Foto: Guy Torsher
Forecast adalah serangkaian artikel yang mengeksplor masa depan AI dan otomasi dalam beragam sektor berbeda—mulai dari seni, perancangan kota hingga keuangan—untuk menemukan makna perkembangan terbaru bagi kemanusiaan. Serial ini dibuat oleh Motherboard bekerja sama bareng Audi.
Director X paham betul nilai gerakan spontan tanpa koreografi. Dia adalah sutradara di balik video musik blockbuster “Hotline Bling” (2015), klip yang melahirkan ribuan meme.
Bukan lirik lagu atau musik lagu itu sendiri yang membuahkan Drake kemasyhuran, melainkan gerakan tubuh sang rapper yang bisa dibilang tidak ortodoks. Internet menggila, mengedit video tersebut sehingga seakan-akan Drake sedang main tennis atau menabur pepperoni di atas pizza. Bahkan ada yang membandingkan gerakan Drake dengan joget canggung ala Elaine Benes dari Seinfeld.
Mungkin salah satu alasan utama video ini menjadi fenomena adalah gerakan Drake melawan tren koreografi penuh presisi yang ngetren saat ini. Faktanya, video tersebut tidak memiliki koreografi sama sekali, dan, menurut sebuah wawancara dengan salah satu produser, Drake tahu tariannya itu akan menjadi sensasi internet. Pada November 2017, video ini telah mencapai 1.3 miliar views di YouTube.
Director X (alias Julien Christian Lutz), yang lahir di Kanada, menyampaikan pada majalah Rolling Stone pada 2015, “Elo enggak bisa ngekoreo itu. Itu cuma seorang cowok joget.” Ada sejenis spontanitas di mana Drake langsung saja joget. Percikan kreativitas yang, menurut perkataan Director X pada Motherboard, merupakan kunci dalam proses kreatif.“Itulah yang membuat kreativitas kita, milik kita semata,” ujarnya. Dan hal itulah yang membebani pikirannya seiring banyaknya seniman dan penari memasuki dunia artificial intelligence.
Koreografer Inggris Wayne McGregor sedang mengupayakan jarak antara penari manusia dan AI. Awal tahun ini McGregor mengumumkan pertunjukkan terbarunya, +/- Human, di mana bola-bola yang dikontrol AI menari di atas panggung, menciptakan apa yang disebut Jonathan Jones sebagai, “pengejawantahan artificial intelligence paling meyakinkan yang pernah saya saksikan.”
McGregor, pada 2004, mulai mengerjakan program yang disebut Choreographic Language Agent (CLA).
Sebagaimana banyak penasehat finansial dan pedangang menggunakan AI untuk membantu proses pengambilan keputusan dalam hal menganalisis pasar saham, McGregor mengembangkan CLA untuk membantu menciptakan “solusi unik bagi permasalahan koreografi, untuk menambah proses pengambilan keputusan kreatif sang pencipta tarian.” Para penari menginput kalimat-kalimat berisi bahasa tari khusus pada AI dan komputer akan menginterpretasi gerakan-gerakan tersebut dan menerjemahkannya menjadi gerakan, dengan menginkorporasi tubuh sang penari, studio tari, dan kinesfer (area sekitar sang penari dengan meregangkan anggota badannya sembari berdiri dengan satu kaki). Proses ini teridiri dari dua sistem screening. Pertama, teks berisi instruksi penari. Kedua, manifestasi tiga dimensi dari teks menjadi gerakan. Sekalinya CLA memahami “bahasa” yang digunakan para penari untuk menginput gerakan, dia bisa menginterpretasi bahasa tersebut sebagai animasi singkat, dan menggunakan algoritma AI, hal ini mengenerasi beberapa pilihan untuk gerakan-gerakan ini. Dalam sebuah video yang diunggah pada 2014, McGregor mendeskripsikan CLA sebagai “aspirasi untuk memiliki penari ke-11 dalam studio, yang memiliki agensi, otonomi, kecerdasan dan pemikiran koreografi pada landasannya.” Meski demikian, ada kekurangan dalam versi-versi terbaru CLA. Salah satu kekurangan terbesarnya adalah cara hal ini meminta para penari berulang kali menggunakan komputer untuk berkonsultasi dengan AI. Hal ini menumpulkan momentum atau proses kreatif yang mungkin mereka miliki, menurut nick Rothwell, seniman digital dan kolaborator CLA, dalam video 2014 tersebut. “Membawa hal tersebut ke dalam studio tari di mana para penari bergerak ke sana ke mari dan mereka telah melakukan pemanasan dan ingin melakukan sesuatu. Alih-alih mereka harus duduk di sebuah meja seperti pekerja kantoran dan mengetik pada keyboard. Hal ini memutus proses berpikir dan kreasi fisik,” ujar Rothwell, menambahkan bahwa program tersebut mungkin bisa lebih baik dalam studio musik karena para musisi lebih statis. Tarian, menurut Director X, adalah salah satu alat paling kuat dalam industri hiburan dan memiliki efek paling primitif. Suatu hari nanti AI mungkin bisa menjiplak proses tersebut, namun dia menyampaikan pada Motherboard bahwa dia tidak melihat hal ini terjadi dalam waktu dekat, terlepas dari perkembangan McGregor. Dia telah menyutradarai video musik untuk nama-nama terbesar di industri ini, termasuk Justin Bieber dan Rihanna, dan telah mengarahkan kampanye-kampanye iklan untuk brand global seperti Apple, eBay, dan Gap. Director X adalah seorang “self-professed nerd” dan pengamat jeli atas teknologi terbaru, termasuk AI dan robotik, dan dia juga paham akan proses kreatifnya. “Tubuhmu cuma bisa melakukan banyak gerakan, meski terbatas, dari suatu posisi tertentu, dan [AI] dapat mengetahui segala hal tersebut seperti mereka mengetahui cara bermain catur. Mereka bisa menelusuri seluruh kemungkinannya dengan cepat,” ujarnya. Ada perbedaan antara mengkalkulasi segala kemungkinan gerakan yang bisa dilakukan tubuh manusia dari posisi tertentu, dan benar-benar terinspirasi untuk menciptakan gerakan tari yang asyik (dan meme-worthy). AI masih kurang dalam hal itu, menurutnya. “Apakah sebuah robot dapat terinspirasi saat ini? Tidak. Suatu saat nanti? Mungkin saja.”
Iklan
Sebagaimana banyak penasehat finansial dan pedangang menggunakan AI untuk membantu proses pengambilan keputusan dalam hal menganalisis pasar saham, McGregor mengembangkan CLA untuk membantu menciptakan “solusi unik bagi permasalahan koreografi, untuk menambah proses pengambilan keputusan kreatif sang pencipta tarian.” Para penari menginput kalimat-kalimat berisi bahasa tari khusus pada AI dan komputer akan menginterpretasi gerakan-gerakan tersebut dan menerjemahkannya menjadi gerakan, dengan menginkorporasi tubuh sang penari, studio tari, dan kinesfer (area sekitar sang penari dengan meregangkan anggota badannya sembari berdiri dengan satu kaki). Proses ini teridiri dari dua sistem screening. Pertama, teks berisi instruksi penari. Kedua, manifestasi tiga dimensi dari teks menjadi gerakan. Sekalinya CLA memahami “bahasa” yang digunakan para penari untuk menginput gerakan, dia bisa menginterpretasi bahasa tersebut sebagai animasi singkat, dan menggunakan algoritma AI, hal ini mengenerasi beberapa pilihan untuk gerakan-gerakan ini. Dalam sebuah video yang diunggah pada 2014, McGregor mendeskripsikan CLA sebagai “aspirasi untuk memiliki penari ke-11 dalam studio, yang memiliki agensi, otonomi, kecerdasan dan pemikiran koreografi pada landasannya.” Meski demikian, ada kekurangan dalam versi-versi terbaru CLA. Salah satu kekurangan terbesarnya adalah cara hal ini meminta para penari berulang kali menggunakan komputer untuk berkonsultasi dengan AI. Hal ini menumpulkan momentum atau proses kreatif yang mungkin mereka miliki, menurut nick Rothwell, seniman digital dan kolaborator CLA, dalam video 2014 tersebut. “Membawa hal tersebut ke dalam studio tari di mana para penari bergerak ke sana ke mari dan mereka telah melakukan pemanasan dan ingin melakukan sesuatu. Alih-alih mereka harus duduk di sebuah meja seperti pekerja kantoran dan mengetik pada keyboard. Hal ini memutus proses berpikir dan kreasi fisik,” ujar Rothwell, menambahkan bahwa program tersebut mungkin bisa lebih baik dalam studio musik karena para musisi lebih statis. Tarian, menurut Director X, adalah salah satu alat paling kuat dalam industri hiburan dan memiliki efek paling primitif. Suatu hari nanti AI mungkin bisa menjiplak proses tersebut, namun dia menyampaikan pada Motherboard bahwa dia tidak melihat hal ini terjadi dalam waktu dekat, terlepas dari perkembangan McGregor. Dia telah menyutradarai video musik untuk nama-nama terbesar di industri ini, termasuk Justin Bieber dan Rihanna, dan telah mengarahkan kampanye-kampanye iklan untuk brand global seperti Apple, eBay, dan Gap. Director X adalah seorang “self-professed nerd” dan pengamat jeli atas teknologi terbaru, termasuk AI dan robotik, dan dia juga paham akan proses kreatifnya. “Tubuhmu cuma bisa melakukan banyak gerakan, meski terbatas, dari suatu posisi tertentu, dan [AI] dapat mengetahui segala hal tersebut seperti mereka mengetahui cara bermain catur. Mereka bisa menelusuri seluruh kemungkinannya dengan cepat,” ujarnya. Ada perbedaan antara mengkalkulasi segala kemungkinan gerakan yang bisa dilakukan tubuh manusia dari posisi tertentu, dan benar-benar terinspirasi untuk menciptakan gerakan tari yang asyik (dan meme-worthy). AI masih kurang dalam hal itu, menurutnya. “Apakah sebuah robot dapat terinspirasi saat ini? Tidak. Suatu saat nanti? Mungkin saja.”