Budaya Patriarki

App Kontroversial Arab Saudi Bisa Dipakai Lelaki Memantau Istri dan PRT di Luar Rumah

LSM internasional mengecamnya. Kecaman juga mengarah pada Apple dan Google yang menyediakan platform untuk aplikasi patriarkis macam itu.
Perempuan di Saudi mengalami pengawasan patriarki.
Sejumlah perempuan berjalan di Jalan Tahlia di ibukota Arab Saudi, Riyadh. Foto oleh Fayez Nureldine/Getty Images

CEO Apple Tim Cook mengatakan Selasa kemarin (2/12) bahwa perusahaannya akan “memeriksa” aplikasi asal Arab Saudi yang mempermudah lelaki setempat mengawasi pergerakan istri dan anak perempuan mereka.

Absher, nama aplikasi itu, diciptakan oleh Pusat Informasi Nasional, salah satu bagian dari Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi dan didistribusikan oleh Apple dan Google. Sejauh ini, aplikasi bermasalah terebut sudah diunduh lebih dari 1 juta kali lewat platform Google.

Iklan

Software tersebut memungkinkan seorang wali laki-lali membuntuti gerak-gerik perempuan yang menjagi tanggung jawabnya sehingga bisa mencegah bepergian ke luar negeri. Dalam deskripsinya, Absher mengklaim bahwa penggunanya “dapat dengan aman melihat profilnya sendiri, anggota keluarga mereka dan pekerja mereka serta menyediakan berbagai macam layanan online.”

Salah satu fitur yang paling kontroversial dari aplikasi ini adalah mengirim peringatan kepada penggunanya bila salah satu perempuan tanggungan mereka berusaha menggunakan passport.

Di Arab saudi, setiap perempuan—terlepas dari usia, later belakang pendidikan atau status pernikahannya—diwajibkan memiliki wali laki-laki dan secara hukum bakal terus bergantung pada lelaki tersebut dalam banyak aspek kehidupan mereka termasuk pekerjaan, bepergian, uang dan pernikahan.

Absher pada dasarnya dirancang sedemikian rupa untuk mempermudah kehidupan lelaki Arab dengan menyederhanakan proses pengawasan terhadap perempuan yang sebelum harus melibatkan sejumlah berkas, menurut Human Rights Watch.

Organisasi advokasi hak asasi manusia internasional ini meminta Google dan Apple agar menghapus aplikasi tersebut setelah Business Insider menurunkan berita tentang keberadaan Absher.

Langkah yang sama juga diambil oleh Senator Ron Wyden (D-Ore.). Senin lalu, Wyeden mendesak kedua raksasa teknologi itu untuk “segera menghapus” aplikasi “menjijikan” tersebut.

Iklan

"Kita semua tahu pemerintahan monarki Arab Saudi memang selalu mencari cara merepresi perempuan Arab. itu bukan berita baru. Tapi, semestinya, dua perusahaan asal Amerika ini tak memfasilitasi kebijakan patriarki pemerintah Arab," tulis Wyden dalam suratnya yang ditujukan kepada Tim Cook dan CEO Google Sundar Pichai.

"Dengan mengizinkan aplikasi itu terpampang di toko online yang dikelola perusahaan anda berdua, perusahaan anda telah mempermudah lelaki Arab mengontrol dan membatasi gerak anggota keluarganya hanya berbekal ponsel pintar mereka," imbuh Senator Wyden. Apple dan Google belum memberikan tanggapan atas surat Wyden.

Akan tetapi, Cook yang diberitahu tentang kontroversi Absher dalam sebuah wawancara dengan NPR Senin lalu, mengatakan bahwa dirinya belum mendengar tentang Absher namun “berjanji akan menyelidiki kasusnya jika memang kabar itu benar.”

Sampai Rabu pagi waktu AS, Absher masih bisa diunduh baik dari Apple App Store maupun Google Play Store.

Sejauh ini, berbagai kelompok advokasi HAM dan aktivis mendukung imbauan Wyden agar aplikasi jahanam itu lekas dihapus dari platform Google dan Apple.

“Absher adalah salah satu contoh bagaimana pemerintah Arab Saudi terus menciptakan perangkat untuk membatasi kebebasan perempuan setempat," kata Dana Ahmed, peneliti asal Arab Saudi yang bekerja untuk Amnesty International, kepada Business Insider.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News