Pekan Fiksi VICE

Tentang Kehidupan Manusia dan Anjing di Mars - Cerpen 'Profesor T' dari Rizaldy Yusuf

Apakah 20 tahun dari sekarang manusia, terlebih manusia Indonesia, bakal punya kesempatan hijrah ke Mars?
ilustrasi oleh Dini Lestari

Cerpen ini tayang sebagai bagian dari 'Pekan Fiksi VICE: Indonesia 2038'. Redaksi meminta penulis-penulis muda potensial negara ini menjelajahi kemungkinan situasi Indonesia pada 2038. Naskah yang kami terima rata-rata bercorak fiksi ilmiah, menyajikan gaya tutur segar, serta sudut pandang menarik saat mengulas topik seperti teknologi, lingkungan, agama, hingga nasib bahasa di masa mendatang.

Selamat membaca!

Iklan

Suatu Hari Ketika Lagi-lagi Profesor T Lupa Memberi Makan Anjingnya

Tiba-tiba Profesor T ingat ia belum memberi makan anjingnya. Ini sering terjadi di saat-saat seperti sekarang. Mereka meneleponnya pukul lima pagi dan memintanya datang satu jam kemudian. Selain memberi makan anjing, Profesor T juga lupa memberi makan dirinya sendiri. Tapi itu bukan masalah. Ia lebih khawatir anjingnya bangun tidur mendapati rumah dalam keadaan kosong dan tak ada makanan di atas piringnya dan meringkuk dengan muka yang murung. Anjing di kepala Profesor T melompat ke permukaan Mars yang membentang di hadapannya; hamparan tanah kosong dan daerah berbatu yang di atasnya berdiri rumah-rumah kaca. Ia duduk dengan kepala menempel ke tanah dan kaki tertekuk. Profesor T mendengar ia merengek lembut. Ada yang mencakar-cakar dada Profesor T dari dalam. “Anda lihat, kan? Mereka jelas sangat dibutuhkan,” ujar lelaki besar berseragam militer yang bicara di depan. “Kita sudah punya air cadangan yang membeku dan nitrat yang membuat tanah subur. Yang kurang hanya orang-orang seperti mereka.” Suaranya berat, tertelan keremangan ruangan yang dikurung dinding-dinding logam, bagaikan bom di bawah laut. Profesor T berkali-kali ikut membantu peledakan bom di bawah laut, pembakaran hutan, atau penembakan warga yang tinggal dekat tambang. Ia memajang peta dunia yang menutup separuh dinding salah satu sisi kamarnya dan memberi tanda silang untuk setiap wilayah yang pernah ia garap. Untuk garapan yang agak keras, Profesor T menggunakan spidol merah. Tipe yang ini selalu disusul tugas tambahan membuat perbandingan jumlah yang mati dari pihak mereka dan pihak musuh. Tapi tugas ini di luar bagian Profesor T; ia ahli geografi, bukan akuntan. “Mereka mengajukan permohonan kemarin,” kata si lelaki besar lagi, “Bisa dimengerti. Hampir lima ratus juta penduduk dan ruang gerak makin sempit. Mereka hidup seperti simpul, saling mengikatkan diri. Bahkan kita tidak bisa memungut kerikil dari sela-sela kaki mereka.” “Saya ragu masih ada petani di sana. Terakhir saya cuma menemukan gerombolan pengumpat.”
“Beri waktu beberapa bulan. Tidak susah mengembalikannya. Tangan mereka diciptakan untuk itu.”

Waktu SMA, Profesor T dan dua temannya, Dana dan Sapta, punya hobi yang berhubungan dengan anjing liar. Sepulang sekolah, mereka gemar bermobil mencari anjing. Tidak susah. Ada banyak anjing linglung di pinggir jalan sepi yang memisahkan penjara wanita dan penjara anak-anak, tidak jauh dari sekolah mereka. Mereka memilih yang badannya paling bugar. Otot-otot liat di keempat kaki yang besar menantang mereka. Mereka ingin bermain. Sapta atau Dana, salah satu dari mereka, tak pernah Profesor T, maju membawa kayu yang tidak pernah keluar dari mobil Dana. Dari belakang, ia menggetok kepala anjing dengan kayu tersebut. Pukulan pembuka ini tidak keras. Si anjing masih sadar. Ketika anjing itu bersiap bangun, si algojo melayangkan pukulan kedua, ke arah kaki belakang. Kemudian, mereka mundur beberapa langkah, mengurung anjing itu dalam lingkaran, memberinya kesempatan berjalan satu dua langkah dengan kaki belakang patah. Mereka suka melihat anjing yang pincang, apalagi bertumpu pada kaki depan. “Mirip motor direm mendadak,” kata Sapta atau Dana suatu kali, sebelum melayangkan pukulan kedua di bagian perut. Sesudahnya, serangan-serangan yang jenisnya improvisasi menyusul. Profesor T muda mulai ambil bagian. Kadang, ia meminjam kayu untuk memukul punggung anjing; kadang, melepaskan satu tendangan keras di bagian bokong. Di aksi yang lain, ia mencucuh api dari pemantik ke ujung ekor, menyabet kaki tumpuan dengan ikat pinggang, menimpuki batu ke perut. Pernah juga ia menuangkan air dari botol 600ml ke dalam dubur si anjing menggunakan sedotan yang agak besar. Kedua kawan Profesor T menutup kepala si anjing dengan karung temuan dan memegangi kakinya. Si anjing berontak, karung penutup kepalanya bergesekan dengan aspal. Profesor T memukul kepala anjing itu dengan kayu sekali lagi. Kali ini agak kuat. Selanjutnya si anjing hanya bisa berontak menggunakan ekor dan tentu saja sia-sia. Ia bukan buaya yang ekornya bisa menyobek daging. Profesor T yang sudah ambil posisi menusukkan sedotan ke lubang si anjing. Anjing itu menjerit perih, makin lama makin parau. Tandas dua botol, Profesor T dan kawan-kawannya pergi dengan tawa meledak-ledak. Si anjing tergolek tanpa bisa melihat apa yang terjadi di saluran pembuangannya.

“Kita sediakan wilayah untuk mereka. Mereka bisa membawa bagian mereka ke sana setelah memenuhi jumlah yang dibutuhkan di wilayah kita,” ucap si lelaki besar, melingkari satu area di bagian bawah kiri layar. Profesor T tak merespons. Matanya lekat pada area yang dilingkari laser merah di layar. Anjing-anjing lain datang berkumpul bersama anjing dari kepalanya di sana. Lelaki besar hafal betul gelagat Profesor T yang satu ini. Sejak tadi ia sudah kepengin menyerempet, namun menahan diri agar inti pesan yang mau ia sampaikan tidak terhalang lajunya. Begitu tiba di ujung, ia segera meringkus dengan cara seperti biasa. “Saya yakin Anda pasti mencari cara dan pasti berhasil. Anda selalu bisa kami andalkan. Kami percaya Anda, tidak seperti mereka.” Sendirian di ruangan, Profesor T memandangi anjing-anjing keluar dari lingkaran merah satu per satu. Dulu ia juga pernah melepas seekor anjing, satu bulan setelah namanya muncul sebagai samsak di hampir semua berita. Empat belas hari sebelumnya, Profesor T mendapat pesan di Facebook dari Sapta dan Dana. Meski tidak dikirim berbarengan, isinya satu nada: minor. Profesor T mengurung dirinya. Berat badannya melorot dan bagian putih di bola matanya menguning. Ia sudah siap mati. Ia akan membawa dendam ke alam baka, tempat ia akan mencintai setiap ekor anjing yang ada dengan seluruh kemampuan mencintai yang tak pernah ia pakai selagi hidup. Tapi lantas ia menemukan kelokan tajam: kalau mau puas, dendamnya harus ia tuntaskan selagi hidup. Maka, ia menyusun rencana-rencana dan mencicilnya pelan-pelan. Salah satunya, memelihara seekor anjing buruk rupa dan merawatnya dengan baik. Dua hari pertama, perkara mengurus anjing tersebut mulus belaka. Setiap bangun pagi, Profesor T berjongkok di depan kandang dan anjing itu menggonggong ke arahnya dan ia merasa memiliki obrolan pembuka hari paling menyenangkan yang bakal membuat sisa harinya hangat. Di hari kelima, gonggongan itu membikin kepalanya terasa seperti dipukul kayu. Di awal minggu kedua, keberadaan binatang di rumahnya membuatnya tidak betah untuk melakukan apa pun. Profesor T merasa dirinya yang berada di dalam kandang dan anjing itu mengawasinya dari luar. Di akhir minggu kedua, kesabarannya habis. Ia menyerahkan anjing itu ke penangkaran. Ia sempat mengelus kepala hewan peliharaan singkatnya sebelum berpisah. Sebetulnya, selain urusan memelihara anjing, rencana Profesor T banyak yang lunas. Ia bertemu dengan lelaki besar itu delapan tahun lalu di tempat kerjanya, sebuah lembaga penelitian yang berfokus pada kondisi alam di kawasan Asia dan Afrika. Lelaki besar itu menghampiri Profesor T yang hendak pergi makan siang. Ia menyerahkan satu burger keju dan satu gelas soda ke tangan Profesor T. Mereka lantas duduk berdua di bangku taman belakang yang sepi. Matahari musim panas di atas kepala mereka.
“Kami punya Jimmy Kecil yang hebat. Kau harus tahu, apa yang dia katakan ke CNN waktu masih kutugaskan menyikat sepatuku. Penjinak bom! Astaga, dia bahkan belum pernah dikirim ke lapangan,” kata lelaki besar sambil tertawa di tengah kunyahan. “Sekarang, kalau bukan berkat dia, setengah negara ini pasti sudah rata dengan tanah.” Profesor T tersenyum. Mungil saja, tapi tersenyum. Ia mengerti cerita itu pancingan, tapi belum melihat ke mana arahnya. Dan ia tak perlu menunggu lama. Tanpa banyak pengantar lagi, lelaki itu meminta Profesor T bekerja dengannya. Profesor T merasa telanjang, tapi badannya jadi lebih ringan.
“Kalian, anak-anak muda yang panas, tak pernah sabar. Yang kalian sampaikan bukan kebohongan, tapi harapan. Kami mendorong untuk mewujudkannya, sedangkan orang-orang di tempat Anda dulu melempari Anda dengan tahi,” tukas lelaki itu. Lelaki besar tersebut menepati omongannya. Profesor T tahu itu. Ia juga tahu dirinya pasti berhasil menyelesaikan tugas barunya. Tidak perlu diragukan. Hanya saja, kenyataan bahwa lagi-lagi ia mesti membayangkan dirinya memelihara seekor anjing yang lupa ia beri makan menyisakan nyeri di perut. Tapi itu bukan masalah, Profesor T tahu penyebabnya: ia belum makan sejak pagi.


*Rizaldy Yusuf adalah penulis asal Jakarta, kuliah di Universitas Bakrie. Dia menekuni jurnalisme musik, sebelum beralih ke fiksi. Kumpulan cerpennya Mengirim Mixtape ke Lubang Tikus terbit pada 2017.