Aku masih ingat sangat keranjingan main Facebook sekitar empat atau lima tahun lalu. Pada saat itu, aku rajin mengunggah foto ke Facebook demi ‘like’. Aku merasa senang sekali kalau postinganku banyak disukai. Aku bilang pada diri sendiri enggak akan pernah bosan main Facebook, meski lama-lama jadi malas juga karena orang tua, tante dan paman mengajakku berteman di sana. Aku pun mencari alternatif lain dan ogah buka FB lagi.
Sampai akhirnya pandemi corona memaksaku diam di rumah, dan enggak bisa berinteraksi dengan manusia lain. Aku butuh asupan dopamin seperti yang biasa aku rasakan dulu. Aku memutuskan untuk menjadi semut pada grup paling luar biasa yang pernah ada.
Seperti namanya, ‘A group where we all pretend to be ants in an ant colony’ mengajak 1,8 juta pengikutnya untuk berperan sebagai semut yang melayani Sang Ratu. Keterangan grupnya berbunyi, “Kita hanyalah semut pada grup ini. Kita memuja Sang Ratu dan melakukan apa yang biasa dilakukan semut.”
Walaupun tertutup, grup Facebook ini dengan sukacita menyambut semut baru. Kalian akan ditanyakan hal-hal seperti sudah menonton A Bug’s Life atau belum dan sebagainya. ‘Antmins’ grup ini sangat baik hati. Dia mau menerima semua manusia semut terlepas jawaban mereka apa. Peraturannya pun sangat sederhana. Kalian enggak boleh merundung atau melecehkan anggota lain, serta dilarang memposting konten eksplisit dan berbau kekerasan. Kalian wajib memanggil yang lain dengan nama semut mereka, dan selalu menggunakan huruf kapital di awal kata ‘Sang Ratu’ alias ‘The Queen’.
Kedengarannya mungkin konyol dan kurang kerjaan. Bukankah semut selama ini cuma jalan mondar-mandir dan mengerubungi makanan atau serangga mati saja? Oh tentu enggak. Kalau kalian memperhatikannya baik-baik, koloni semut melakukan banyak sekali hal. Serangga kecil ini sibuk menggotong makanan bareng-bareng, membantu kawannya yang sekarat, hingga menyelamatkan Sang Ratu yang diserang serangga lebih besar.
Anggota semut di grup ini akan mengunggah foto makanan, dan kemudian ratusan semut lainnya menyerbu untuk “MAKAN” atau “MENGANGKAT” makanan itu. Mereka hanya punya satu tujuan, yaitu melayani Sang Ratu. Para anggota semut ini sangat kooperatif dan saling mendukung satu sama lain. ‘Antmins’ sering mengadakan acara, seperti uji coba bola semut, supaya grupnya tetap menarik.
Sebagai anggota teladan, aku juga mau berbagi makanan kepada semut-semut lainnya. Aku ingin mereka mengenal hidangan pencuci mulut mithai khas India. Sayangnya enggak bisa, karena grup itu telah menerima lebih dari 100.000 postingan tertunda. ‘Antmins’ membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mempostingnya secara berurutan. Mengecewakan memang, tapi enggak apa-apa. Aku paham semut adalah makhluk yang sangat sibuk dan disiplin.
Semua anggota grup sangat ramah dan baik hati. Terlepas dari betapa anehnya berperan sebagai serangga, pandemi global membuat semua ini terasa normal. Hidup bagaikan kembali seperti sediakala, ketika kita enggak perlu memusingkan penyakit yang melumpuhkan mobilitas manusia di seluruh dunia.
Grup Facebook ini adalah tempat yang bagus untuk bersosialisasi, meski sebagai semut. Lockdown mengisolasi kita secara fisik dan emosional. Kondisi mental kita pada akhirnya ikut terpengaruh juga. Video chat mungkin bisa membuat kita tetap terhubung, tapi lama-lama terasa melelahkan. Interaksi menjadi jauh lebih mudah ketika bergabung dengan koloni semut, karena kalian di sana hanya untuk mengangkat dan mencicipi makanan. Semut makhluk yang sangat kuat dan enggak suka menilai orang lain. Kedua hal ini sangat bagus untuk kesehatan mental, jadi enggak heran kenapa anggota grupnya bisa bertambah dari 100.000 menjadi 1,8 juta orang dalam beberapa minggu saja.
Dengan adanya grup semacam ini, kita bisa melupakan sejenak kenyataan yang ada. Para anggota kerjaannya cuma meneriakkan “TOLONG”, “RAPATKAN BARISAN” dan “HIDUP RATU” sepanjang waktu. Grup ini bebas politik dan berita COVID-19. Seperti yang dijelaskan dalam pedomannya, “Kita ingin bersenang-senang, jadi tolong jangan bawa-bawa politik dan agama manusia di sini. Kami akan menghapus semua postingan dan komentar terkait COVID-19.”
Asal tahu saja, ini bukan satu-satunya grup bermain peran di Facebook. Kalian bisa berpura-pura menjadi apa saja di sana. Mau jadi Karen yang hobi komplain ke manajer? Sapi? Atau bapak-bapak paruh baya? Kalian bebas pilih sendiri. Kalian bahkan juga bisa melakukan ini di platform lain, seperti menjadi karakter game, The Sims atau boneka Barbie di Twitter dan Instagram.
Follow Satviki di Instagram.
Artikel ini pertama kali tayang di VICE India