Situs Bersejarah

Benda Purbakala di Indonesia Tak Akan Pernah Berhenti Dijarah

Penjarah dan maling benda purbakala di Indonesia bebas mencuri dari puluhan situs bersejarah yang tersebar di Indonesia. Di balik itu ada bisnis ratusan juta rupiah.
4.11.17
Suhendra Lie, dari Wikimedia Commons

Para pemburu harta karun dan benda purbakala tampaknya tak cuma ada di film Indiana Jones. Di Kabupaten Sukoharjo, sekira 62 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, belasan, mungkin ratusan pemburu telah mencuri dan menjual benda purbakala dari berbagai situs yang tersebar di kabupaten itu sejak 1960-an.

Salah satu situs yang menjadi sasaran penjarahan adalah areal persawahan seluas tiga hektare di desa Joho. Ketika musim kemarau tiba seperti pada Oktober lalu, para pemburu benda bersejarah yang berasal dari berbagai daerah beramai-ramai menggali tanah. Musim kemarau menjadi pilihan waktu yang tepat bagi para pemburu karena biasanya para petani memilih untuk tidak mengurus sawahnya.

Iklan

Bahkan penduduk yang mengetahui ada keuntungan di balik demam benda purba menyewakan sawah mereka untuk digali para pemburu dengan tarif Rp 1-3 juta per hari. Padahal area persawahan di desa Joho sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah sejak tiga tahun lalu. Pemerintah daerah seperti abai meski beberapa warga yang tak setuju dengan penjarahan tersebut telah membuat laporan.

"Mereka menemukan tulang belulang, perhiasan, patung dan gerabah meski cuma menggali sedalam 30 cm," ujar salah seorang warga Handoyo dikutip Jakarta Post.

Salah seorang pemburu benda purba, Gunadi, mengatakan bahwa kakeknya telah menemukan berbagai macam benda purba dari seantero Sukoharjo sejak 1960-an. Kakeknya, konon, pernah menemukan peti mati kuno dan perhiasan emas.

Mengikuti jejak kakeknya, Gunadi juga sejak satu dekade lalu mengisi waktu luangnya dengan berburu artefak kuno. Bermodal cangkul, Gunadi berkeliling hampir setiap hari di tempat-tempat yang diduga menyimpan peninggalan budaya masa lalu.

"Benda-benda tersebut dijual lagi ke Bali," ujar Gunadi kepada Solopos. "Kebanyakan lantas dijual lagi ke luar negeri, seperti Singapura."

Hingga saat ini belum ada pengawasan dan hukuman guna menghentikan pencurian di sekitaran Sukoharjo. Bahkan penelitian beberapa situs pun belum juga dilakukan. Ada kemungkinan bahwa Kabupaten Sukoharjo adalah salah satu situs budaya Hindu-Buddha di masa prasejarah, terbukti dengan adanya penemuan arca dewa Brahma.

Iklan

Indonesia adalah negara yang buruk dalam soal pengarsipan benda bersejarah. Tak cuma di Sukoharjo, puluhan situs bersejarah di Jawa dibiarkan terbengkalai begitu saja tanpa ada upaya ekskavasi untuk melindunginya.

Juni tahun lalu, sebanyak 55 arca peninggalan Kerajaan Indraprahasta di situs Pejambon, Cirebon diketahui hilang dicuri. Sementara belasan situs purbakala di Lamongan dan Pacitan, Jawa Timur hingga saat ini masih tak tersentuh pemerintah daerah dan rawan dicuri.

"Benda cagar budaya rawan berpindah tangan," ujar pemerhati cagar budaya Supriyo seperti dikutip Detik. "Pemerintah daerah sudah seharusnya memiliki museum dan perlindungan cagar budaya.

Bahkan tak cuma situs bersejarah saja yang rawan dicuri. Lemahnya pengawasan di museum membuat lebih dari 8.000 benda bersejarah rentan dicuri. Pada 2013 empat buah artefak emas peninggalan Kerajaan Mataram Kuno dicuri dari Museum Gajah, Jakarta Pusat, memunculkan spekulasi adanya sindikat mafia purbakala yang berkeliaran selama ini.

Tak cuma soal situs bersejarah di darat. Beberapa wilayah perairan Sumatera dan Jawa menyimpan harta karun dari muatan kapal karam. Dari data Asosiasi Perusahaan Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Muatan Kapal Tenggelam Indonesia (APPP BMKTI) Indonesia memiliki 464 titik lokasi kapal karam di perairan dengan nilai mencapai Rp165 triliun.

Namun sekali lagi, buruknya birokrasi dan lemahnya penegakan hukum menjadikan perairan Indonesia sasaran empuk bagi pemburu harta karun ilegal. Mereka tak cuma menjarah harta karun berupa barang berharga, tapi juga lempengan besi dari bangkai kapal era Perang Dunia II yang karam.

Iklan

Kasus pencurian artefak keramik dari kapal karam di perairan Karang Heluputan, Kepulauan Riau membuat negara rugi sekira Rp4.2 miliar. Hal sama terjadi ketika warga negara Australia Michael Hatcher menggondol muatan berharga kapal VOC di perairan Bangka pada akhir 1980-an yang membuat negara gigit jari karena kehilangan Rp220 miliar.

Pencurian artefak atau benda purbakala memang menjadi ladang bisnis menggiurkan di seluruh dunia. Organisasi teroris ISIS dilaporan menghasilkan $200 juta per tahun dari penjualan 100.000 artefak.

Sulit melacak alur pencurian, distribusi dan jual-beli barang purbakala di pasar gelap. Hingga saat ini belum ada data pasti soal berapa nilai transaksi di pasar gelap. Data dari Archaeological Institute of America menyebutkan bahwa 85 - 90 persen artefak yang ada di pasaran tidak memiliki dokumen resmi. Dari laporan di lapangan dan pengungkapan kasus, pencurian dan penjualan artefak di pasar gelap tak pernah surut.

Karena tak paham konteks kesejarahan benda-benda kuno itu, seringkali artefak diukur dari nilai materialnya saja. Di Sukoharjo, tak ada patokan soal harga. Artefak yang ditemukan biasanya dijual dari Rp500.000 - hingga jutaan rupiah, tergantung temuannya.

Gunadi mengatakan bahwa tidak selamanya berburu artefak melulu soal uang. Ia mengaku berburu karena sudah seperti hobi. "Sangat menyenangkan," katanya.