Penyiksaan Binatang

Gajah Stres dan Panik Menginjak-Injak 18 Pengunjung Festival Buddha di Sri Lanka

Festival-festival keagamaan macam ini sayangnya dikenal tidak memperlakukan gajah mereka secara baik.
JP
Diterjemahkan oleh Jade Poa
13.9.19
elephant sri lanka parade distressed
Tangkapan layar dari video Reuters. 

Pada Sabtu (7/8), dua ekor gajah menginjak-injak kerumunan pengunjung sebuah festival Buddhis di Colombo, Sri Lanka. Delapan belas orang mengalami cedera, termasuk pemelihara kuil yang sedang menaiki salah seekor gajahnya, serta 13 perempuan. Kedua gajah tersebut berhasil lolos dari rantai mereka, lalu menyerbu peserta pawai.

Gajah berhiasan megah menarik banyak perhatian di pawai-pawai Buddha Sri Lanka. Keluarga-keluarga beruang memiliki gajah sebagai pertanda kesejahteraan dan kemuliaan, sehingga mereka dibawa keliling Sri Lanka untuk berpartisipasi dalam berbagai kontes, merujuk laporan Associated Press.

Iklan

Sebagian orang percaya perilaku kedua gajah ini disebabkan musth, periode ketika terjadi peningkatan hormon reproduktif di tubuhnya alias sedang birahi. Namun, ahli gajah Jayantha Jayewarden mengatakan kepada AFP bahwa aparat kuil seharusnya tidak mengizinkan gajah berada di situ jika sedang mengalamii musth.

Ada pula yang percaya kedua gajah ini sedang mengalami stres karena perayaan festival. Penari, akrobat, dan musisi berjalan bersebelahan dengan gajah-gajah ini, yang dapat membuat mamalia besar itu stres. Yayasan Save Elephant telah mengkritik festival-festival macam ini karena perlakuan manusianya sangat buruk terhadap kesehatan fisik dan mental gajah.

Setelah seekor gajah kurus kering jatuh pingsan di sebuah festival serupa Agustus tahun ini dari pantauan Save Elephant.

"[Setiap hari], dalam kondisi lelah setelah berjalan pada malam hari, mereka diikat ke tiang dan diganggu turis. Gajahnya jarang tidur… Kostum mereka butuh waktu sangat lama untuk dipasang. Dengan lingkungan panas dan berisik, hidup mereka bukan milik mereka sendiri,” begitu keterangan Save Elephant dalam sebuah postingan Facebook.

Postingan tersebut juga menjelaskan bahwa saat gajah diajak jalan-jalan pada malam hari, kaki mereka dirantai dan ditusuk dengan tambak oleh pawangnya. Lebih parah lagi, asap dan lampu yang kedap-kedip membuat mata gajah iritasi.

"Kami berharap pemerintah Sri Lanka segera mempertimbangkan perlindungan dan perlakuan baik untuk gajah negara ini. Penderitaan mereka harus diakui dan ditangani secara adil. Mereka layak dihormati."

Follow Edoardo di Twitter dan Instagram .

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.