Palestina

Warga Palestina Bersatu Menolak Kebijakan Trump Soal Yerusalem

Partai maupun faksi sipil di Tepi Barat maupun Jalur Gaza jarang sekali akur. Setelah AS menyatakan Yerusalem Ibu Kota Israel, mereka akhirnya bersatu. Intifada di ambang pintu. Simak dokumenter VICE soal perkembangan di Yerusalem berikut.
18.12.17

Video dokumenter ini pertama kali tayang di VICE News.

Setelah sekian lama tak terlalu akur, seluruh penduduk Palestina di berbagai wilayah kembali bersatu. Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel memicu kemarahan kawasan. Sampai pekan lalu, unjuk rasa rutin digelar di Tepi Barat maupun Jalur Gaza. Partai-partai yang bersengketa, baik itu Fatah maupun Hamas, kini menepikan perbedaan. Mereka semua memiliki musuh bersama: Amerika Serikat.

Pejabat Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, mengapresiasi keputusan Trump. Mereka mengklaim sikap Trump bakal mempercepat proses perdamaian antara Israel-Palestina. Namun penolakan kencang disuarakan pejabat Otoritas Palestina. AS, di mata orang Palestina, tak bisa lagi menjadi mediator negosiasi damai kedua negara, karena kebijakannya terbukti condong pada Negeri Bintang Daud yang menjajah wilayah mereka selama setengah abad lebih. Para pengamat politik luar negeri turut menyatakan AS sudah tak bisa lagi berperan mendamaikan kawasan konflik terpasnas Timur Tengah tersebut.

Dalam momentum akibat kebijakan Trump, rakyat Palestina akhirnya memiliki prioritas baru. Mereka siap bersatu kembali, momen yang mengingatkan publik internasional seperti saat intifada (perang semesta) terhadap militer Israel terjadi September 2000 terjadi. Saat ini, akibat unjuk rasa, beberapa warga Palestina telah tewas. VICE News mendatangi Yerusalem, merekam bentrok antara penduduk sipil Palestina dengan tentara Israel dua pekan lalu.

Simak hasil liputan rekan kami dari VICE News di tautan berikut ini: