The VICE Guide to Right Now

Sebuah Sekte Gereja Diduga Memicu Penyebaran Massif Virus Corona di Korea Selatan

Anggota gereja Shincheonji menilai sakit sebagai perbuatan dosa, karena menghalangi mereka beribadah. Karenanya satu jemaat tetap ke gereja, padahal dia positif Covid-19. Akhirnya jumlah pasien pun melonjak.
KE
oleh Koh Ewe
SG
26.2.20
Ilustrasi dua orang mengenakan masker dan tangan terangkat berdoa
(Kiri) Foto oleh ED JONES / AFP. (Kanan) Foto oleh Edwin Andrade via  Unsplash

Korea Selatan melaporkan adanya ratusan kasus penularan coronavirus (COVID-19) dalam satu akhir pekan. Sejak 21 Februari, jumlahnya meningkat cepat dari 200 menjadi 760 kasus pada Senin, 24 Februari. Saat ini, KorSel menjadi salah satu wilayah penyebaran terbesar di luar Tiongkok daratan.

Pada 23 Februari, Presiden Moon Jae-in meningkatkan peringatan terkait wabah corona dari merah ke tingkat tertinggi. Peringatan merah terakhir kali dikeluarkan 10 tahun lalu, ketika flu babi mewabah pada 2009.

Iklan

Kelompok agama Shincheonji di Daegu dikaitkan dengan penularan coronavirus di Negeri Ginseng. Dulunya bernama Temple of the Tabernacle of the Testimony, Gereja Shincheonji Yesus didirikan oleh Lee Man-hee pada 1984. Lelaki 88 tahun itu dipercaya sebagai tanda kedatangan Yesus yang kedua. Sebanyak 12 Gereja Shincheonji tersebar di seluruh wilayah Korea Selatan. Anggota jemaatnya kini mencapai 150.000 orang.

Awal pekan ini, 490 kasus coronavirus yang dilaporkan di Korea Selatan berkaitan dengan Gereja Shincheonji. Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea mengumumkan telah mengarantina dan memeriksa sekitar 9.300 anggota Shincheonji. Mereka juga membeberkan tidak dapat menjangkau beberapa ratus jemaat Shincheonji.

Menurut laporan mereka yang familiar dengan Shincheonji, anggota sekte cenderung menyembunyikan keyakinannya karena sadar sekte agama ini sangat kontroversial.

"Bagi mereka, ketahuan menganut aliran Shincheonji lebih menakutkan daripada tertular virus," kata mantan anggota Shincheonji kepada Washington Post. Itulah mengapa banyak dari mereka yang bersembunyi saat laporannya menyeruak ke permukaan.

"Mereka bisa jadi berkumpul di suatu tempat dan berdoa semuanya segera berakhir," pendeta yang mendalami Shincheonji memberi tahu New York Times.

Pasien No. 31 diyakini sebagai penyebab wabah corona terus bertambah di Korea Selatan. Dijuluki "super spreader", perempuan itu menjadi anggota Shincheonji pertama yang dinyatakan positif terinfeksi COVID-19 di Daegu. Dia juga dituduh bertanggung jawab menularkannya ke jemaat lain.

Iklan

Netizen Korea memanggilnya “ajumma (tante-tante) gila” karena dia tidak mau diperiksa coronavirus, padahal telah menunjukkan gejala mirip flu. Tak hanya itu, dia seharusnya dirawat setelah mengalami kecelakaan mobil. Bukannya masuk rawat inap, dia malah berkeliaran di luar rumah sakit. Dia makan siang di restoran prasmanan, dan mengunjungi pemandian umum.



Di saat gejala penyakitnya semakin parah, dia masih sempat pergi ke gereja dua kali. Kepada New York Times, pakar kultus agama mengutarakan perilaku ini adalah ciri khas umat Shincheonji. Bagi jemaat, "sakit adalah perbuatan dosa karena menghalangi mereka beribadah."

Gereja Shincheonji melayangkan permintaan maaf atas penularan mendadak di antara anggota kelompok, serta menimbulkan kekhawatiran. Menurut pernyataan mereka, Pasien No. 31 mengira dia cuma sakit flu biasa karena tidak habis bepergian ke luar negeri.

Gereja telah menghentikan semua aktivitasnya secara nasional.

Ketika berita penularan coronavirus di antara anggota Shincheonji pertama kali beredar, jemaat dikabarkan membentuk anggota kecil untuk beribadah. New York Times melansir mereka juga diminta merahasiakan hubungannya dengan gereja. Pihak gereja kemudian menyangkal tuduhan ini. Dalam bocoran pesan yang diedarkan secara internal, Lee mengutuk coronavirus sebagai "godaan iblis yang ingin menghancurkan pertumbuhan umat Shincheonji."

Beberapa menyalahkan praktik Shincheonji sebagai pemicu massifnya penularan coronavirus di KorSel. Berdasarkan pengakuan mantan anggota, jemaat gereja berlutut di atas bantal duduk dan berpegangan tangan ketika berdoa. Ritual ini berlangsung selama dua jam. Mereka sering berbagi makanan, dan menyanyi keras-keras tanpa masker atau kacamata. Jemaat gereja diajarkan untuk tidak takut dengan penyakit duniawi.

Melihat situasi mengerikan ini, 500.000 warga Korea Selatan menandatangani petisi online yang mendesak Presiden Moon agar "membubarkan paksa Shincheonji."

Sementara itu, sejumlah pihak memperingatkan orang-orang untuk tidak menyerang keyakinan mereka. "Ini adalah masalah kesehatan, bukan masalah agama," kata editor-in-chief media agama Law Times, Hwang Gui-hag, saat diwawancarai New York Times.

Shincheonji adalah sekte misterius yang sering menuai kontroversi di dalam negeri. Sang pendiri diklaim sebagai satu-satunya orang yang mampu menafsirkan kiasan-kiasan Alkitab. Pada 2007, sebuah film dokumenter investigasi mengklaim anggota Shincheonji menyebut Lee manusia abadi. Anggota bahkan dikabarkan putus sekolah, berhenti kerja, dan meninggalkan keluarga untuk bergabung dengan Shincheonji.

Follow Koh Ewe di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Asia