Gay Pride

Komunitas Punk Queer London Menyuarakan Aspirasi di Jalanan

Up the LGBT punx!
5.7.17
Aksi Punk LGBT di London pada 2016. Foto oleh Colin Clarke.

Tidak banyak peririsan antara komunitas punk dengan kultur LGBTQ mainstream. Ini sebetulnya aneh, karena sebetulnya banyak anak-anak dan band punk queer. Banyak sosok yang sekarang dipandang sebagai ikon gay revolusioner—Leigh Bowery, Boy George, Divine—justru muncul dari komunitas punk, atau paling tidak masih mengapplikasikan semangat punk dalam hidup mereka.

Ketika sutradara film London, Tali Clarke sadar bahwa komunitas punk belum mendapat porsi yang sesuai dalam dunia LGBTQ, dia memprakarsai Pride Punx, semacam parade komunitas gay London yang dibarengi dengan band-band punk manggung di jalanan. Ide ini pertama kali diwujudkan di parade tahun lalu, dan saking suksesnya Tali diminta untuk kembali mengadakan even ini di tahun 2017, yang terjadi di pusat kota London Sabtu ini.

Iklan

Berikut cuplikan obrolan saya bersama Tali.

Filmmaker Kim Ford mendokumentasikan aksi punk queer di London pada 2016

VICE: Halo Tali. Ide dari Pride Punx muncul dari mana?
Tali Clarke: Saya mengunjungi parade Berlin Pride dan sangat kagum dengan semangat yang ditunjukkan, tapi saya menyadari ada satu elemen yang kurang: musik dengan makna yang dalam dan pribadi, dan tidak hanya sekedar musik senang-senang. Saya sempat ngobrol dengan teman-teman dari komunitas queer punk di London—terutama rekan band saya Lawrence, yang perlahan-lahan mulai lebih terbuka tentang identitasnya dalam dunia queer dalam beberapa tahun ini. Dia mengatakan bahwa dunia queer terasa terpisah dari sisi kehidupannya yang lain. Iya, memang ada gerakan queercore, yang penting, kuat dan memiliki suara lantang, tapi tetap saja terasa terpisah dari dunia hardcore dan punk. Menurut saya punk itu memang queer secara dasarnya, lebih menerima. Saya ingin menunjukkan dan mempromosikan hal ini, dan menjadi bagian dari perayaan queer terbesar di negara ini dan banyak negara lain—Pride Parade. Saya bangga telah lama menjadi bagian dari kancah musik punk DIY yang sangat spesial dan terbuka, dan saya rasa cocok dengan Pride Parade ini.

Perlu bayar gak sih untuk menjadi bagian dari parade?
Pihak panitia Pride memberi saya waktu sebulan untuk mengumpulkan Rp34 juta agar bisa menjadi bagian dari parade. Saya menggunakan setengah dari tabungan pribadi, dan berharap sisanya bisa saya lunasi sebelum atau sesudah parade. Hebatnya, saya berhasil mendapatkan dana yang dibutuhkan lewat GoFundMe, dan dibantu oleh teman saya Andy Howells yang mengadakan gig penggalangan dana di T Chances di Tottenham. Saya ingin ini menjadi event yang mempromosikan perasaan kasih sayang, karena komunitas punk itu penuh kasih sayang. Mungkin mereka sering terlihat marah, tapi semuanya datang dari kasih sayang. Semenjak tahun lalu, saya mengadakan gig Pride Punx di London, dan banyak orang lain juga mengadakan acara penggalangan dana lainnya atas nama kami.

Iklan

Wah mantab. Seperti apa sambutannya tahun lalu?
Seru banget! Banyak orang-orang di parade terlihat bingung tapi tetap bersemangat. Banyak yang head-banging, ada yang moshing… bahkan ada beberapa orang dari kontingen eBay ikut bergabung. Melihat lautan 10.000 orang bersorak sorai, berteriak dan mengambil foto kami rasanya luar biasa. Semua orang bersenang-senang dan gerombolan kami sangat keras suaranya. Tidak peduli apakah orang-orang menyukai musiknya atau tidak, saya rasa mereka menikmati energi yang ditampilkan, karena kami berbeda dengan penampil lainnya.

Foto oleh: Tashina Alam

Kamu sempat menyebutkan eBay. Acara Pride Parade ini sempat dikritik karena dianggap sudah terlalu korporat. Memangnya ini tidak bertabrakan dengan etos punk?
Saya sempat ngobrol dengan salah satu organizer, dan dia menjelaskan bahwa acara ini tidak sekorporat yang orang kira. Event ini dijalankan oleh sukarelawan, dan semua profit kembali kepada mereka. Anda benar—bahwa sekarang lebih banyak korporat besar hadir, dan rasanya gak enak, karena sejauh mata memandang yang terlihat nama-nama dan logo brand besar. Pride itu muncul dari latar belakang radikal dan kami berusaha mengklaim kembali event ini sebagai acara rakyat. Mungkin punk terkesan antagonistik dan tidak mau berkompromi, tapi kami hanya ingin hadir dalam acara dan menyuarakan suara kami dalam parade. Tentunya bakal seru kalau komunitas-komunitas kecil lainnya ikut memiliki panggung sendiri—karena mereka biasanya hanya ikut berjalan di parade—tapi kalau mau menggalang dana bisa kok. Semoga panggung kami menyuarakan pesan bahwa semua orang bisa ikutan.

Menurutmu kenapa komunitas musik punk dan alternatif belum pernah ikutan Pride sebelumnya? Bukannya dulu banyak bar-bar rock gay?
Kancah punk awal sangat erat hubungannya dengan kultur queer. Banyak anak punk dulu sering ke klub gay agar mereka bisa mengenakan pakaian apapun yang mereka mau, lengkap dengan peralatan bondage. Sekarang, banyak punk yang menolak ide Pride Parade. Banyak dari mereka menganggap parade ini terlalu korporat, dan tidak sesuai dengan nilai-nilai mereka. Jadi komunitas punk mungkin menolak komunitas queer, bukan karena mereka queer, tapi karena faktor komersialisasi yang telah terjadi. Komunitas LGBTQ terus mencoba untuk menjadi lebih komersil dan diterima dalam kultur mainstream sehari-hari sementara punk lebih senang tidak ambil bagian dan menjadi outsider. Jadi mungkin inilah sebabnya ada semacam perpisahan di antara mereka.

Foto oleh: Colin Clarke

Masuk akal sih. Terus apa agenda Pride Punx berikutnya? Bakal ada penampilan apa di panggung parade tahun ini?
Kami akan merilis sebuah kompilasi—"Queer as Fuck Vol.1"—berisikan semua band yang manggung tahun lalu dan mereka-mereka yang main di acara penggalangan dana dan selalu suportif. Separuh dari band-band ini memiliki anggota queer dan sisanya tidak. Tahun depan, saya ingin mengadakan tur Pride Punx. Pride biasanya diadakan selama sebulan, mulai dari 24 Juni hingga akhir Juli. Saya ingin mengajak band-band bermain di berbagai kota di Eropa yang mengadakan acara-acara Pride, dan menyelenggarakan pesta Pride Punx. Ya kayak jadi manajer tur lah.

Saya selalu ingin bekerja bareng lembaga amal untuk gelandangan LGBTQ karena banyak gelandangan yang mengindetifikasi diri sebagai queer, mereka diusir dari rumah karena dianggap "tidak normal" dan tidak mempunyai tempat di tempat-tempat penampungan gelandang. Maka dari itulah saya mulai bekerja bareng The Outside Project, proyek amal akar rumput. Mereka mencoba membeli bekas bis tur untuk band yang memiliki 12 ranjang susun agar bisa menampung 12 gelandangan. Bis tersebut juga memiliki dapur dan meja makan, dan akan dijadikan semacam tempat penampungan yang bisa bergerak. Saya sangat menyukai pendekatan mereka dan afterparty Pride Punx tahun ini, diadakan di T Chances di Tottenham akan menjadi ajang penggalangan dana untuk proyek tersebut.

Saya ingin lebih sering bekerja sama dengan lembaga amal agar saya bisa berkontribusi terhadap komunitas LGBT dengan cara kami sendiri, karena komunitas punk itu jagoan dalam hal menggalang dana. Ini bagian dari kultur kami. Di parade tahun ini, kami memberikan gelang bagi mereka-mereka yang ingin ikut dalam mosh pit Pride Punx. Banyak band keren ikut manggung, termasuk The Restarts yang sangat terkenal dalam komunitas.

Keren – semoga beruntung deh!

Follow penulis artikel ini lewat akun @Jak_TH