FYI.

This story is over 5 years old.

ramadan

Selama Ramadan Ingin Merasakan Suasana Makkah? Bisa Pakai VR Lho

Startup asal Mesir membantu jutaan muslim yang belum sempat umroh mencicipi atmosfer kota suci tersebut, sekaligus bisa jadi sarana mempelajari Islam bagi nonmuslim.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Startup asal Mesir belum lama ini membuat perangkat lunak dalam format virtual reality yang memberi pengalaman penggunanya seakan sedang berkunjung ke Makkah.
Experience Mecca, dikembangkan oleh BSocial yang berbasis di Ibu Kota Kairo, adalah pengalaman realitas virtual yang tampaknya bisa menjadi solusi umat muslim sedunia. Setiap tahunnya jutaan pemeluk Islam berkunjung ke Makkah, Arab Saudi, melakoni ibadah haji atau umroh. Namun karena ongkosnya besar, tak semua muslim beruntung melakukannya. Aplikasi ini, yang mennyajikan ritual ibadah haji dalam format 3D, dipenuhi gambar-gambar suara-suara merdu orang berdoa di Masjidil Haram. Sambil mengenakan kacamata VR, si pengguna seakan berada di antara orang-orang yang sedang tawaf, salat, dan di waktu bersamaan dapat mengalami detil-detil kecil seperti burung-burung berterbangan di atas Ka'bah. Sensus menunjukkan 90 persen warga Mesir adalah Muslim Sunni, kelompok Islam paling dominan, dan sekitar tiga perempat menganggap diri mereka taat beragama. "Kami mencari tahu apa yang kami bisa lakukan secara unik untuk mempromosikan Islam," ujar Ehab Fares, Direktur BSocial, yang mengembangkan pengalaman-pengalaman tersebut pada toko Oculus, saat dihubungi Motherboard. "Software ini merupakan pesan baik tentang Islam dalam pendekatan baru, semoga Tuhan memberikan restu-Nya," ujarnya. Saat diwawancarai, Fares duduk di sebelah Al-Quran berukurang mungil dan kacamata VR.

Iklan

Screenshot dari Experience Mecca.

Fares sengaja meluncurkan aplikasi ini pada momen Ramadan, bulan suci di mana umat Muslim berpuasa dari subuh hingga maghrib. Aplikasi tersebut menceritakan kisah bagaimana Al-Quran, diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW di abad ke-7 Masehi selama bulan puasa. Semua setting adegan dalam VR ini bertempat di Kota Suci Makkah, termasuk ketika Rasulullah meneruskan wahyu-wahyu dari Allah SWT kepada para pengikutnya, yang mencatat ayat-ayat tadi ke sembarang medium, termasuk pelepah pohon. Di kemudian hari, kita tahu, wahyu yang diterima Muhammad disatukan dalam bentuk mushaf, menjadi Al Quran yang kita kenal sekarang. Melalui perangkat lunak ini, Fares ingin software VR-nya dipakai siapapun, termasuk oleh nonmuslim. Tujuannya adalah merobohkan stereotipe negatif Islam yang digambarkan media massa di Barat, yang memicu sentimen Islamofobik. Setahun belakangan umat Muslim secara global mengalami banyak tantangan, salah satunya larangan masuk Amerika bagi warga dari lima negara mayoritas muslim akibat Keputusan Presiden Donald Trump.

Fares, saat diwawancarai Motherboard, mengakui ajaran Islam yang indah dan damai kini seringkali dicemarkan oleh khotbah-khotbah provokatif dari 'ustaz' televisi, yang amat populer Jazirah Arab. Para ustaz gaya baru itu secara kaku mengatur umat Muslim bagaimana sebaiknya menjalani hidup tanpa menekankan sisi personal ataupun spiritual. Ajaran keras itu membuat citra muslim yang sudah sering dipojokkan bertambah buruk di mata penduduk dunia. Fares ingin produk-produknya bisa menawarkan pelajaran Islam yang berbeda dari ceramah para ustaz karbitan. Dia ingin menciptakan ruang intim bagi Muslim yang ingin belajar secara visual mengenai agama Islam tanpa campur tangan pandangan subyektif ulama tertentu. "Virtual reality menciptakan kesempatan bagi saya untuk menetapkan prinsip-prinsip agama saya. Saya memandangnya sebagai bentuk berserah diri seutuhnya kepada Tuhan. Dari saat saya bangun, saya harus melakukan segala hal dengan jujur dan amanah." Fares merilis Experience Mecca online secara cuma-cuma, mengharapkan sekitar 10.000 subscriber di awal peluncurannya. Dia amat bersyukur kini jumlah subscriber telah melampaui 165.000, termasuk dari luar negeri seperti Ukraina atau Brasil.

Ehab Fares. Foto oleh penulis.

Mesir, negara Arab berpenduduk paling besar, patut bangga dengan ekosistem startup yang menanjak setelah revolusi demokratis 2011. Sebagian besar perusahaan teknologi di Negeri Piramida itu mengupayakan solusi masalah kehidupan sehari-hari bagi konsumen. Virtual reality (VR) semakin diminati di pasaran Timur Tengah, terutama kawasan Teluk Persia. Muncul estimasi bila VR akan segera menjadi industri miliaran dollar di Jazirah Arab. "Daripada cuma membaca buku, saya akan mengantarmu ke sana secara virtual untuk mengalami sendiri sensasi berada di Makkah. Kamu bisa mengalami apa yang terjadi melalui 'jembatan' ke masa lalu, masa kini, dan masa depan," kata Fares. Fares juga berharap bahwa produk-produknya bisa memiliki dampak positif, mengingat semakin banyak anak muda yang teradikalisasi online oleh perekrut militan. Europol menemukan platform media sosial milik simpatisan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS). Isi medsos itu mayoritas komunikasi khusus para pendukung khilafah, serta propaganda para ekstremis. Fares berharap software buatannya bisa menjangkau pendukung Islam radikal, menjadi pembanding kampanye digital militan yang kerap mencuci otak sebagian orang. "Siapa tahu seseorang yang sebelumnya mengobrol dengan teroris lewat layar ponsel atau komputer, bisa mengenakan kacamata VR dengan software kami, lalu berubah pikiran," ujar Fares. Amin ya rabbal alamin.