Rusuh Gedung Capitol

Akun Twitter Trump Terancam Diblokir Permanen Akibat Penyerbuan Gedung Capitol

Twitter dan Facebook kompak menghapus konten-konten Trump, lantaran menghasut pendukungnya menyerbu parlemen. Partainya sendiri menilai Trump bertanggung jawab.
7.1.21
Akun Twitter Trump Terancam Diblokir Permanen Akibat Penyerbuan Gedung Capitol
Foto oleh Tasos Katopodis/Getty Images 

Manajemen Twitter menyatakan siap memblokir permanen akun Presiden Trump, jika terus-terusan melanggar pedoman konten. Saat ini beberapa cuitan Trump dinonaktifkan selama 12 jam dari platform Twitter, setelah massa pendukung sang presiden menyerbu dan sempat menduduki Gedung Capitol, alias parlemen Amerika Serikat, pada Rabu (6/1) sore waktu setempat.

Trump sangat aktif mengajak pendukungnya terus melawan hasil pemilu November 2020, karena dianggap penuh kecurangan. Dalam pilpres, Trump kalah telak dari lawannya Joe Biden, capres Partai Demokrat. Sejak komisi pemilihan umum memastikan Biden menang, Trump tidak henti-hentinya menebar twit-twit konspiratif, serta mengagitasi pendukungnya di medsos agar “bergerak melawan kecurangan”.

Iklan

“Jika terus melanggar pedoman integritas dan kebijakan soal hasutan kekerasan, maka akun @realDonaldTrump dapat diblokir permanen,” demikian keterangan dari akun resmi Twitter.

Selain itu, Twitter menuntut Trump menghapus cuitan-cuitan yang tidak didasarkan fakta dan provokatif. “Bila tidak kunjung dihapus, kami akan memperpanjang pemblokiran akun.”

Salah satu faksi loyalis Trump, terutama dari grup QAnon yang berisi penggemar teori konspirasi, mengikuti saran sang presiden dengan menyerbu Gedung Capitol. Di sana para senator sedang menggelar sidang pengesahan suara electoral college yang memenangkan Biden. Massa berharap, lewat taktik ini para senator terintimidasi dan mengikuti kemauan mereka menghitung ulang hasil pemilu.

Ratusan massa pendukung Trump menyerbu Gedung Capitol, membuat para senator yang sedang bersidang terpaksa dievakuasi. Sebelum insiden yang membuat satu orang tewas dan 30 lainnya ditangkap ini, Trump berulang kali mengajak pendukungnya melawan hasil pemilu.

“Kalian tidak akan bisa mengambil alih negara ini dengan bersikap pasif,” kata Trump saat menemui pendukungnya di Washington D.C, beberapa jam sebelum penyerbuan gedung Capitol. “Kalian harus menunjukkan kekuatan.”

Iklan

Video Trump menghasut loyalisnya itu segera dihapus oleh Facebook, Twitter, dan YouTube. Selain Twitter, Facebook dan Instagram turut menghapus konten bermasalah dari akun Trump. “Kami menghapus konten dari presiden karena kami meyakini pesan di dalamnya berkontribusi pada risiko berlanjutnya rangkaian kekerasan di Amerika Serikat,” kata Guy Rosen, selaku Direktur Integritas Konten Facebook.

Gedung Capitol nyaris tidak pernah diduduki massa seperti ini sepanjang sejarah Amerika Serikat, kecuali saat terjadi perang pada 1812. Akibat insiden penyerbuan dan pendudukan parlemen, Trump mulai dijauhi oleh anggota Partai Republik, yang mendukungnya selama ini.

Senator Liz Cheney, dari Partai Republik, menyebut insiden penyerbuan Gedung Capitol “akan menjadi momen kelam yang diwariskan dari era kepemimpinan Trump.”

“Presiden Trump turut bertanggung jawab atas terjadi insiden hari ini, karena dia terus mempromosikan teori konspirasi yang menghasut massa,” kata Richard Burr, senator Republikan lain dari North Carolina.

Bahkan staf Trump mengecam tindakan para pendukung sang presiden dengan menyerbu Gedung Capitol. “Para pendukung kekerasan ini tidak menghormati demokrasi,” kata Reince Preibus, Kepala Staf Kepresidenan Trump. “Tindakan mereka sangat menjijikkan.”

Mantan Presiden Barack Obama, dalam pernyataan terpisah, menyatakan insiden penyerbuan Gedung Capitol sebetulnya tidak mengagetkan. Agitasi Trump selama empat bulan terakhir memang sangat mungkin berakhir dengan kerusuhan macam ini. “Kita menipu diri sendiri kalau menganggap serangan di Gedung Capitol adalah insiden mengejutkan,” kata Obama.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News