Timur Tengah

Intelijen Israel Dituding Bunuh Ilmuwan Nuklir Iran Pakai Senapan Remote Control

Iran berjanji membalas kematian Mohsen Fakhrizadeh. Insiden ini hanya berselang dua bulan setelah Israel menormalisasi hubungan diplomatik dengan tiga negara muslim.
1.12.20
Intelijen Israel Dituding Bunuh Ilmuwan Nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh Pakai Senapan Remote Control
Warga Israel mulai berkunjung ke Uni Emirat Arab setelah normalisasi hubungan diplomatik kedua negara. Foto oleh Karim SAHIB / AFP.

Pemerintah Israel memperingatkan warganya agar tidak berkunjung ke negara-negara Arab, termasuk Uni Emirat Arab, setelah pekan lalu terjadi pembunuhan terhadap ilmuwan di balik program pengembangan nuklir Iran. Negeri Zionis itu khawatir warganya akan jadi sasaran teroris di negara Arab, yang digerakkan oleh rezim Iran.

Larangan bepergian ini terasa ironis, mengingat Israel belum dua bulan meneken perjanjian normalisasi hubungan diplomatik dengan tiga negara mayoritas muslim, yakni Uni Emirat Arab, Sudan, serta Bahrain. Perjanjian dengan tiga negara itu difasilitasi Amerika Serikat. Namun akibat insiden terakhir, warga Israel kembali kehilangan kesempatan menormalisasi hubungan dengan negara-negara Arab.

Iklan

Pemicu ketengangan terbaru di Timur Tengah kali ini adalah tewasnya Mohsen Fakhrizadeh, ilmuwan yang sering disebut sebagai ‘Bapak Teknologi Nuklir Iran’, pada Jumat (25/11) lalu. Kantor berita Fars, yang dibiayai oleh pemerintah Teheran, menyatakan Fakhrizadeh diberondong senapan mesin dari sebuah mobil yang dikendalikan remote control. Saat kejadian, Fakhrizadeh baru keluar dari sebuah gedung di Kota Absard, dekat Ibu kota Teheran.

Menurut petinggi Iran, hanya Mossad—dinas intelijen luar negeri Israel—yang memiliki teknologi macam itu. Negeri Para Mullah berjanji akan membalas Israel atas kematian Fakhrizadeh.

Menteri Intelijen Israel, Eli Cohen, membantah negaranya melancarkan operasi pembunuhan terhadap Fakhrizadeh. Saat diwawancarai radio pemerintah, dia mengaku “tidak memiliki informasi sejauh ini tentang siapa yang bertanggung jawab atas insiden di Iran.”

Meski begitu, Israel memang layak masuk daftar pelaku. Sebab, selama 10 tahun terakhir, Israel berulang kali terlibat upaya pembunuhan ilmuwan Iran yang terlibat pengembangan senjata nuklir. Sebagian operasi berhasil, sangat sedikit yang gagal. Mossad sendiri sejak era konfrontasi dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan Perang Arab, konsisten menunjukkan kemampuan menempatkan agennya dalam ring 1 musuh, serta membunuh target-target penting di negara mereka sendiri. Karenanya, bukan tidak mungkin kematian Fakhrizadeh kali ini juga melibatkan Mossad.

Iklan

Pernyataan lain dari Cohen semakin memperburuk kecurigaan Iran, kalau Negeri Zionis itu betulan terlibat. Cohen menilai Iran tidak boleh dibiarkan memiliki ambisi menguasai teknologi nuklir.

“Sejujurnya, menurut saya, kematian Fakhrizadeh akan membuat Timur Tengah dan seluruh dunia jadi lebih aman,” kata Cohen. “Siapapun yang terlibat aktif dalam pembuatan senjata berhulu ledak nuklir layak mati.”

Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan negaranya tidak akan tinggal diam. “Kami akan membalas Israel di waktu yang tepat,” ujarnya dalam pidato akhir pekan lalu. Enam ilmuwan nuklir Iran tewas terbunuh sejak 2010, sebagian akibat operasi Israel.

Kedua negara makin ekstrem berkonfrontasi, sejak awal 2000-an. Kala itu, Iran mulai mengembangkan teknologi nuklir, dengan klaim pada dunia internasional bahwa tujuannya untuk pembangkit listrik saja. Temuan intelijen AS memastikan Iran coba-coba membuat senjata berhulu ledak nuklir, berujung pada sanksi ekonomi lewat PBB yang dijatuhkan berulang kali, nyaris melumpuhkan Iran.

Israel jadi pihak yang paling khawatir bila Iran menguasai nuklir, sebab Mahmoud Ahmadinejad, mantan presiden negeri mayoritas Syiah itu pernah berjanji akan menghapus “Zionisme dari peta bumi.” Israel sendiri memiliki puluhan rudal nuklir, satu-satunya di Timur Tengah, tapi tidak pernah mau mengakuinya pada Lembaga Atom PBB. Negeri Bintang Daud itu juga menolak meratifikasi berbagai perjanjian pelucutan nuklir.

Di sisi lain, Israel berusaha melokalisasi ancaman kawasan hanya dari Iran. Negara Yahudi ini ingin mulai menjalin hubungan harmonis dengan negara-negara Arab. Itu sebabnya mereka bersedia menjalankan normalisasi hubungan diplomatik, dibantu Amerika Serikat.

Arab Saudi, yang menjadi pemimpin kawasan Teluk, sebetulnya sejak lama sudah menjalin hubungan dagang dan pertukaran teknologi dengan Israel. Pekan lalu, muncul kabar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu Pangeran Muhammad Bin Salman di sebuah kota Saudi, masih dalam rangka normalisasi hubungan untuk fase selanjutnya.

Israel dan Saudi sama-sama menganggap Iran sebagai ancaman bersama. Saudi dan Iran selama dua dekade konsisten bersaing menancapkan pengaruh di Timur Tengah, sekaligus menjadi simbol Sunni vs Syiah. Karena itu, besar kemungkinan rezim Saudi mendukung langkah Israel menggelar operasi pembunuhan para ilmuwan Iran.

Di sisi lain, Iran tak bisa begitu saja diremehkan. Mereka punya banyak pasukan proxy di sekitar Saudi maupun Israel. Rezim Teheran memiliki mitra strategis di Libanon dan Yaman, yang serangan roketnya sewaktu-waktu bisa menjangkau wilayah dua musuh utama mereka.