keuangan

Video Game Kadang Mengajarkan Cara Terbaik Mengelola Keuangan Lho

Makanya sekali-kali main game lah, biar kehidupan finansialmu enggak amburadul.
8.3.18
Ilustrasi oleh Xavier Lalanne-Tauzia.

Artikel ini pertama kali tayang di FREE—situs baru VICE Media yang membahas berbagai isu ekonomi dan pengelolaan keuangan secara nyeleneh.

Seperti berbagai kisah petualangan lainnya, semua ini bermula dari kota Blackwater di tepi Flat Iron Lake. Saya berjalan menyambangi toko Gunsmith sambil memeriksa barang dagangannya. Mata saya terpaku pada senjata termahal yang pernah saya temui—sepucuk “senapan peledak.” Banderolnya tak tanggung-tanggung, US$10.000 per biji. Banyak orang menggantungkan hidupnya pada saya, buronan Wild West yang tobat: John Marston. Tapi saya malah terobsesi untuk merogoh kocek dan membawa pulang senapan itu.

Iklan

Kalian pasti sudah sadar dari tadi. Saya tak sedang ngomongin orang dan tempat yang beneran ada. Yang tadi saya sebut-sebut adalah lokasi dan karakter video game keluaran Rockstar, Red Dead Redemption. Seperti penggemar lain game ini, saya senang sekali ‘terjebak” dalam dunia Marston. Makanya, saya enggak habis pikir kenapa sepucuk senjata mahal bisa mengalihkan saya dari tujuan utama saya: membereskan quest storyline. Setelah membereskan quest remeh mengunjungi gunsmith ini, saya ketagihan berburu item mahal baik di game ini atau di game-game lainnya seperti Skyrim atau Horizon Zero Dawn, sambil menunda-nunda menyelesaikan quest aslinya lebih mendesak.

Alhasil, saya malah beroleh pelajaran-pelajaran aneh tentang cara mengelola uang dari video game, yang harusnya bikin saya terlena karena gameplay dan alur ceritanya. Sebenarnya, ini logis sih. Kan kita tahu kalau game yang imersif biasanya berusaha mati-matian meniru dunia nyata. Dengan demikian, ada semacam sistem ekonomi—sesederhana apapun itu—yang berjalan di dalamnya. Makanya, di game, karakter kita pu punya rekening bank, pekerjaan, produk yang bikin lebih unggul saat menjalankan misi tertentu.

Sistem ini penting demi memastikan player kerasan main game. Di sisi lain, sistem tersebut juga menyadarkan saya akan kepintaraan sekaligus kebodohan saya bila berurusan dengan uang. Berikut adalah beberapa cara akun bank dan misi yang diambil karakter saya dalam memaksa saya berpikir ulang tentang kebiasaan mengelola uang di dunia nyata.

Tingkah Laku Menentukan Harga Barang

Seperti dalam kebanyakan game genre action adeventure, nyari uang di Red Dead Redemption perkara gampang. Marston, karakter yang saya mainkan, cukup memburu begundal untuk ditukar sama uang. Cara lainnya adalah main judi, mengumpulkan tumbuhan berharga, hingga berburu binatang liar untuk dijual ke toko.

Saat saya kembali ke Gunsmith Blackwater untuk mengambil senapan yang saya incar, Marston sudah melakukan banyak amal jariyah, hingga cukup dianggap layak menerima gelar Peacemaker dalam gae (Gelar ini menandakan betapa baiknya Marston dalam beberapa interaksi sosial yang dilaluinya dalam game. Kalau kamu memilih jadi bajingan, gelar yang kamu terima sudah pasti berbeda). Lantaran menyandang gelar Peacemaker, toko Blacksmith memberi saya diskon 50 persen. Senapan yang mahalnya enggak ketulungan tadi, sekarang cuma dibanderol US$5.000. Intinya, track record Marshal baik itu sekarang berfungsi bak kartu diskon yang bisa dipakai di mana saja.

Di dunianya, sistem serupa juga berlaku. Kalau di Indonesia, penilaiannya menggunakan skor kredit BI checking yang dianalisis dari bank berdasarkan kemampuan membayar cicilan hutang secara konsisten. Acuan yang digunakan tidak secara langsung bersentuhan dengan tindakan baik/jahat kita. Namun, sistem berdasarkan skor kredit ini memiliki nuansa ukuran kehormatan zaman bahuela ketika utang dianggap tanda-tanda jiwa-jiwa yang malas dan tindakan yang secara moral dipertanyakan. Di AS saja, yang terhitung negara maju, belum ada sistem buat membantu muda-mudi 20 tahunan awal yang terjerat hutang sampai Rp55 miliar karena berutang buat biaya kuliah. Kalua di Indonesia, seringnya gaji awal yang mepet UMR tidak bisa bersaing sama inflasi, sehingga anak muda tak sanggup beli rumah. Tiap negara kasusnya pasti beda-beda. Tapi artinya, kemampuan mencicil adalah kuncinya. Kita harus bisa konsistensi, entah itu untuk berbuat baik atau menyicil hutang, menentukan murah atau mahalnya barang yang kami beli.

Iklan

Ketika saya pertama kali memainkan Red Dead Redemption pada 2010, saya sudah sadar skor kredit saya kudu diurus. Sayang, saya kurang serius. Marston, mantan penjahat yang bijak itu, menyadarkan saya agar sungguh-sungguh memperbaiki skor kredit saya dengan terus memprioritaskan bayar cicilan. Saya harap Red Dead Redemption 2, yang sedianya keluar Oktober 2018, akan memberikan nasehat-nasehat finansial yang lebih nampol lagi.

Ingat Rumus Ini: Banyak Uang, Banyak Masalah

Lagu rapper New York Notorious B.I.G tentang jebakan kemewahan sudah dianggap klasik. Lebih dari itu, liriknya saya yakin diangkat dari kenyataan sehari-hari. (Misalnya, diperkirakan sekitar dua pertiga pemenang lotre bangkrut setelah beberapa tahun, seperti yang dilansir oleh NY Daily News. Parahnya lagi, orang kaya kagetan ataupun OKB sebetulnya lebih berpeluang menyatakan pailit dari penduduk Amerika Serikat pada umumnya).

Saya baru-baru ini mengalami pengalaman serupa saat main sebuah game ciamik Horizon Zero Dawn. seperti Red Dead Redemption, game ini memiliki senjata yang harganya enggak kira-kira mahalnya. Secara khusus, saya mengincar tiga jenis senjata: Icerail, Forgefire, dan Stormslinger. Makanya, begitu saya punya modal untuk memborong ketiganya, saya kegirangan.

Ketiga senjata ini benar-benar ampuh digunakan melawan musuh. Setelah mendapatkan ketiganya, karakter saya bisa membuat damage lebih besar musuh-musuh saya. Nilai plusnya, ketiga senjata api ini enak dan gampang digunakan.

Sayang, saya segera sadar bahwa senjata ini selain ampuh, juga bikin isi kantong saya tipis. Sebelum membeli senjata pertama, saya mengantongi setidaknya 10.000 shard, nama mata uang dalam game ini. Masalahnya, senjata-senjata ini harus diisi semacam cairan amunisi. Ini yang meretin duit karakter saya. Akibatnya, setelah beberapa pertempuran melawan mesin, saya langsung berada di ambang batas kemiskinan. Seperti di dunia nyata, saya paham bahwa mainan baru yang mengkilap bisa bikin kamu bankrut bila dibeli tanpa perhitungan.

Iklan

Di dunia nyata, senjata-senjata ini bisa diganti kapal mewah atau kuda, yang kurang punya fungsi praktis dalam hidup kita. Dua barang mewah tak cuma mahal harganya. Biaya perawatannya pun tak murah. Kami harus bener-bener berkocek tebal untuk menjaga kapalmu tetap kinclong dan kudamu tetap trengginas. (Keluarga Simpson belajar hal ini dalam episode “Lisa’s Pony”).

Belajar menghindari pembelian impulsif dan menggalakan pembelian dengan perhitungan yang matang adalah faktor besar agar kita tetap bisa bayar utang. Petualangan Aloy bersama senjata-senjata canggihnya terus mengingatkan saya akan tema tersebut.

Uang Tak Sama Dengan Nilai

Baru-baru, saya menamatkan Super Mario Odyssey, salah satu game yang in-game money-nya bergeletakan di mana-mana. Tinggal ambil doang. Ironisnya, koin memang gampang diperoleh, tapi yang berharga di game ini adalah Power Moon. Item satu ini bisa digunakan untuk membuka map baru dan mengisi bahan bakar kapal Mario. Power Moon diperoleh saat kamu membereskan satu level atau main mini game. Power Moon sebenarnya dapat diperoleh dari map tapi tempatnya susah dicapai. Masalah banget kan?

Tapi, kalau mau gampang, kamu tinggal ke toko. Power Moon dijual di sana. Pas main, saya mikir gini “bisa nih power moon dikit buat bahan bakar kapal Mario.” Sayang, ternyata kalau kamu belum mengelarkan semua map, kamu cuma bisa beli satu power moon di tiap toko. Pesan moralnya: beli hadiah itu kurang cihuy dibandingkan bermandi darah mendapatkannya (tentu saja, di game ini, kamu enggak akan mandi darah).

Iklan

Penekanan pada kerja keras memiliki fungsi sentral dalam dongeng-dongeng moral tentang uang dari zaman dahulu kala. Seperti fabel Aesop tentang belalang dan semut, uang hasil warisan atau tak diperoleh dengan mengeluarkan peluh punya stigma jelek dibandingkan uang dihasilkan dari uang hasil kerja keras.

Kayaknya bakal lebay kalau kita berpikir Super Mario Odyssey dengan sengaja mengajarkan bahwa berjuang mendapatkan barang berharga jauh lebih luhur daripada membeli langsung dengan uang. Tetap saja, game ini mengeksploitasi kondisi psikologis ini untuk memperkaya pengalaman bermain.


Baca juga artikel VICE soal pengelolaan keuangan yang dibahas pakai pendekatan tak biasa:

Kebanyakan dari kita pernah merasakan ini saat pertama kali bisa hidup dari gaji sendiri, alih-alih dari transferan ortu. Mengatur uang gaji yang tak seberapa pada awalnya bakal terasa menyiksa. Hanya saja, selalu ada kepuasan yang kita rasakan saat menerima uang hasil pekerjaan kita dan, tentunya, menghabiskannya.

Nah, Super Mario Odyssey menekan bahwa pemberian hadiah itu erat hubungannya dengan eksplorasi serta perjuangan dan pencarian skill baru, yang jauh lebih berharga dari isi rekening bank dalam jangka panjang.

Tentu, ada banyak game yang mengajarkan kebiasan finansial yang buruk. Salah satunya sudah pasti Grand Theft Auto. Namun, salah satu keasyikan mengeksplorasi dunia rekaan dan hidup dengan sudut pandang karakter yang kita mainkan, adalah ketika tiap player mendapatkan pengalaman bermain yang unik.

Saya akui, nasehat-nasehat finansial yang saya petik dari game enggak revolusioner sama sekali. Lagian, lebay banget kalau bilang saya main game untuk mencari pelajaran mengatur keuangan. Hanya saja, menemukan prinsip-prinsip finansial dalam game—secara enggak sengaja tentunya—memperkaya pandangan saya tentang prinsip mengurus keuangan di dunia nyata. Kita harus selalu ingat: di dunia nyata, uang tak bergeletakan begitu saja di lantai dan bisa kamu ambil atau pakai sesukamu.

Becky Ferreira bisa diajak tukar pikiran tentang game dan keuangan di Twitter .