LGBT+

Privasi Komunitas LGBTQ Bisa Terancam Apabila Grindr Masih Dimiliki Perusahaan Tiongkok

Data pribadi pengguna Grindr di seluruh dunia rentan diakses oleh pemerintah Tiongkok.
3.4.19
Privasi Komunitas LGBTQ Bisa Terancam Apabila Grindr Masih Dimiliki Perusahaan Tiongkok
Sumber foto kiri:  Broadly Non-Binary Stock Photos. Kanan: Unsplash

Komunitas LGBTQ di dunia sedang menghadapi ancaman privasi besar, dan pemerintah Amerika mulai ikut campur.

Perusahaan Beijing Kunlun Tech Co Ltd menyelesaikan akuisisi Grindr pada 2018, dan sekarang mereka dipaksa menjual aplikasinya. New York Times melaporkan bahwa pejabat keamanan nasional AS khawatir Beijing akan menggunakan data pengguna untuk mem-blackmail staf dan karyawan kontrak mereka.

Reuters menyebutkan bahwa satu hal yang paling mereka khawatirkan yaitu pemerintah Tiongkok bisa saja mengancam untuk mengekspos orientasi seksual pengguna Grindr, atau bahkan melacak kebiasaan pejabat keamanan melalui aplikasi. Selain itu, bukan tak mungkin penduduk LGBTQ Tiongkok menghadapi pemerasan atau persekusi apabila informasi pribadinya jatuh ke tangan pihak berwenang.

Komite Penanaman Modal Asing Amerika Serikat, yang berurusan dengan kesepakatan perusahaan yang mengancam keamanan nasional, mendesak Beijing Kunlun Tech Co Ltd untuk menjual Grindr. Ini pertama kalinya diplomat Amerika mempertimbangkan aplikasi media sosial.

Tak jelas mengapa AS baru sekarang memutuskan untuk ambil tindakan, tetapi asumsinya mereka melakukan ini karena pemerintahan Trump telah memperluas definisi ancaman terhadap keamanan nasional mereka. Sejauh ini, kami tidak menemukan bukti bahwa data aplikasi telah digunakan secara sewenang-wenang oleh pemerintah Tiongkok. Menurut Reuters, aplikasi ini sedang mencari pembeli baru.

Grindr menyebut platformnya sebagai “aplikasi jejaring sosial terbesar bagi orang gay, bi, transgender dan queer,” dan memiliki jutaan pengguna di seluruh dunia. Aplikasi ini menyimpan informasi pengguna, seperti pesan, lokasi dan status HIV. Pemerintah Tiongkok tentu bisa mengakses data-data itu melalui pembelian.

Perusahaan Beijing tersebut membeli Grindr dalam dua bagian, antara 2016 dan 2018. Pada 2016, mereka menanam saham sebesar 60 persen dengan membayar $93 juta (Rp1,3 triliun). Mereka lalu menyerahkan $152 juta (Rp2,1 triliun) untuk mengakuisisi sisanya dua tahun kemudian.

Follow Edoardo di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.