Wawancara

Mewawancarai Pemuda Bonek Penerobos Konser Coachella, Bonnaroo, Glastonbury, Hingga Grammy

Marcus Haney sudah menonton berbagai festival musik di seluruh dunia tanpa membayar tiket, sampai terpaksa DO kuliah. Dia kini memfilmkan kisah hidupnya jadi panutan anak "jebolan konser."
Ryan Bassil
London, United Kingdom
16.4.18

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey

Marcus Haney tidak pernah membayar tiket tiap kali mengunjungi festival musik. Dia membuat wristband replika, menyelinap dari penjaga keamanan, dan menghabiskan waktu di sana dengan percaya diri. Dia akan tertangkap basah dan dipaksa keluar, tapi seringnya dia diajak ke atas panggung, nongkrong dengan band-band, dan memotret momen menarik dengan kameranya.

Dalam waktu empat tahun, Marcus telah mendatangi 50 festival musik di seluruh dunia. Dia juga berhasil berteman dengan berbagai band, mengumpat di bawah limbahan festival, dan nongkrong bersama Acid Chris. Ini bukan pekerjaan tetapnya—dia merekam video untuk stasiun TV seperti HBO dan membuat video musik. Entah bagaimana caranya dia mampu membuat film dokumenter pengalamannya selama empat tahun tersebut di sela-sela perjalanannya di sepanjang Amerika Serikat dengan menumpang dan menjadi orang paling dicari oleh fotografer musik.

Film dokumenternya berjudul No Cameras Allowed. Kamu bisa menonton trailernya berikut:

Marcus memberi tahu saya kalau trailernya sudah bocor—filmnya sudah disiarkan oleh anak-anak magang, ditonton Chris Martin dari Coldplay (yang Marcus harap akan disebarkan olehnya ke Michael Eavis), dan akibatnya film ini belum selesai. Dia menyebutkan bahwa ada beberapa nama yang hilang dari credit di video trailer dan berhak dimasukkan di situ - contohnya seperti Naked and Famous, yang menjadi temannya sejak beberapa tahun lalu dan telah memberikan lagu untuk soundtrack film dokumenternya.

Saya menghubungi Marcus untuk mencari tahu lebih banyak tentang filmnya, kehidupan sebaga bonek konser, dan keputusannya keliling dunia bareng band-band ternama.

Noisey: Gimana sih awalnya kamu menyusup ke arena konser? Festival apa yang pertama kali kamu terobos?
Marcus: Coachella 2010. Itu festival pertama yang pernah saya datangi.

Pernahkah kamu bayar tiket masuk ke suatu festival?
Enggak pernah sama sekali. Waktu ke Coachella, kami sudah membahas ini berbulan-bulan, dan gebetan saya di sekolah ada yang rencana pergi ke sana.

Jadi semua karena cewek. Klasik banget. Waktu kamu ke Coachella, apa ada orang dalam yang membantumu atau kamu menyelinap masuk?

Waktu itu saya pergi bersama teman yang namanya Adam. Kami enggak punya duit untuk beli bensin—di situ kami bertemu seorang laki-laki bernama Acid Chris di Craigslist yang bisa membantu mengisi bensin ke mobil. Kami menyelusup pukul 4 pagi pas hari Jumat, pakai baju hitam-hitam, meloncati pagar, dan tidur di bawah trailer dan toilet portable sampai festival dibuka siang hari.

Trailer dokumenter kisah hidupmu nunjukkin kalau rombonganmu mencetak tiket palsu, sampai membuat wristband mirip aslinya. Cara apalagi yang pernah kamu lakukan untuk masuk ke festival tanpa bayar?
Kami melakukan apa saja yang kami bisa, mulai dari melompati pagar, membuat wristband palsu, berpura-pura menjadi petugas keamanan, artis, pers, lari-lari ke pintu masuk truk sampai merangkak di bawah pagar.

Pengalaman paling gila macam apa yang pernah kamu alami sebagai penonton jebolan?
Pastinya yang melibatkan loncat pagar dan lari-larian. Cara paling klasik tapi beradrenalin tinggi karena kami dikejar petugas keamanan dan harus menerobos ribuan pengunjung lainnya. Pengunjung yang menonton malah menyoraki kami.

Saya pernah baca cerita tentang seorang pria yang menjebol Festival Glastonbury—katanya dia harus nunggu tiga hari biar bisa loncat pagarnya. Kamu juga mengalami yang kayak gitu?
Glastonbury memang selalu melahirkan cerita-cerita paling gila karena itu festival musik paling ketat penjagaannya. Waktu saya berhasil menyelinap masuk, saya cuma lagi sangat beruntung saja—saya masuk lewat jalan masuk truk ketika para penjaga tengah mengurusi orang lain yang berusaha menjebol Glastonbury.

Jadi kamu cuma beruntung ya.
Bahkan kalau kamu adalah headliner konser Glastonbury sekalipun, menyelinapkan orang masuk di luar daftar tamu yang dipegang EO bukan perkara gampang. Tahun lalu, saat Mumford jadu headliner, kami memasukkan seseorang dengan menyuruhnya berbaring di lantai bus Mumford. Itu pun hampir tertangkap.

Aksi macam ini paling sensasional adalah cerita ketika ada seseorang yang masuk ke Festival naik glider. Tindakan ini jelas berisiko banget karena dia datang dari AS ke Glastonbury tanpa beli tiket, bagaimana ini sebenarnya bisa terjadi?
Saya pernah punya proyek dengan HBO—meliput acara adu banteng di Spanyol. Saya di sana selama empat hari, tapi saya perpanjang jadi beberapa hari untuk jalan-jalan. Saya mengunjungi beberapa tempat, tidur di sofa orang dan nebeng mobil sampai saya bertemu seorang yang julukannya Grim-Grim. Dia nongol kok di trailernya.

Grim itu pria yang ngomong “kalau kamu bisa ketemu seseorang seperti Marcus dan dia menawarkan hal yang kedengaran paling bodoh, enggak masuk akal, enggak mungkin bisa dilaukan dan enggak logis, lakukan saja”?
Benar - Grim Grim adalah seorang pria luar biasa. Dia menjemput saya ketika nebeng mobil sampai ke Glastonbury. Kami terus menjaga silaturahmi dan Grim selalu jadi bagian dari petulangan saya. Oh ya, saya memotret cover album Mumford and Sons. Kalau kamu lihat seksama, dia ada di belakang panggung.

Wah keren juga. Di Trailer dokumentermu, saya lihat ada ceritamu sukses menjebol festival Bonnaroo, Glastobury dan Coachella. Kamu sebenarnya pernah ke Festival mana saja sih?
Yang sampai masuk ke dokumenter ini sih cuma usahakan menerobos Coachella, Bonnaroo, Glastonbury, Ultra dan Railroad Revival Tour—yang merupakan tur pertama saya. Tapi, bagian yang paling saya suka dari film itu bagian credit titlenya yang berisi rekaman saya masuk Grammy.

Ya Ampun, bagaimana caranya kamu menyelinap ke siaran langsung Grammy?
Nah itu susah. Saya harus menghabiskan waku lama untuk mendapatkan celah yang tepat buat melewati penjaga, melewati mesin pemindai dan detektor logam sampai ke lantai nominator tempat semua orang duduk. Anak-anak Mumford ada di sana, tapi saya enggak bilang bakal menyelinap masuk. Saya akhirnya nongol dengan tuksedo yang dibeli di toko loak dan mereka pun kaget. Mereka mempersilahkan saya duduk dengan mereka. Pokoknya gila dan sureal deh.

Ngomong-ngomong soal MumfordBagimana ceritanya hingga kamu bisa dekat sama para personelnya?
Mulanya sih setelah Coachella. Saya menyelinap masuk dan memoret banyak band kesukaans saya. Lalu, saya bikin film berjudul Connaroo tentang cerita saya menjebol Coachella dan Bonnaro. Film itu lantas saya titipkan pada roadie mereka dan bilang “hai, kalau kamu suka filmnya, berikan ke bandnya ya, tapi kalau kamu enggak suka, buang saja.” saya enggak berharap dia bakal nonton filmnya tapi dia menontonnya dan menitipkannya ke anak-anak Munford. Mereka kemudian memberikannya pada manajer mereka. Lalu, sang manajer meneruskannya ke Edward Sharpe. Edward Sharpe menonton film itu. Akhirnya Mumford and Sons mengundang saya ikut tur mereka.

Cuma ada satu masalah, tur kereta mereka terjadi sama dengan berbarengan dengan UAS kuiah saya. Jadi, saya harus memilih lulus kuliah atau ikut tur.

Kamu akhirnya memilih tur. Kamu kuliah apa sih?

Produksi Film. sampai sekarang, saya cuma lulusan SMA.

Dalam trailer filmmu, ada adegan kamu diusir dari Festival. Apa saja yang kamu alami saat kamu diusir keluar dari Festival dan bagaimana kamu menghadapinya?

Kalau kamu sering menyelinap, kamu bakal sering diusir. Cuma selama kamu membalik kaosmu dan pakai pendekatan yang berbeda, kamu akan baik-baik saja kok. Kejadian paling parah saya alami di Bonnaroo 2010. Saya diusir di hari minggu. Mereka menaikkan saya ke semacam pengangkut jerami dan membawa saya keluar dari lokasi festival. Saya akhirnya diturunkan 5 km dari lokasi dan ditinggal begitu saja.

Itu sih yang paling nyebelin, tapi saya juga pernah diborgol meski enggak ditahan.

Setelah berhasil menjebol Coachella, apa yang mendorong kamu terus menyelinap masuk Festival tanpa bayar? Apa karena enggak perlu keluar duit?
Oh jelas, Coachella benar-benar bikin saya terkesima. Saya benar-benar bisa bersenang-senang. Saya lantas memasang hasil jepretan saya di Facebook. Lalu seorang mutual friend yang magang di Bonnaroo melihat foto-foto itu. Dia langsung meneruskannya ke bosnya. Sang bos melihatnya dan tak lama kemudian, saya pun dihubungi mereka.

Ternyata gitu doang motivasimu.
Si bos itu bilang “kami suka foto Jay Z yang kamu bikin, boleh kami pakai untuk keperluan promosi dan semacamnya.” saya langung balas, “Boleh dong. Ini keren banget. Pakai saja.!” mereka bilang tak bisa membayar saya tapi bisa memberi saya dua karcis gratus. Satu tiket jual buat ongkos pesawat. Sayangnya, tiket gratis yang saya dapat bukan media pass. Akibatnya, saya tak boleh membawa kamera. Ujungnya, saya masuk dengan menyelinap tanpa memakai karcis gratis itu.

Jadi itu asal judul No Cameras Allowed?
Frase itu ada di mana-mana, entah itu di konser, di pinggir panggung atau tempat yang melarangmu memotret.

Di trailer kamu bicara tentang nilai moral dari menyelinap masuk. Apa kamu pernah merasa bersalah? Atau sebaliknya, kamu malah mikir ‘ah bodo amat, aku bakal terus menjebol festival dan aku enggak ngerasa itu sebagai sebuah masalah—lagian udah banyak yang beli tiket juga kan?
Yang pertama saya pikirkan malah saya enggak merugikan siapa-sapa tapi, apakah saya mencuri sesuatu? Apa saya mencuri sebuah tiket atau kesempatan Coachella buat dapat uang lebih? Jelas enggak. Coachella itu sold out. Namun, saya akhirnya mikir bagaimana saya bisa mengubah ini dan membuat saya merasa justru membantu festival-festival itu?

Trailer itu menyuguhkan sebuah film tentang seorang pria yang doyan menyelinap masuk festival. Padahal sebenarnya, No Cameras Allowed adalah cerita tentang masa akil balik bersetting di dunia musik. Ini adalah surat cinta untuk festival-festival di atas, ya pokoknya begitu. Dan film ini menunjukkan bahwa tujuan saya adalah membuat orang nonton film ini dan terpancing datang langsung ke festival-festival yang saya kunjungi. Tak ada cara untuk memindahkan sensasi nonton konser langsung ke media film.

Kamu benar. Tiap kali saya pulang Glastonbury, saya kebingungan pengalaman saya pada mereka yang belum pernah ke sana.
Memang susah dijelaskan. Saya pun enggak bisa memindahkan semua pengalaman saya ke layar. Hanya saja, setidaknya, saya bisa bikin orang datang dan merasakan nonton festival langsung sendiri. Itu tujuan saya.

Baiklah. Pertanyaan terakhir —apa festival favoritmu?
Glastonbury.

Jawaban yang bagus.
Soalnya gini. Orang Amerika pergi ke Coachella dan langsung merasa itu adalah tempat dan masa-masa paling bahagia di bumi. Cuma kalau kamu ingin merasakan sesuatu dari luar bumi, pergilah ke Glastonbury. Kamu bisa pergi ke sana selama delapan hari harus untuk merasakan momen paling keren dalam hidupmu. Ya memang sekonyol itu. Orang-orang tak banyak paham. Kamu bisa pergi ke Coachella dan yang kamu lakukan cuma nonton band manggung. Glastonbury itu seperti kisah Alice in Wonderland…

Saya sih bakal menjulukinya Disneyland bagi pecinta musik
Glastonbury memang gila sih. Saya enggak mau melakukan apa-apa yang membahayakan apapun yang terjadi Glastonbury. Saya ingin merayakannya. Kita patut bersyukur Tuhan menciptakan keluarga Eavis.

Semua foto oleh Marcus. Karya lainnya bisa dilihat di sini.


Follow Ryan, penulis artikel ini, di Twitter: @RyanBassil