FYI.

This story is over 5 years old.

Budaya

Warga Jepang Panik, Banyak Ikan Oarfish Terdampar di Pantai Pertanda Bakal Tsunami

Kepercayaan bahwa Oarfish adalah tanda segera terjadi gempa di laut, terlanjur mengakar dalam budaya masyarakat Jepang. Kejadian serupa pernah terekam di Filipina.
Ikan Oarfish di Jepang kalau Terdampar di Pantai Dianggap Pertanda Bakal Tsunami
Kiri: foto bangkai ikan Oarfish dari akun Instagram Uozu Aquarium. Kanan: foto ombak via Flickr.

Kalau kamu percaya takhayul dan kebetulan sedang bermukim di Jepang, kamu mungkin memilih bersiap-siap angkat kaki segera. Pasalnya, selama beberapa minggu terakhir, bangkai-bangkai oarfish, ikan laut dalam yang sekilas berbadan mirip ular, terdampar di sejumlah kawasan pantai setempat, kejadian ini lekas menyebabkan penduduk Jepang was-was.

Menurut kepercayaan masyaarakat Jepang, kemunculan oarfish menandakan kedatangan bencana besar. Dalam bahasa Jepang, oarfish dikenal dengan nama ryugu no tsukai yang berarti “pembawa pesan dari istana raja naga."

Iklan

Celakanya, pesan yang dibawa bangkai oarfish tak pernah menyenangkan. Ikan ini kalau sampai banyak yang terdampar ke pantai, dianggap pertanda segera terjadi tsunami.

Banyak yang menyebut terdamparnya oarfish sebagai pertanda awal gempa bumi dahsyat. Pada 2011, para ilmuwan melaporkan 20 bangkai oarfish ditemukan di berbagai pantai Jepang hanya beberapa bulan sebelum gempa bumi melanda kawasan timur laut Jepang. Gempa bumi tersebut memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 22.000 penduduk dan menghancurkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima. Bencana yang sama meluluhlantakan 138.000 bangunan dan menyebabkan kerugian setara Rp500 triliun.

Fenomena ini tak cuma terjadi di Jepang. Pada 2017, hanya sehari sebelum gempa berkekuatan 5,6 skala Richter menghantam kota Luzon, Filipina, dua ekor oarfish—masing-masing memiliki panjang 3,6 meter dan 4,2 meter—terdampar di sebuah pulau yang terletak 1287 kilometer dari episentrum gempa.

Kendati kedua insiden ini nyaris serupa, hingga ini belum ada bukti ilmiah yang bisa mengaitkan kemunculan oarfish dan bencana alam.

"Catatan aktivitas seismik Bumi bisa ditelusuri sampai jauh di sama lampau, tapi belum ada bukti keterkaitan oarfish dan gempa bumi. Jadi, harusnya penduduk Jepang tak usah khawatir dulu," kata Hiroyuki Motomura, dosen ilmu perikanan di Kagoshima University seperti dikutip South China Morning Post.

Motomura boleh saja skeptis. Faktanya para ilmuwan selama bertahun-tahun berusaha melakukan penelitian untuk membuktikan keterkaitan perilaku binatang tertentu dengan aktivitas seismik.

Iklan

Misalnya, Martin Wikelski, seorang ilmuwan Jerman mengamati tindak-tanduk sejumlah binatang di sebuah peternakan di Italia dari 2012 hingg 2014, terutama menjelang gempa. Meski temuannya abelum juga dipublikasikan hingga kini, Wikelski pernah menyebut bahwa datanya menunjukkan hewan-hewan ini memperlihatkan perilaku konsisten beberapa jam jelang gempa Bumi.

Jika riset ini benar-benar membuktikan hubungan tersebut, maka kita di masa depan bisa perilaku hewan sebagai sistem peringatan dini akan datangnya bencana. Dengan demikian, kita bisa menyelamatkan ratusan ribu nyawa bila bencana benar-benar terjadi.

Sejatinya, ketakutan penduduk Jepang terhadap tsunami dan gempa bumi punya dasar yang kuat. Pemerintah Negara Matahari Terbit itu malah sudah jauh-jauh hari memeringatkan warganya bahwa gempa bumi besar akan mengguncang daerah Palung Nankai 30 tahun dari sekarang.

Sayangnya, tak ada cara untuk mempredikan tanggal tepatnya gempa itu akan terjadi. Sejak tsunami dan bencana nuklir pada 3 Maret 2011, Jepang telah memperbarui sistem biologi peringatan dini tsunaminya. Sayang, sistem terbaru ini belum teruji dalam skema gempa bumi berskala tinggi.

Ketidakpastian inilah yang menyebabkan ketakutan masyarakat Jepang makin parah dari hari ke hari, seiring bertambahnya jumlah bangkai oarfish yang terdampar di kawasan pesisir. Meski sejumlah ilmuwan menegaskan terdamparnya ikan-ikan itu bukan sama sekali pertanda buruk, rasanya setelah didera sejumlah bencana dahsyat dalam beberapa dekade terakhir, tak ada yang bisa mencegah penduduk Jepang mempercayai apapun—bahkan takhayul sekalipun—demi mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan terburuk.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Asia