Terorisme

Napi Teroris Sanggup Merencanakan Aksi Dari Dalam Lapas, Pemerintah Kecolongan

Densus 88 menyatakan Iwan Darmawan, terpidana mati kasus terorisme, mengontak jaringannya merencanakan teror di seputaran Jakarta akhir Maret lalu.
07 April 2017, 9:40am
Latihan Densus 88. Sumber foto: polri.go.id

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kembali gagal mencegah narapidana aksi terorisme berhubungan dengan jaringan lamanya. Satu terpidana mati kasus terorisme, Iwan Darmawan alias Rois, diduga merencanakan serangkaian serangan di Jakarta dari dalam sel, meski rencana tersebut berhasil digagalkan.

Sumber dari Detasemen Khusus 88 yang dikutip sejumlah media, mengatakan rencana teror tersebut berhasil digagalkan oleh timnya menyusul penangkapan delapan anggota Jamaah Ansharud Daulah (JAD) pimpinan Aman Abdurrahman akhir Maret lalu di beberapa lokasi di Jawa Barat dan Banten. Aman Abdurrahman saat ini tengah menjalani hukuman delapan tahun penjara setelah terbukti mendirikan kamp pelatihan militer di Aceh.

Salah seorang terduga teroris yang ditangkap berinisial SM, mengaku mendapat perintah dari Rois membeli 18 senapan serbu jenis M16 dan M14 di selatan Filipina.

"SM membeli 18 senapan tersebut seharga $300.000. Polisi masih menyelidiki sumber dana tersebut. Senapan serbu tersebut belum masuk ke Indonesia dan masih berada di Pulau Basilan, Filipina," ungkap sumber dari Densus.

Juru bicara Mabes Polri, Martinus Sitompul, mengatakan jaringan Rois dan SM memiliki koneksi kuat dengan para militan di selatan Filipina.

"SM pernah mengikuti pelatihan di kamp teroris di Filipina Selatan. Yang kita ketahui senjata yang digunakan saat serangan bom Thamrin juga berasal dari pembelian SM," ujar Martinus. Serangan bom Thamrin terjadi pada 14 Januari 2016 dan menimbulkan korban jiwa delapan orang termasuk pelaku serangan.

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan beberapa saat setelah serangan di Sarinah awal tahun lalu, mengakui ada kontak yang terjadi antara Rois dan Bahrun Naim yang saat ini berada di Suriah.

Rois saat ini mendekam di lapas super maksimum Batu di Nusakambangan setelah terbukti mengotaki serangan bom mobil di depan Kedubes Australia di Jakarta Selatan pada 2004. Insiden itu menewaskan sembilan orang. Rois yang juga menjadi kaki tangan petinggi Jemaah Islamiyah (JI) Dr Azahari dan Noordin M Top divonis mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada sidang September 2005.

Sebelum dipindahkan ke Nusakambangan pada 2010, Rois sempat dipenjara di Lapas Cipinang, Jakarta Timur. Dia ditempatkan di blok khusus napi terorisme yang sempat dihuni pelaku bom Bali Amrozi dan Imam Samudera.

Begitu leluasanya para narapidana terorisme untuk berkomunikasi dengan jaringannya menimbulkan pertanyaan soal pengawasan dan pengamanan. Pada 2014, terpidana terorisme dan pemimpin Jemaah Ansharut Tauhid (JAT) Abu Bakar Baasyir menyatakan baiat terbuka kepada ISIS di dalam lapas Nusakambangan. Pada foto yang tersebar luas di media, nampak Baasyir memegang bendara ISIS diapit beberapa pendukungnya.

Studi yang dilakukan oleh Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) menunjukkan bahwa penjara justru merupakan tempat pembiakan benih radikalisme. Hal ini dikarenakan beberapa faktor seperti kurangnya sipir untuk pengawasan, korupsi dan lemahnya pendidikan dan pelatihan staf lapas.

Jumlah narapidana di Indonesia mencapai lebih dari 200.000 yang tersebar di 477 lapas di Indonesia. Sementara jumlah sipir hanya sekitar 16.500 orang yang artinya satu orang sipir harus menangani 55 orang narapidana.

"Program deradikalisasi tidak akan berhasil selama masalah-masalah tersebut belum terpecahkan," ungkap Direktur IPAC Sidney Jones. Hingga Desember 2016, masih terdapat 242 napi terorisme di 70 lapas yang tersebar di Indonesia. Persoalannya, lebih dari 400 mantan narapidana kasus terorisme kini tidak diketahui keberadaannya. BNPT mengakui lebih dari 600 napi kasus terorisme sudah bebas hingga 2016. Hanya 184 orang aktivitasnya masih terpantau oleh aparat.