kesehatan

Benarkah Menstruasi Tak Akan Keluar Jika Kita Sedang di Air?

Gravitasi ternyata sobat terbaik bagi perempuan mens yang ingin bersenang-senang di pantai atau kolam renang. Jadi, jangan ragu renang pas lagi dapet ya.
21.7.17
Foto ilustrasi oleh Jeremy Bishop / Natalie Jeffcott / Stocksy

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Tonic—situs kesehatan bagian dari VICE.com—sekarang punya rubrik khusus untuk menjawab semua pertanyaan kalian seputar kesehatan yang paling tolol sekalipun.

Begini Skenarionya: Kita lagi liburan ke pantai rame-rame. Pas temanmu ke kamar mandi mau pasang bikini, baru ngeh ternyata dia lagi dapet. Temanmu ini mikir, persetanlah—plus, dia pernah baca katanya darah mens berhenti mengucur di dalam air. Sejujurnya nih, "teman saya" ini seringkali mengambil keputusan yang enggak tepat. Kalau dia nekat renang akankah ada jejak darah di air yang melimpah seperti film Jaws? Faktanya: Temanmu itu boleh sedikit lega. Soal darah yang berhenti ngucur dalam air, memang ada benarnya. Kesannya mens mendadak berhenti secara misterius. Sebetulnya ini persoalan fisika sederhana. Begini penjelasan kenapa darah haid seakan berhenti mengucur di air: lapisan dinding rahimnya terus runtuh—ketika temanmu itu nyebur ke air, tekanan air menetralkan gravitasi darah yang keluar lewat vagina. "Jadi, bukan berarti kamu berhenti mengeluarkan darah," kata Jessica Shepherd, profesor obstetriks klinik dan ginekolog di University of Illinois di Chicago ketika saya wawancarai. "Hanya saja, ada tekanan yang menghentikan aliran darah." Trik yang sama dapat diterapkan ketika kita berendam di bak. Tentu saja, kekhawatiran bocor dalam air masih berlandasan. Menstruasi terdiri dari darah dan lapisan rahim mengucur selama tiga hingga tujuh hari. Perempuan biasanya kehilangan rata-rata 30-40 ml darah dalam setiap siklusnya. Jadi siapa yang bisa menjamin darah enggak akan ngucur sama sekali? Skenario Terburuk: Hanya karena gravitasi membantu temanmu itu, bukan berarti dia benar-benar terbebas dari risiko darah mengalir saat renang. Salah gerak sedikit bisa menimbulkan risiko: Kalau dia tertawa, batuk, atau bersin—darah dalam jumlah sedikit akan keluar, apalagi bila temanmu ini termasuk seperempat populasi perempuan yang mengeluarkan darah sebanyak 60 ml atau lebih setiap siklusnya. Namun, sebagaimana disebutkan Shepherd, kekhawatirannya bukan soal apa yang terjadi di air, melainkan apa yang terjadi ketika dia keluar kolam atau pantai. "Saya akan lebih khawatir soal penampilan mereka setelah keluar dari air, karena kamu enggak punya kontraksi lagi dengan gravitasi," ujarnya. Apa Yang Kemungkinan Terjadi: Tenang aja, temanmu itu enggak akan kenapa-napa. Shepherd bilang rasio air semestinya mencairkan darah apapun jadi enggak akan terlalu kelihatan, terutama kalau dia lagi dapet di hari-hari pertama, di mana darah yang diproduksi biasanya tidak terlau banyak. "Kalau seseorang tidak mehorrhaging (pendarahan hebat dengan gumpalan darah), kecil kemungkinannya darah itu sampai membekas di cawat atau celana," ujarnya. Yang lebih penting, temanmu tidak akan membahayakan kesehatan siapapun—kolam renang hampir pasti mengandung cairan tubuh seperti urin dan keringat yang (untungnya) bisa ditekan jumlahnya berkat kaporit. "Ada banyak salah paham soal apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan seorang perempuan saat mens. Karena pandangan keliru ini, seseorang merasa sebaiknya tidak berenang sama sekali," ujar Shepherd. Padahal, faktanya bertolak belakang: "Kami sebetulnya ingin perempuan untuk [berenang] saat mens untuk meringankan kram perut." Menstruasi yang meyakitkan diakibatkan kontraksi pada rahim, biasanya membuat orang-orang enggan menjalani aktivitas seperti biasa. Padahal, berenang malah bisa membantu mengurangi rasa sakit di bagian bawah perut untuk perempuan yang sedang haid. Rasa sakit saat mens ini jangan disepelekan. Beberapa pasien menyandingkan sakit saat mens dengan pengalaman serangan jantung. Shepherd bilang aktivitas aerobik berkelanjutan seperti berenang dapat membantu meringankan perih seperti itu.

Apa yang sebaiknya dilakukan temanmu: Jangan terlalu ambil pusing. Jangan sampai sebercak darah di kolam renang atau pantai mencegah perempuan bersenang-senang. Solusi paling sederhana adalah menggunakan tampon atau cawan menstruasi. Tampon, berbeda dari pembalut biasa, dapat mengatasi kekhawatiran setiap perempuan. Pembalut dan pantyliner bukan solusi tepat, dan bakal sangat tidak efektif ketika perempuan yang sedang haid nyemplung ke air. Kalau temanmu kekeuh pengin renang tanpa tampon ataupun cawan menstruasi (tidak disarankan karena alasan yang sudah jelas banget)—dia sebaiknya mencoba melapisi bikini dengan celana pendek yang bisa melindunginya juga saat keluar dari air.