Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.Sering sekali keterangan waktu sebuah film diperkenalkan lewat kata-kata "di masa depan yang tidak jauh lagi," terutama ketika masa depan itu masih jatuh dalam era kehidupan yang sama. Ketika tanggal prediksi masa depan film tiba di dunia nyata, kita mau tidak mau kadang terobsesi mencari tahu prediksi mana yang benar dan salah buatan sutradara.Tapi mungkin cara yang lebih menyenangkan untuk kembali meninjau sebuah film sains-fiksi "masa depan" ini adalah dengan membandingkannya dengan film lain yang justru dirilis di tahun yang dimaksud. Lagian film terbaik dari genre ini bukan soal akurasi, tapi alegori, jadi kenapa tidak mengukur film berdasarkan kemampuan meramal masa depan mereka dibandingkan dengan film yang sesungguhnya dirilis di tahun yang dimaksud?
Iklan
Kami menyebut praktek kurang kerjaan ini DOUBLE FUTURE. Sebagai proyek pertama, kami akan menonton sebuah film yang meramal seperti apa tahun 1997 (tentunya film dirilis sebelum itu) dengan film yang sebetulnya dirilis di tahun 1997.Escape from New York (1981)Mengambil setting distopia 1997, film laga klasik buatan John Carpenter, Escape From New York menceritakan kisah pahlawan perang yang menjadi seorang kriminal, Snake "Don't Call Me Plissken" Plissken (puncak karir Kurt Russell) selagi dia dikirim ke Manhattan, tempat penjara berkeamanan maksimum tanpa hukum, untuk menyelamatkan seorang Presiden yang diculik. Carpenter pertama kali menulis naskah 'Escape' pada 1976, setelah terjadi skandal Watergate, yang mendatangkan, "perasaan seperti penduduk satu negara sinis soal presiden." Ternyata, tema alegorikal Escape masih relevan hingga sekarang.Teknologi yang digunakan, memang kebanyakan retro, mungkin hanya dengan beberapa alat tracking yang canggih, jam countdown digital, dan beberapa tembok biasa dengan lampu menyala-nyala yang random. Memang film berbudget rendah Carpenter tidak bisa banyak memproyeksikan kemajuan teknologi, tapi Escape merupakan film kelas-B yang lebih tertarik dengan tema ketegangan di masa depan, dan bukan teknologinya itu sendiri. Dan dalam aspek ini—lengkap dengan kota bertembok, seorang pahlawan perang yang mengkhianati negaranya sendiri, dan adanya presiden sombong yang menyeringai—visi masa depan Escape tidak terlalu jauh dari realitas AS saat ini.
Iklan
Proses pembuataan versi remake film ini sudah berjalan selama beberapa tahun, dan tidak heran apabila banyak penggemar versi orisinilnya—termasuk Russell—tidak antusias mendengar kabar ini. Namun setelah menonton ulang film ini, rasanya Escape mungkin salah satu film 80an yang memang harus dibuat versi remakenya. Namun sampai ini terjadi, nikmati visi Carpenter akan masa depan. Dan daripada nonton sekuel film ini yang seru tapi nyampah Escape From L.A, mendingan kita lanjut nonton film cult klasik lainnya tentang seorang mantan angkatan laut yang enggan menyelamatkan dunia…The Fifth Element (1997)Ketika tahun 1997 benar-benar menjelang, dunia tidak berada dalam sebuah utopia. Teknologi internet baru mulai marak dan sebuah domba kloning bernama Dolly mendominasi headline suratkabar, namun dunia belum menjadi negara militer seperti visi Carpenter di film. Di Hollywood, stabilitas kultur relatif ini diwujudkan dalam film-film yang terobsesi dengan alien. Men in Black, Starship Troopers dan Alien: Resurrection semuanya dirilis 97. Kecuali Contact, semua film tersebut menampilkan sisi komedik pertemuan manusia dengan makhluk asing luar angkasa.Namun salah satu film alien paling gila di saat itu adalah The Fifth Element karya Luc Besson, sebuah film yang menceritakan Bruce Willis sebagai supir taksi New York di tahun 2263 yang terjebak dalam sebuah petualangan intergalaktik ketika alien berambut merah Milla Jovovich tiba-tiba jatuh ke dalam taksinya.The Fifth Element memang film sinting, yang mungkin bisa dijelaskan oleh fakta bahwa Besson mulai menulis karyanya ini semenjak remaja. Dia nantinya menjelaskan bila filmnya ini "bukan film bertema besar" selain menampilkan pesan 'kasih menaklukan segalanya', yang kalau dipikir lagi, di tahun 1997 merupakan fondasi yang cocok untuk sebuah film sains-fiksi. Film semacam ini akan lebih sulit dijual sekarang, tapi mungkin saja film petualangan luar angkasa Besson berikutnya, Valerian and the City of a Thousand Planets, yang akan muncul Juli ini, akan menjadi film throwback sains-fiksi utopian 90an yang kita butuhkan.Bonus Film Lain Membahas Masa DepanLuc Besson akhir-akhir ini baru dituntut oleh John Carpenter karena dituduh menjiplak Escape from New York di film Lockout (dirilis tahun 2012). Besson kalah dalam kasus ini, dan tidak sesungguhnya tidak ada yang heran. Lockout adalah film rip-off bego tanpa rasa malu—dan sesungguhnya saya rekomendasikan untuk saya tonton apabila Double Future masih belum cukup untuk anda.