Shit Indonesians Say

Kenapa Sih Orang Indonesia Suka Komen 'Sabar Ya' Meski Kadang Problematis?

Budaya Indonesia menurut pakar komunikasi mengedepankan konteks dan basa-basi. Tapi tak semua orang curhat atau berkeluh kesah bersedia dikomentari 'sabar ya'. Adakah respons alternatifnya?
3.12.20
Penyebab budaya orang indonesia bersabar di semua musibah
Ilustrasi via Getty Images

Selamat datang kembali di kolom Shit Indonesians Say. VICE berusaha menelisik kebiasaan verbal orang-orang di Indonesia yang tumbuh subur, diinternalisasi, dimaklumi, sampai dianggap wajar dalam pergaulan sehari-hari. Padahal kata-kata atau pertanyaan itu kadang bermasalah.


“Duh! Abis dimarahin bos nih!”

“Sabar, ya…”

“Gaji gue enggak naik, padahal udah kerja berdarah-darah.”

“Sabar, ya…”

“Sialan. Klien mendadak ganti briefing. Padahal ini udah Jumat sore.”

Iklan

“Sabar, ya…”

Hampir bisa dipastikan lebih dari 250 juta penduduk Indonesia pernah mengatakan atau mendengar “sabar, ya…” sebagai respons terhadap suatu keluh-kesah. 

Tidak jelas bagaimana frasa tersebut lahir, tetapi sudah bertahun-tahun warga di negara ini memakainya baik dalam percakapan langsung maupun lewat teks.

Apakah memang orang Indonesia menjunjung tinggi kesabaran? Menurut penelitian Gallup, sebuah lembaga survei di Amerika Serikat, negara-negara Amerika Latin mendominasi 10 besar negara yang penduduknya paling merasa positif di dunia.

Satu-satunya negara di luar kawasan itu yang masuk daftar adalah Indonesia. Ya, orang Indonesia mengaku adem-ayem alias bahagia-bahagia aja dengan kehidupan ini. Padahal, banyak keruwetan terjadi di Tanah Air. Misalnya, pada 2020, Jakarta menempati peringkat 11 dalam daftar kota dengan kemacetan paling buruk di dunia.

Di satu sisi memang kesabaran orang yang tinggal di Jakarta diuji sekali di jalanan. Aku pernah mendengar teman ngomong,”Kalau mau tua di jalan, tinggal lah di Jakarta.” 

Di sisi lain, sering juga kok kita gagal melalui ujian itu. Perhatikan berapa kali pengendara sepeda motor sudah maju melewati garis penyeberangan jalan saat lampu merah masih menyala. Bahkan tak sedikit yang nyelonong aja.

Polda Metro Jaya mencatat selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pertengahan tahun ini, ada peningkatan pelanggaran lalu lintas di Jakarta. Pengendara biasanya melawan arus, melanggar marka garis melintang di lampu merah atau melintas di bahu jalan tol.

Iklan

Kenapa mereka melakukannya? Ya, karena ingin cepat sampai tujuan. Ini sendiri kan sudah mengindikasikan bahwa kesabaran bukan jadi karakter kita sebagai orang Indonesia. Kalau enggak percaya, coba eksperimen berikut ini:

Di Bandung, ada sebuah lampu merah yang disebut paling lama di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, pengendara diwajibkan berhenti di perempatan jalan Kiaracondong-Soekarno Hatta selama 12 menit. Sedangkan durasi lampu hijau hanya 1 menit 37 detik.

Banyak warga yang kesal karena lamanya lampu merah menyala. Apakah kalau di depan mereka dipasang spanduk bertuliskan “sabar, ya…” lantas mereka jadi berhenti ngomel dan termotivasi untuk menunggu? Jangan-jangan malah mereka bakal turun dari kendaraan, lalu menyobek spanduk itu.

Contoh lain adalah ketika DPR dan pemerintah berkolaborasi mengesahkan UU Cipta Kerja, meski rakyat sudah turun ke jalan di berbagai kota untuk menolak. Bahkan, kabar Presiden Joko Widodo sudah menandatanganinya baru muncul saat hampir tengah malam.

Sikap kucing-kucingan dan tutup telinga yang tidak malu ditunjukkan oleh para pejabat negara itu tentu tidak etis jika ditanggapi: “Sabar, ya… Pemerintah dan politisi memang suka gitu.” 

VICE pun bertanya kepada dua orang yang punya penilaian berbeda terhadap kebiasaan masyarakat Indonesia ngomong “sabar, ya…”. Natasha* mengaku sering mendapat respons itu ketika curhat soal peristiwa tidak menyenangkan yang menimpanya.

Iklan

“Tapi emang kesal ya, lagi cerita ini-itu, yang ngeselin terus dijawab ‘sabar, ya…’,” kata perempuan yang bekerja sebagai karyawan swasta tersebut. Dia menyebut salah satu peristiwa pahit yang menimpanya baru-baru ini.

Dia sedang melalui proses perceraian, kemudian bercerita tentang kesedihannya kepada seorang teman. Apa komentar yang dia terima? “Sabar, ya…”. Ini membuatnya jadi malas untuk menceritakan perasaannya lagi.

“Aku sebenarnya enggak expect jawaban seperti itu. Aku bisa aja expect jawaban yang memvalidasi kekesalanku,” ungkapnya. “Menurutku, orang cerita itu juga pengin perasaannya diakuin.” Dia berpendapat seseorang yang sedang mengalami persoalan sesungguhnya sudah berusaha sabar.

“Enggak perlu dibilang sabar juga mereka udah sabar,” tegasnya. Karena terlalu sering mendengarnya, Natasha jadi beranggapan itu hanya kalimat kosong. “Jatuhnya kayak basa-basi gitu kan,” kata dia.

Tetapi, bagi Prasasti, dia pilih coba memahami mengapa ada orang-orang yang suka menanggapi suatu cerita sedih atau menyebalkan dengan ngomong “sabar, ya…”. Menurutnya, ada dua kemungkinan mengapa seseorang berkata begitu.

“Mungkin maksudnya baik ya, berusaha menguatkan,” tuturnya. Ini dialaminya ketika neneknya meninggal beberapa tahun lalu. Sejumlah orang yang menghadiri pemakaman berujar agar dia sabar, meski dia sendiri tidak memerlukannya.

“Aku enggak merasa perlu diucapin apa pun sih. Orang datang pas pemakaman keluarga itu kan udah cukup buat memahami bahwa mereka ikut belasungkawa,” jelasnya.

Menurut Devie Rahmawati, pengajar dan peneliti tetap Komunikasi Antar Budaya di Vokasi Universitas Indonesia, kebiasaan mengatakan “sabar, ya…” itu bisa dijelaskan melalui pendekatan keilmuan.

Iklan

“Orang Indonesia itu high context. Maksudnya, kita kalau ngomong tidak pernah to the point, berbeda dengan orang Barat,” tuturnya saat dihubungi VICE. Ini adalah bentuk budaya masyarakat Indonesia yang menolak konfrontasi saat ada situasi tidak menyenangkan. 

“Kita biasanya cenderung mengambil harmoni, seperti [berkata] ‘Oh, ya udah, sabar aja’. Kalau orang Barat kan ‘Ini kenapa?’, langsung dikejar,” imbuhnya. “Misalnya, tender enggak dapat, langsung ‘Ada masalah apa?’. Itu dibahas terus. Kalau di kita kan ‘Oh, ya sudah, sabar aja, memang belum rezeki’.”

Selanjutnya, Devie menjelaskan, orang Indonesia cenderung bersikap fleksibel di tengah ketidakpastian. Sementara orang di negara-negara Barat cenderung pencemas dengan tingkat stres tinggi sebab tak terbiasa menghadapi situasi mengejutkan. “Maka cerminannya kemudian adalah kata-kata ‘sabar, ya…’ itu,” urainya. 

Analisis berikutnya berkaitan dengan kecenderungan dekatnya faktor spiritual dalam kehidupan masyarakat sehari-hari di mana, misalnya, ada kepercayaan pada Hari Akhir. Ini cukup bertolak-belakang dengan mereka yang ada di benua Amerika dan Eropa. 

“Nah, kita punya orientasi jangka panjang yang cukup tinggi. Itu juga yang membuat kita bisa sabar, karena kita melihat segala sesuatu itu enggak cuma hari ini,” kata Devie. “Itu mempengaruhi alam mental kita sehingga manifestasi diksinya selalu ada kata-kata ‘sabar, ya…’.”

Kemungkinan lain frasa ini populer, karena orang-orang tidak tahu bagaimana harus merespons sebuah keadaan yang tidak mereka alami sendiri. Oleh karena itu, Prasasti merasa tidak perlu mempersoalkannya. 

“Enggak semua orang punya skill komunikasi yang bagus kan dalam pemilihan kata yang genuine. Jadi…aku terima sebagai gestur baik aja, soalnya mungkin orangnya enggak cakap atau enggak punya kalimat genuine lain.”

Kesimpulannya, walau ternyata berkata “sabar, ya…” merupakan sesuatu yang wajar dalam budaya kita, ada juga yang menganggapnya annoying atau tanpa makna. Jadi, mungkin kita kudu lebih sensitif menggunakannya agar tidak terkesan basa-basi doang.

*Nama diubah untuk melindungi privasinya.