakyatnya, itulah sistem yang menaungi mereka. Dan itulah mengapa dia masih takut sekarang, meski sudah tinggal di Jepang.”

Dengan cemas dia memindai sekitarnya selama wawancara kami berlangsung di sebuah restoran cepat saji. Dia selalu paranoid karena tumbuh besar di Korea Utara. Di Korea Utara, ujarnya, ada yang disebut aturan tiga generasi. Artinya, satu keluarga dapat dihukum jika salah satu anggotanya melakukan tindak kriminal. Kabur dianggap sebagai salah satu tindak kriminal terburuk.

Sebagai seorang anak, Mitsuko juga membayangkan kehidupan di luar Korea Utara. “Saya bermimpi akan sebuah kehidupan di luar Korea Utara,” ujarnya. “Saya tahu saya menjalani hidup yang tidak normal. Saya tidak pernah bahagia di sana.” Kawan-kawan masa kecilnya takut untuk mengatakan hal negatif apapun soal Korea Utara, dan dia kemudian memperlajari bahwa ngobrolin soal politik adalah hal yang berbahaya. Satu-satunya tempat aman untuk mengeluh adalah rumah orangtuanya. Orangtuanya sangat kritis terhadap rezim tersebut. Dia berasumsi bahwa anak-anak lain tumbuh dengan keadaan yang sama, memuja pemerintah hanya supaya mereka tidak terlibat masalah.

Berpetak-petak sawah di sebuah tempat antara Pyongyang dengan Kaesong. Korea Utara masih bergantung dari komoditas luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pangan domestik.

Namun saat Kim Jong-il meninggal dunia di kereta pada 2011, dia sangat terkejut dengan reaksi orang-orang. “Orang-orang ke jalanan dan menangis. Ada yang sampai enggak bisa makan dan meninggal karena kelaparan. Lalu saya sadar harus melakukan sesuatu; orang-orang otaknya sudah dicuci.”

Suaminya mulai membantu orang-orang di Korea Selatan untuk mengontak anggota keluarga mereka di utara, sehingga Mitsuko menjadi kaki tangan makar. Mereka berdua menghadapi risiko eksekusi publik kalau pemerintah mengetahui soal kegiatan suaminya. “Hukuman tiga generasi” berarti satu keluarga dapat dihukum atas tindakan makar seorang anggota keluarga. Saat dia mendengar bahwa pihak intelijen mengetahui soal kegiatan bawah tanah yang dia geluti, mereka memutuskan untuk kabur.

Bersama suaminya dan anak semata wayangnya, Mitsuko kini hidup di Tokyo, namun tak satu haripun terlewat di mana dia tidak merasa bersalah secara mendalam terhadap anggota keluarga yang dia tinggalkan. Hidupnya di Korea Utara telah meninggalkan luka emosional yang mendalam, ujar Mitsuko.

Akhirnya, bagaimana perasaan Mitsuko soal sikap Korea Utara di Olimpiade? “Pemerintah Korea Utara tidak akan pernah menghentikan ambisi mereka untuk melancarkan rudal yang mampu membawa nuklir sehingga mereka bisa menyerang AS. Ada pangkalan-pangkalan militer AS di Jepang sini, dan saya yakin mereka pada akhirnya akan mencoba menyasarnya. Kita semua perlu menghentikan kediktatoran kejam ini.”